Kedelai dan yoghurt sudah dikenal sejak lama oleh masyarakat sebagai bahan makanan sehat. Lalu bagaimana jika kedelai dan yoghurt digabung menjadi Soy Yoghurt? Apakah manfaat yang diberikan lebih baik?

Soyo

Soyo, Yoghurt berbahan dasar susu kedelai inovasi mahasiswa FKUI

Penyakit kardiovaskular merupakan kelompok penyakit yang memengaruhi jantung dan pembuluh darah. Menurut Riskesdas 2013, penyakit jantung koroner (PJK) menjadi penyakit penyebab kematian terbanyak ke-7 di Indonesia. PJK umumnya disebabkan oleh adanya plak aterosklerosis akibat dari gangguan endotel pembuluh darah sehingga terjadi deposit kolesterol pada dinding vaskuler. Adanya plak tersebut kemudian dapat meningkatkan tekanan darah  yang pada akhirnya dapat berisiko kematian. Salah satu faktor risiko  PJK adalah kondisi tubuh dengan kadar lemak yang tidak normal dalam darah (dislipidemia), obesitas, dan adanya peradangan pada vaskuler juga berperan dalam timbulnya PJK. Modifikasi diet merupakan salah satu upaya minimalisasi faktor risiko PJK yang dimiliki terutama terkait kadar lemak dalam tubuh. Konsumsi kacang-kacangan terutama kedelai merupakan salah satu varian diet bagi PJK karena sifat kardioprotektif yang dimiliki kedelai. Peningkatan konsumsi kedelai dikaitkan dengan manajemen berat badan yang terkontrol dapat menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh.

Soy Yogurt (SOYO) merupakan produk yoghurt berbahan dasar susu kedelai yang dikembangkan oleh lima orang mahasiswa FKUI dalam rangka Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan yang didanai oleh Kemenristek Dikti pada tahun 2018. Kandungan gizi seperti saponin, lesitin, isoflavon, fitosterol, dan serat yang banyak ditemukan pada kedelai diketahui memberikan efek yang baik bagi kesehatan secara unik melalui berbagai mekanisme. Saponin dan lesitin yang terkandung dalam kedelai berperan dalam mengatur metabolisme lipid dalam tubuh, sedangkan isoflavon dan protein kedelai (soy protein) bermanfaat dalam mengurangi kadar kolesterol total dan LDL dalam darah. Kandungan asam linoleat yang dapat ditemukan pada produk ini juga memiliki efek menurunkan kolesterol. Adapun serat berperan dalam membantu melancarkan pencernaan dan menurunkan berat badan.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi 47 g protein kedelai setiap harinya menurunkan kadar kolesterol serum total sebanyak 9,3%, meningkatkan kadar HDL (high-density lipoprotein) sebanyak 2,4%, dan menurunkan LDL (low-density lipoprotein) 12,9%, dan triasilgliserol 10,5%. Efek kesehatan lain yang dapat terjadi setelah mengonsumsi kedelai adalah menurunnya tekanan darha dan gula dalam darah. Efek lain yang unik dari konsumsi yoghurt kedelai adalah sifatnya yang tidak terlalu memengaruhi kadar ghrelin sehingga tetap menjaga selera makan.

Dalam proses produksinya, produk SOYO menggunakan bahan baku yang segar dan tanpa bahan pengawet. Soyo diproduksi dan dikemas melalui proses yang baik dan steril untuk menjaga kemurnian kandungannya. Selain itu, produk SOYO tidak menggunakan perisa maupun pewarna buatan melainkan potongan buah segar asli untuk memberikan rasa dan warna pada produk. Kini, SOYO tersedia dalam dua varian rasa, mangga dan stroberi. Untuk informasi lebih lanjut dan pemesanan dapat diakses melalui laman sosial media instagram di akun @hai.soyo.

 

Referensi:

  1. Ramdath DD, Padhi EMT, Sarfaraz S, Renwick S, Duncan AM. Beyond the Cholesterol-Lowering Effect of Soy Protein: A Review of the Effects of Dietary Soy andIts Constituents on Risk Factors for Cardiovascular Diseas. Nutrients. 2017; 9: 324
  2. Taku K, Umegaki K, Sato Y, Taki Y, Endoh K, Watanabe S. Soy isoflavones lower serum total and LDL cholesterol in humans: a meta-analysis of 11 randomized controlled trials. Am J Clin Nutr. 2007; 85: 1148–56
  3. Taku K, Umegaki K, Ishimi Y, Watanabe S. Effects of extracted soy isoflavones alone on blood total and LDL cholesterol: Meta-analysis of randomized controlled trials. Ther and Clin Risk Man. 2008; 4(5): 1097-103
  4. Zhou X, Melby MK, Watanabe S. Soy Isoflavone Intake Lowers Serum LDL Cholesterol: A Meta-Analysis of 8 Randomized Controlled Trials in Humans. J Nutr. 2004; 134: 2395–400
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr