ABI, Tidak Repot Lagi Deteksi Dini Penyakit Arteri Perifer

Sumber: https://edc2.healthtap.com/ht-staging/user_answer/avatars/1402758/large/open-uri20130915-24187-174158v.jpeg?1386668869
Sumber: www.edc2.healthtap.com

Gejala PAD seringkali tidak disadari dan dianggap normal. Sebelum berakhir fatal, ABI menyediakan cara mudah, murah, dan cepat deteksi PAD.

Peripheral Artery Disease (PAD) adalah keadaan menyempitnya pembuluh arteri di luar jantung akibat akumulasi plak lemak (aterosklerosis). PAD akan membayakan penderitanya apabila dibiarkan dan tidak ditangani. Selain menyebabkan jaringan rusak hingga mati, PAD juga meningkatkan risiko penyakit jantung koroner (PJK) hingga stroke.

Kebanyakan PAD terjadi di arteri ekstremitas bawah. Rasa nyeri saat berjalan dianggap lumrah bagi kaum lanjut usia. Diantara teknik mendeteksi PAD lainnya, Ankle Brachial Index (ABI) merupakan yang termudah, termurah, dan tercepat.

Peralatan untuk mengukur ABI cukup sederhana, yaitu tensimeter, gel, dan USG Doppler berfrekuensi 8-10 Hz. Lebar manset minimal 40% lingkar ekstremitas. Apabila pasien memiliki luka terbuka pada lokasi pemasangan manset, luka tersebut harus ditutup terlebih dahulu.

Pertama-tama, dokter menjelaskan tindakan yang akan dilakukan. Setelah pasien melepas sepatu beserta kaus kakinya, pasien dipersilakan berbaring dalam posisi supinasi (telentang) di ranjang, dengan tidak ada bagian tubuh yang bergantung. Pasien dibiarkan berbaring santai selama 5-10 menit agar dapat terukur tekanan darah sesungguhnya.

Mengukur tekanan sistolik lengan cukup mudah. Manset dipasang 2 cm di atas arteri brakialis yang teraba. Permukaan transduser Doppler yang sudah dilapisi gel diposisikan dengan sudut 45o-60o terhadap permukaan kulit di sekitar arteri brakialis dan digerakkan sampai aliran darah terdengar jelas. Dengan tetap pada posisi tersebut, dokter memompa tensimeter hingga suara tidak terdengar dan menambah tekanan sebesar 20 mmHg. Secara perlahan, tekanan diturunkan dengan kecepatan 2 mmHg/s. Saat aliran darah mulai terdengar kembali, itulah tekanan sistolik pada lengan.

Pengukuran ABI pada Arteri di Lengan dan Kaki Sumber: http://www.nhlbi.nih.gov/health/health-topics/topics/pad/diagnosis
Arteri di Lengan dan Kaki pada Pengukuran ABI
Sumber: www.nhlbi.nih.gov

Tekanan sistolik di kaki diukur dengan cara yang sama, namun pada arteri tibialis posterior dan dorsalis pedis. Urutan pengukuran dapat dimulai dari lengan kanan, kaki kanan, kaki kiri, dan lengan kiri, ataupun sebaliknya. Pada keadaan normal, perbedaan tekanan sistolik lengan kanan dan kiri seharusnya < 10 mmHg. Apabila lebih dari itu, arteri aksilaris atau subklavia pasien kemungkinan mengalami stenosis (penyempitan).

ABI kanan adalah tekanan sistolik tertinggi pada kaki kanan dibagi tekanan sistolik tertinggi di antara kedua lengan. Begitu pula untuk ABI kiri. ABI tergolong normal jika hasilnya pada rentang 0,9-1,4. ABI>1,4 mengindikasikan terjadi pengerasan/kalsifikasi pembuluh darah, yang biasanya ditemukan pada pasien diabetes atau penyakit ginjal kronis. Sementara itu, ABI<0,9 mengindikasikan adanya PAD.

Kekurangan ABI dengan teknik Doppler ini yakni tidak mampu menunjukkan dimana lokasi PAD. Pemeriksaan lanjutan dengan angiografi, CT Angiografi, atau MRA dapat dilakukan untuk mengetahui lokasi spesifik PAD. renata

 

Referensi:

Share your thoughts