Terlambat mendengar harus berusuran dengan terlambat berbicara, kemampuan kognitif terganggu, hingga keterbelakangan secara sosial.

Pendengaran merupakan salah satu sumber informasi dari dunia luar bagi seorang anak. Informasi tersebut kemudian diolah sehingga anak bisa mengerti perkataan orang lain, bisa berbicara, memiliki kemampuan berpikir, dan kemudian dapat melakukan interaksi sosial. Banyak gangguan pendengaran baru terdeteksi saat orang tua mulai curiga anaknya belum dapat bicara. Sayangnya, kecurigaan itu seringkali timbul pada usia diatas 1 tahun, padahal sudah sangat terlambat. Oleh karena itu, setiap orang tua perlu memahami pentingnya skrining pendengaran.

Mendengar adalah kunci perkembangan anak

Apakah seluruh bayi perlu tes pendengaran?

Pada prinsipnya, seluruh bayi perlu dilakukan skrining. Akan tetapi, keterbatasan alat dan pusat skrining menyebabkan hanya bayi dengan risiko tinggi yang diutamakan menjalani skrining. Risiko tersebut adalah:

  1. Riwayat gangguan pendengaran di keluarga
  2. Adanya kelainan bentuk telinga, wajah, maupun kepala (seperti bibir sumbing)
  3. Infeksi TORCH pada kehamilan
  4. Skor APGAR rendah (0-3 pada menit ke-5; 0-6 pada menit ke-10). Tanyakan skor tersebut kepada dokter yang melahirkan anak Anda!
  5. Adanya kelainan genetik seperti Sindrom Down dan Sindrom Wardenburg
  6. Berat lahir kurang dari 1500 gram
  7. Dirawat di NICU lebih dari 2 hari
  8. Menggunakan ventilator setelah lahir
  9. Bayi kuning dengan kadar bilirubin yang sangat tinggi
  10. Meningitis bakteri
  11. Penggunaan obat-obatan berisiko merusak telinga lebih dari 5 hari

 

Beberapa risiko diatas mungkin tidak begitu bisa Anda pahami, sehingga penting Anda menanyakan hal tersebut pada dokter, terutama bila bayi Anda dirawat secara intensif di rumah sakit. Lantas, apabila bayi terlahir sehat-sehat saja, skrining pendengaran masih dibutuhkankah?

Pada negara maju dengan ketersediaan alat yang baik, dilakukan skrining pada semua bayi, dikenal dengan program universal newborn hearing screening, sementara di negara berkembang seperti Indonesia diutamakan hanya pada bayi berisiko, dikenal sebagai targeted newborn hearing screening. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, banyak bayi sehat tidak berisiko yang juga mengalami gangguan pendengaran, sehingga saat ini diputuskan seluruh bayi baru lahir perlu skrining pendengaran.

Bahkan di Kanada, sebelum ada program skrining, rerata gangguan pendengaran terdeteksi pada usia 5 tahun, sementara saat ini sudah mulai terdeteksi pada usia 9 bulan. Sangat berpengaruh bukan program skrining ini?

Deteksi dini bisa memperbaiki pendengaran anak agar serupa dengan anak seusianya

Kapan skrining dilakukan?

Apabila bayi Anda lahir di rumah sakit, skrining dilakukan sebelum bayi pulang, minimal 2 hari setelah kelahiran. Skrining terlalu dini tidak memberikan hasil yang optimal karena pada saluran telinga bayi masih terdapat lapisan lemak tipis sehingga hasil skriningnya akan jelek padahal mungkin pendengarannya normal. Sementara itu, bila anak Anda lahir di luar rumah sakit, skrining pendengaran perlu dilakukan dalam jangka waktu 1 bulan setelah kelahiran. Pada prinsipnya, lebih cepat lebih baik, tetapi setelah 2 hari ya!

Bagaimana skrining pendengaran dilakukan?

Anda bisa datang ke dokter umum atau dokter anak Anda dan sampaikan keinginan untuk melakukan skrining pendengaran. Pada umumnya, skrining pendengaran dilakukan oleh dokter THT atau tenaga medis yang terlatih dengan sebuah alat khusus, yakni OAE (otoacoustic emission) kemudian BERA (brain evoked response audiometry). Skrining dilakukan dengan memasukkan alat di telinga. Alat akan memancarkan gelombang, lalu gelombang tersebut dipantulkan dari rumah siput anak dan ditangkap kembali oleh alat. Dari hasil pemeriksaan, akan diketahui ambang pendengaran anak Anda dan disimpulkan apakah terjadi gangguan atau tidak.

Pada bayi baru lahir, dilakukan skrining dengan OAE. Bila hasilnya baik, pada usia 3 bulan dilakukan skrining kembali dengan BERA, baru kemudian Anda dapat yakin pendengaran anak Anda normal. Memang dibutuhkan sedikit pengorbanan waktu, namun taruhannya masa depan bukan?

Bentuk skrining pendengaran pada bayi

Kapan gangguan pendengaran perlu segera diatasi?

Periode emas perkembangan pendengaran adalah sejak usia 6 bulan hingga 2 tahun. Pada periode ini, anak juga belajar untuk berbicara. Berbagai penelitian telah mengungkapkan bahwa penanganan perlu dilakukan sebelum anak berusia 6 bulan, sehingga pada usia 3 tahun sudah memiliki kemampuan yang setara dengan anak sepantarannya.

Apa solusi gangguan pendengaran pada anak?

Dokter akan memberikan berbagai pertimbangan pada Anda. Untuk mengembalikan fungsi pendengaran, anak dapat dipasang alat bantu dengar, dan bila gangguan sangat berat, dapat dilakukan implantasi koklea (dipasang rumah siput buatan). Setelah itu anak akan menjalani program habilitasi untuk meningkatkan kemampuan mendengarnya. Sebagian besar anak yang terdeteksi dini dan menggunakan alat bantu akan mampu mendengar dengan baik dan tumbuh seperti anak pada umumnya.

Sudahkah anak Anda skrining pendengaran? Jangan tunggu anak Anda tidak bisa bicara karena itu sudah terlambat. Semoga bermanfaat!

 

Segera skrining pendengaran!

Sumber bacaan:

  1. Rundjan L, Amir I, Suwento R, Mangunatmadja I. Skrining gangguan pendengaran pada neonatus risiko tingi. Sari Pediatri. 2005; 6(4):149-54
  2. Pimperton H, Blythe H, Kreppner J, Mahon M, Peacock JL, Stevenson J, et al. The impact of universal newborn hearing screening on long-term literacy outcomes: a prospective cohort study. Arch Dis Child. 2017; 101(1):9-15
  3. Fitzpatrick EM, JoAnne W, Andree DS. Mild blateral and unilateral hearing loss in childhood: A 20-years view of hearing characteristics, and audiologic practices before and after newborn hearing screening. Ear Hearing. 2014; 35(1):10-18

 

Pemimpin Umum Media Aesculapius 2016
Direksi Media Aesculapius
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr