Benarkah GeNose Memicu Ledakan Kasus Covid-19?

https://www.ugm.ac.id/id/berita/20745-menhub-pemerintah-akan-kawal-genose-ugm-untuk-diterapkan-di-bandara
https://www.ugm.ac.id/id/berita/20745-menhub-pemerintah-akan-kawal-genose-ugm-untuk-diterapkan-di-bandara

Banyak pihak yang menyerukan agar penggunaan GeNose sebagai salah satu metode skrining Covid-19 untuk memenuhi syarat perjalanan dihentikan untuk sementara. Hal tersebut berawal dari anggapan bahwa GeNose merupakan salah satu penyebab lonjakan kasus Covid-19 seusai masa libur lebaran 2021.

Sejak akhir bulan Juni hingga hari ini (3 Juli 2021), Indonesia sedang mengalami ledakan kasus Covid-19. Terakhir, total kasus baru pada 3 Juli 2021 mencapai 27.913 kasus, jauh meningkat dibandingkan rekor penambahan kasus tertinggi pada gelombang pertama, yaitu 14.518 kasus pada 30 Januari 2021. 

Sejak 1 April 2021, GeNose digunakan sebagai salah satu metode skrining Covid-19 untuk memenuhi syarat perjalanan dengan seluruh moda transportasi di Indonesia. Sebelumnya, GeNose hanya digunakan pada perjalanan dengan kereta api. Sehubungan dengan libur lebaran pada pertengahan Mei, penggunaan transportasi umum pun meningkat. Kebijakan pemerintah Indonesia yang melarang mudik saat lebaran malah membuat banyak pemudik berangkat mudik lebih awal. 

Tingginya angka pemudik digadang-gadang menjadi pemicu utama ledakan kasus Covid-19 saat ini. Namun, GeNose dituding berperan dalam memicu lonjakan ini karena hasilnya dinilai kurang akurat. Dikhawatirkan banyaknya pengguna jasa transportasi umum yang sebenarnya terkena Covid-19, tetapi tidak terdeteksi oleh GeNose.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri hanya menganjurkan penggunaan tes cepat antigen dan PCR untuk deteksi Covid-19. Hingga saat ini, PCR merupakan metode deteksi yang paling akurat, sedangkan tes cepat antigen memiliki sensitivitas sedikit lebih rendah, terutama bila digunakan pada orang tanpa gejala. Akurasi tes cepat antigen berbeda-beda tergantung produsennya, tetapi minimal memiliki sensitivitas sebesar 80% dan spesifisitas 97%. PCR dan rapid test antigen menggunakan metode langsung, artinya alat tes tersebut langsung mendeteksi virus yang berada pada tubuh.

Berbeda dengan rapid test antigen dan PCR, GeNose menggunakan metode tidak langsung, yaitu dengan mendeteksi volatile organic compounds yang dikeluarkan dari embusan napas orang yang terinfeksi Covid-19. Sebenarnya, tingkat akurasi GeNose cukup tinggi yaitu 93-95%, dengan sensitivitas sebesar 89-92% dan spesifisitas sebesar 95-96%. Akan tetapi, hasil ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. 

Syarat uji napas melalui GeNose adalah tidak boleh merokok serta mengonsumsi makanan dan minuman berbau menyengat dalam 30-60 menit sebelum pengujian karena dapat memengaruhi zat yang akan dideteksi oleh GeNose. Tentu saja kita tidak dapat menjamin semua orang mematuhi syarat prapemeriksaan tersebut sehingga sangat mungkin didapatkan hasil yang keliru. Dengan alasan ini, tidak sedikit ahli yang kurang merekomendasikan penggunaan GeNose sebagai alat skrining Covid-19, bahkan sejak sebelum izin pemakaian GeNose dikeluarkan.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, banyak ahli yang meminta agar keakuratan GeNose dikaji ulang seiring dengan banyaknya perbedaan antara hasil GeNose dan PCR. Namun, belum ada hasil pengujian ulang terhadap keakuratan GeNose hingga saat ini. Selama PPKM darurat yang diterapkan 3 – 20 Juli 2021, GeNose dihentikan sementara penggunaannya sebagai syarat perjalanan karena hasilnya yang kerap berbeda dengan hasil PCR ataupun tes cepat antigen.

Ledakan Covid-19 yang terjadi di Indonesia saat ini disebabkan oleh banyak hal, terutama tingginya mobilitas masyarakat pada bulan sebelumnya. GeNose yang dijadikan sebagai salah satu pilihan untuk memenuhi syarat perjalanan mungkin mempengaruhi lonjakan kasus ini karena hasilnya yang tidak cukup akurat. Hingga data pengujian akurasi GeNose muncul, ada baiknya masyarakat dan juga petugas yang berwenang menggunakan metode deteksi Covid-19 yang sudah diakui oleh WHO, yaitu tes cepat antigen dan PCR.

Referensi:

FAQ GENOSE C19

https://www.who.int/publications/i/item/diagnostic-testing-for-sars-cov-2

https://covid19.go.id/peta-sebaran-covid19

https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/lab/resources/antigen-tests-guidelines.html

Sumber informasi tentang adanya anggapan bahwa GeNose dituding menjadi salah satu pemicu lonjakan kasus COVID-19:

  • https://ekbis.sindonews.com/read/462178/33/gegara-kasus-covid-meledak-lagi-stop-pakai-genose-menggema-di-twitter-1624266416
  • https://health.grid.id/read/352755835/ahli-biologi-mokuler-hentikan-penggunaan-genose-untuk-syarat-perjalanan-kasus-covid-19-meledak-karena-penularan-di-perjalanan?page=all

Penulis: Elbert Julyan Gravianto
Editor: Albertus Raditya Danendra

Share your thoughts