Asma

Definisi

Asma adalah suatu penyakit heterogen yang biasa dicirikan oleh inflamasi saluran napas kronik. Seseorang disebut menderita asma jika memiliki riwayat gejala pernapasan, seperti mengi, sesak napas, dada terasa terhimpit, dan batuk dengan intensitas dan waktu yang bervariasi. Selain itu, disertai pula dengan keterbatasan aliran udara ekspirasi yang reversibel.

Sinonim: asma bronkial, bengek

Penderita Asma

Pasien asma menggunakan inhaler. Sumber: foundation.chestnet.org

Gejala Klinis

Berikut ini adalah gejala umum asma (jika ada, meningkatkan peluang pasien menderita asma):

  • Mengi
  • Sesak napas
  • Batuk
  • Dada terasa terjepit

Keempat gejala tersebut muncul lebih dari satu dengan:

  • Gejala memburuk saat malam hari atau dini hari
  • Gejala dan intensitasnya berubah sepanjang waktu
  • Gejala dipicu oleh infeksi virus (pilek), olahraga, paparan alergen, perubahan cuaca, tertawa, atau iritan seperti asap knalpot, rokok, atau bau yang kuat.

Kemungkinan pasien mengalami asma berkurang apabila terdapat gejala-gejala berikut:

  • Batuk tanpa gejala pernapasan lain
  • Produksi dahak/sputum kronik
  • Sesak napas yang berhubungan dengan pusing atau rasa geli di perifer (parestesia)
  • Nyeri dada
  • Sesak yang dipicu olahraga dengan inspirasi yang berisik

Etiologi & Patogenesis

Kombinasi paparan lingkungan dan kerentanan genetik diduga berperan sebagai penyebab asma (Gambar 1). Pada orang yang rentan, respons imun terhadap paparan saluran napas yang umum (virus, alergen, rokok, polutan udara) dapat merangsang inflamasi dan perbaikan jaringan yang patogenik.

Proses patogenik yang terjadi selama perkembangan paru pada awal kehidupan akan mengganggu pertumbuhan dan diferensiasi saluran napas sehingga menyebabkan saluran napas yang terganggu ketika dewasa.

Patogenesis Asma

Etiologi dan patogenesis asma

Patofisiologi

Inflamasi saluran napas adalah ciri khas yang menonjol pada asma. Inflamasi tipe T2 terjadi pada > 80% anak-anak dan mayoritas orang dewasa dengan asma yang dikaitkan dengan sensitisasi terhadap alergen, seperti debu, jamur, binatang, dan serbuk sari. Sensitisasi terhadap alergen juga sering dihubungkan dengan manifestasi atopi lain, seperti dermatitis atopik (eksim), rhinokonjungtivitis alergi, dan alergi makanan.

Pada asma, penebalan saluran napas berbanding lurus dengan durasi dan keparahan penyakit. Proses remodelling meliputi peningkatan jumlah otot polos saluran napas, penebalan lamina retikular subepitelial, deposisi matriks di sepanjang dinding saluran napas, angiogenesis, proliferasi neuron, dan metaplasia mukosa epitel. Peristiwa ini diduga disebabkan oleh responsivitas berlebihan dan membentuk plak mukus yang melebar sehingga saluran napas mengecil hingga udara tidak bisa keluar dan terjadi hiperinflasi.

Diagnosis

Diagnosis asma didasari oleh identifikasi pola khas gejala pernapasan seperti mengi, sesak, dada terasa terhimpit, dan keterbatasan aliran udara ekspirasi yang bervariasi. Keterbatasan aliran udara ekspirasi yang bervariasi diperiksa dengan mengukur volume ekspirasi paksa dalam 1 detik (VEP1) menggunakan spirometri. Penting untuk mengidentifikasi polanya karena gejala pernapasan tidak selalu disebabkan oleh asma.

Asma dapat didiagnosis berdasarkan tingkat keparahannya. National Asthma Education and Prevention Program (NAEPP) membagi asma menjadi 4 kategori berdasarkan gejala harian, gejala malam hari, dan VEP1 (volume ekspirasi paksa dalam 1 detik) sebelum terapi. Klasifikasi ini juga dapat digunakan pada anak < 5 tahun, tetapi tidak termasuk penentuan VEP1 karena sulit dilakukan pada anak kecil.

Derajat Keparahan

Gejala Harian

Gejala Malam

VEP1

Intermiten

< 2 kali per minggu < 2 kali per bulan > 80%

Persisten ringan

> 2 kali per minggu (tetapi tidak setiap hari)

> 2 kali per bulan (tetapi kurang dari sekali seminggu)

> 80%

Persisten sedang

Setiap hari

> 1 kali seminggu

61—79%
Persisten berat Sepanjang hari

Sering terbangun setiap malam

< 60%

Klasifikasi asma berdasarkan tingkat keparahannya.

Tata Laksana

Farmakologi

Tata laksana asma bertujuan mengendalikan gejala dan mengurangi risiko kematian akibat asma, eksaserbasi akut, keterbatasan aliran udara persisten dan efek samping pengobatan. Terdapat 3 peran obat dalam tata laksana asma jangka panjang: pengontrol, pereda, dan tambahan.

Obat Pengontrol

Obat pengontrol digunakan untuk mengurangi inflamasi saluran napas, mengontrol gejala, dan mengurangi eksaserbasi serta penurunan fungsi paru. Untuk hasil yang terbaik, terapi pengontrol menggunakan inhaled corticosteroid (ICS) perlu dimulai segera setelah didiagnosis asma. GINA merekomendasikan tata laksana dengan ICS dosis rendah harian atau ICS-formoterol dosis rendah bagi pasien dengan gejala jarang untuk mengurangi eksaserbasi.

