Ancaman Hepatitis B yang Tak Kunjung Usai

Menyoroti bahaya transmisi vertikal sebagai penyumbang utama kejadian HB

Virus hepatitis B (VHB) dikenal sebagai kuman penyebab infeksi hati tersering di Indonesia. Sesuai dengan namanya, VHB mampu memicu hepatitis B (HB) secara akut maupun kronik. Sejatinya, infeksi akut dapat pulih sempurna tanpa pengobatan, namun infeksi VHB kronik mampu memicu kerusakan hati yang cukup serius. Besarnya dampak yang ditimbulkan membuat pemerintah Indonesia terus mengusahakan eradiksi HB. Sayangnya, Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan angka prevalensi HB tertinggi di dunia. WHO melaporkan bahwa Indonesia tergolong ke dalam negara dengan tingkat endemisitas sedang hingga tinggi dengan prevalensi kasus sekitar 1,2% pada tahun 2013. Di Asia Tenggara sendiri, Indonesia menempati posisi kedua dengan kasus HB terbanyak setelah Myanmar.

Metode penularan VHB yang cukup beragam menjadi salah satu faktor tingginya angka kejadian HB. VHB dapat ditularkan melalui darah serta cairan tubuh lainnya. Kegiatan berisiko, seperti seks bebas, penggunaan narkoba suntik, pembuatan tato, pemasangan tindik, dan transfusi darah sangat mungkin menjadi media penularan VHB. Di negara berkembang seperti Indonesia, transmisi vertikal dari ibu hamil ke bayi masih menjadi penyumbang tertinggi penambahan kasus baru. Selain itu, transmisi vertikal VHB memiliki risiko lebih tinggi untuk berkembang menjadi infeksi kronik sehingga menyimpan ancaman mortalitas dan morbiditas yang lebih besar. Saat terinfeksi HB, seorang bayi memiliki risiko 90% untuk mengalami infeksi kronik seumur hidup. Apabila tidak tertangani, sebanyak 1 dari 4 anak yang menderita HB kronik akan berakhir dengan kematian akibat kerusakan hati ekstensif (sirosis) dan kanker hati. Tak hanya itu, angka kelahiran dalam negeri yang tinggi juga memegang peran krusial dalam situasi tersebut.

Sekitar 95% transmisi vertikal terjadi pada fase perinatal (persalinan) dan selebihnya terjadi selama periode intrauterin (dalam rahim). Berdasarkan penelitian, ibu yang berstatus HBsAg positif dapat menularkan VHB ke bayinya dengan tingkat kejadian mencapai 85-90%. Data tersebut menunjukkan bahwa VHB memiliki potensi transmisi vertikal tertinggi dibandingkan jenis virus hepatitis lainnya. Dengan kata lain, VHB merupakan virus hepatitis yang sangat mudah menular dan menjadi penyebab infeksi hepatitis utama pada bayi.

Demi menekan angka kejadian HB pada bayi, pemerintah Indonesia telah menyiapkan sejumlah program pencegahan transmisi dan penanggulangan yang diharapkan mampu mengeradikasi HB. Metode pencegahan tersebut, antara lain program screening antigen VHB pada ibu hamil dan juga pemberian vaksin HB sebagai profilaksis pada bayi baru lahir. Ibu hamil dengan infeksi HB yang akan bersalin juga disarankan untuk menjalani operasi Caesaria elektif demi menekan transmisi. Selain itu, bayi yang lahir dari ibu terinfeksi akan mendapatkan suntikan antibodi HB.

Setelah menilik ancaman di balik VHB dengan penularan yang tak kunjung terkontrol, seluruh pihak diharapkan mau lebih peduli dan menyukseskan upaya-upaya dalam mengeradikasi HB. Sejumlah program yang dapat didukung, antara lain screening antigen VHB rutin pada ibu hamil, vaksin VHB pada bayi baru lahir, dan menghindari faktor penularan lain, seperti seks bebas, penggunaan narkoba suntik, dan lainnya. Selain itu, gaya hidup sehat dengan tidak merokok, membatasi konsumsi alkohol, konsumsi makanan sehat, bergerak aktif, dan menghindari obesitas dapat dilakukan untuk meningkatkan imunitas. Tak hanya itu, pasien yang telah terpapar diharapkan mampu menjalani pengobatan dan kontrol rutin untuk mencegah kerusakan hati yang lebih parah. Harapannya, Indonesia mampu menekan penularan VHB demi mencapai generasi bebas HB.

Penulis:
Nada Irza Salsabila
Sandra Princessa
Wira Tirta Dwi Putra

Share your thoughts