Andal Menangani Pasien Diabetes Mellitus

Kiat menjalankan asuhan kesehatan komprehensif pada kasus epidemik abad ini

 

andal menangani diabetes

 

Diabetes melitus (DM) adalah penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan hiperglikemia. Gejala umum pada pasien diabetes antara lain poliuria, polidipsia, penurunan berat badan, dan polifagia. Kondisi hiperglikemia dalam jangka waktu lama dan tidak terkontrol dapat menyebabkan kerusakan pada hati, jantung, saraf, mata, dan pembuluh darah. Oleh karenanya, tenaga kesehatan perlu andal dalam melakukan asuhan kesehatan pada pasien DM.

Penanganan pasien DM bergantung pada tipenya. Pada DM tipe 1, penderita tidak dapat menghasilkan insulin dalam jumlah yang cukup bahkan tidak sama sekali sehingga injeksi insulin menjadi pengobatan utama bagi penderita diabetes tipe 1. Sementara pada penderita DM tipe 2, dokter biasanya akan menyarankan penanganan lain, seperti anjuran pola hidup sehat dan memberikan obat diabetes oral. Jika penanganan DM tipe 2 tersebut tidak adekuat, dapat diberikan terapi tambahan dengan insulin.

Asuhan kesehatan yang dapat dilakukan juga perlu menimbang komplikasi, contohnya komplikasi pada sistem saraf, yakni neuropati diabetes. Pada kondisi tersebut, pasien tidak dapat merasakan nyeri ketika kaki terluka. Akibatnya, luka sulit sembuh dan terus memburuk karena luka tidak mendapat nutrisi yang cukup untuk proses penyembuhan hingga menyebabkan ulkus hingga gangren. Tindakan perawatan pada kondisi ini adalah dengan melakukan perawatan luka, mengevaluasi balutan luka, dan memastikan luka tetap bersih agar mempercepat proses granulasi pada luka.

Pada pasien  yang tidak mengalami ulkus diabetes, tetapi perlu rawat inap karena glukosa darah yang tidak terkontrol, tindakan yang dilakukan adalah terus memantau kadar glukosa darah untuk memonitor apakah obat yang sudah diberikan dokter sesuai atau tidak. Dokter biasanya memberi instruksi untuk memeriksa gula darah puasa, gula darah sebelum makan, atau 2 jam setelah makan. Dari hasil tersebut, akan diberikan insulin ataupun obat antidiabetes oral.

Pada perencanaan pasien pulang, perawat wajib mengedukasi pasien untuk memastikan kondisi kulit lembap. Jika kaki rentan terluka, pasien harus selalu menggunakan pelindung kaki. Selanjutnya, pasien dan keluarga diberi edukasi mengenai cara memeriksa glukosa darah dan cara pemakaian obat yang akan dibawa pulang.

Selain itu, tenaga kesehatan wajib menjelaskan kondisi gawatdarurat yang mewajibkan pasien harus segera mendatangi layanan kesehatan, contohnya tiba-tiba mengalami penurunan kesadaran hingga pingsan, tidak dapat makan sampai melebihi 4 jam, lemas, mual, muntah, dan demam tinggi.

Selain itu, perawat perlu berkolaborasi dengan ahli gizi untuk memastikan pasien mendapatkan diet yang sesuai dengan kondisi pasien dan instruksi dokter. Perencanaan diet penting agar pasien dapat menyesuaikan jam, jenis, dan jumlah makanan yang harus dikonsumsi sehingga gula darah lebih terkontrol.

Hal penting terakhir yang perlu dilakukan oleh penderita diabetes selain mengubah gaya hidup, pola makan, dan rutin mengonsumsi obat adalah melakukan pemeriksaan HbA1c. Pemeriksaan ini bertujuan sebagai sarana kontrol terhadap keberhasilan pengobatan dengan memastikan kadar gula darah berada dalam rentang nilai yang telah ditargetkan. Kontrol gula darah yang baik menjadi kunci kualitas dan harapan hidup yang baik bagi penderita diabetes.

 

Referensi:

  1. Global action plan for the prevention and control of noncommunicable diseases 2013-2020. Geneva: World Health Organization; 2013.
  2. Resolution 66/2. Political Declaration of the High-Level Meeting of the General Assembly on the Prevention and Control of Noncommunicable Diseases. In the Sixty-sixth session of the United Nations General Assembly. New York: United Nations; 2011.
  3. Genuth S, Alberti KG, Bennett P, Buse J, Defronzo R, Kahn R, Kitzmiller J, Knowler WC, Lebovitz H, Lernmark A, Nathan D, Palmer J, Rizza R, Saudek C, Shaw J, Steffes M, Stern M, Tuomilehto J, Zimmet P: Expert Committee on the Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus2, the Expert Committee on the Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus. Follow-up report on the diagnosis of diabetes mellitus. Diabetes Care 2003; 26: 3160– 3167 [PubMed] [Google Scholar]
  4. Pradhan AD, Rifai N, Buring JE, Ridker PM: Hemoglobin A1c predicts diabetes but not cardiovascular disease in nondiabetic women. Am J Med 2007; 120: 720– 727 [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
  5. Knowler WC, Barrett-Connor E, Fowler SE, Hamman RF, Lachin JM, Walker EA, Nathan DM: Diabetes Prevention Program Research Group. Reduction in the incidence of type 2 diabetes with lifestyle intervention or metformin. N Engl J Med 2002; 346: 393– 403 [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
  6. Smith-Spangler CM, Bhattacharya J, Goldhaber-Fiebert JD. Diabetes, its treatment, and catastrophic medical spending in 35 developing countries. Diabetes Care. 2012;35:(2)319–326.
  7. WHO Mortality Database [online database]. Geneva: World Health Organization; (http://apps.who.int/healthinfo/statistics/mortality/causeofdeath_query/, accessed 04 June 2021).
  8. Ose, M. I., Utami, P. A., & Damayanti A. (2018), Efektivitas Perawatan Luka Teknik Balutan Wetdry Dan Moist Wound Healing Pada Penyembuhan Ulkus Diabetik. Journal of Borneo Holistic Health, Volume 1 No. 1 Juni 2018 hal 101-112.
  9. Guthrie, Diana W. Guthrie ,Richard A. 2002. Management of Diabetes Mellitus, A guide to the pattern approach. 6th ed. New York : Springer Publishing

 

Penulis: Mayrentina Grace R.S

Pekerjaan: Staff Perawat National Hospital Surabaya

Editor: Kareen Tayuwijaya

Share your thoughts