Selain kortikosteroid, terdapat obat pengontrol lain seperti antileukotrien (seperti montelukast dan zafirlukast) dan anti-IgE (contohnya omalizumab). Namun, obat-obat ini jarang digunakan sebagai pengontrol dan lebih dipakai sebagai lini terakhir penatalaksanaan asma.

Obat Pereda

Pereda dipakai seperlunya untuk mengatasi serangan akut asma atau eksaserbasi. Menghilangkan kebutuhan obat pereda menjadi tujuan tata laksana asma sekaligus parameter kesuksesan tata laksana asma.1 Terdapat tiga jenis obat pereda/bronkodilator: agonis β-2, antikolinergik, dan teofilin.

Agonis β-2 dan antikolinergik masing-masing memiliki jenis awitan cepat (short-acting) dan awitan lambat (long-acting). Sementara itu, teofilin sudah jarang digunakan karena kurang efektif dibandingkan agonis β-2 serta efek sampingnya lebih sering terjadi.5 Saat ini, penggunaan short-acting agonis β-2 (SABA) seperti salbutamol sendiri tidak lagi direkomendasikan GINA.

Obat Tambahan Bagi Pasien dengan Asma Berat

Obat tambahan dapat dipertimbangkan apabila gejala atau eksaserbasi menetap meski pasien telah menerima tata laksana optimal dengan obat pengontrol dosis tinggi dan perubahan faktor risiko.

Strategi Tata Laksana GINA 2019

Dalam praktik klinis, pemilihan pengobatan harus didasarkan atas penilaian setiap pasien secara individual. Hasil terapi harus selalu dimonitor dan dilakukan pengaturan dosis. Jika kontrol gejala membaik, dosis perlu diturunkan secara perlahan hingga minimal. Berikut tahapan tata laksana asma:

  • Langkah 1: Pengontrol dan pereda berupa kombinasi ICS-formoterol dosis rendah seperlunya. GINA tidak lagi merekomendasikan terapi tunggal SABA.
  • Langkah 2: Pengontrol berupa ICS-SABA harian ATAU ICS-formoterol dosis rendah seperlunya.
  • Langkah 3: Pengontrol berupa ICS-LABA dosis rendah ditambah SABA seperlunya ATAU pengontrol dan pereda berupa ICS-formoterol. Untuk anak-anak berusia 6-11 tahun, berikan ICS dosis sedang seperlunya ATAU ICS-LABA harian dosis rendah ditambah SABA seperlunya.
  • Langkah 4: Pengontrol dan pereda berupa ICS-formoterol dosis rendah ATAU ICS-LABA harian dosis sedang ditambah SABA seperlunya.
  • Langkah 5: Rujuk untuk penilaian fenotipik dan pertimbangkan terapi tambahan.

Untuk pembahasan selengkapnya dari langkah-langkah di atas, lihat panduan terkini GINA.

Tata Laksana Eksaserbasi

Pertama, evaluasi derajat keparahan eksaserbasi dilihat dari sesak, laju napas, laju nadi, saturasi oksigen, dan fungsi paru sambil memulai terapi SABA & oksigen. Selanjutnya, kirim pasien ke fasilitas gawat darurat atau ICU apabila pasien menunjukkan tanda-tanda eksaserbasi berat. Berikan SABA &  ipratroprium bromida inhalasi, oksigen, dan kortikosteroid sistemik.

Tata laksana dimulai dengan administrasi SABA berulang menggunakan pressurized metered dose inhaler (MDI), kortikosteroid oral, dan aliran oksigen terkontol. Setelah 1 jam, evaluasi respons gejala, saturasi oksigen, dan fungsi paru. Pertimbangkan pemberian magnesium sulfat jika pasien tidak merespons tata laksana awal.

Jika pasien sudah dapat dipulangkan, naikkan dosis obat pengontrol selama 2—4 minggu dan kurangi penggunaan pereda seperlunya. Teknik dan kepatuhan pasien dalam menggunakan inhaler juga perlu dicek.

Komplikasi

Asma dapat menimbulkan gangguan pernapasan lain yang lebih berat, antara lain:

  • Pneumonia
  • Atelektasis
  • Gagal napas
  • Pneumotoraks

Referensi

1. Global Initiative for Asthma. Global strategy for asthma management and prevention, 2019. Available from: www.ginasthma.org

2. Liu AH, Covar RA, Spahn JD, Sicherer SH. Childhood asthma. In: Kliegman RM, Stanton BF, Schor NF, St. Gemme III JW, Behrman RE. Nelson textbook of pediatrics. 20th ed. Philadelphia: Elsevier Saunders; 2016.

3. Holgate ST, Wenzel S, Postma DS, Weiss ST, Renz H, Sly PD. Asthma. Nat Rev Dis Primers. 2015 Sep 10;1:15025.

4. National Heart, Lung, and Blood Institute, National Asthma Education and Prevention Program. Expert Panel 3 report. Guidelines for the Diagnosis and Management of Asthma, Full Report 2007. NIHpublication, 2007; no.07–0451. Bethesda,MD: U.S. Department of Health and Human Services.

5 .Kasper D, Fauci A, Hauser S, Longo D, Jameson JL, Loscalzo J. Harrison’s principles of internal medicine. 20th ed. New York: McGraw-Hill; 2018:1963-8.

Share your thoughts

Yuk berlangganan SKMA!

Anda akan memperoleh berita dan artikel terkini mengenai isu, perkembangan, dan tips-tips seputar kedokteran dan kesehatan.

Klik link berikut untuk berlangganan SKMA digital!

http://linktr.ee/medaesculapius