Benarkah Terlalu Ketat Bisa Bikin Mandul?

Memasak dengan api yang terlalu besar (terlalu panas) tentunya berakibat makanan menjadi gosong dan tidak enak dimakan. Hal yang sama dapat terjadi pada pembentukan sperma. Ada sebuah alasan testis pria menggantung di luar rongga perut, adalah untuk menjaga suhu testis lebih rendah 4-6oC dari suhu tubuh. Mengapa? Suhu yang terlalu tinggi akan membuat proses spermatogenesis atau pembentukan sperma tidak berlangsung dengan baik.

Jika Anda termasuk orang yang suka mengenakan skinny jeans atau celana ketat lainnya, apakah Anda pernah khawatir menjadi mandul alias infertil? Konon, celana ketat bisa membuat testis panas dan merusak sperma.

Tidak ada jawaban sederhana dari pertanyaan ini. Dipublikasi dalam jurnal Human Reproduction pada 2018, sebuah studi yang dilakukan oleh tim dari Harvard di bawah pimpinan Jorge E. Chavarro mencoba mencari tahu apakah tipe celana dalam yang digunakan berpengaruh pada fungsi testis.

Fungsi testis ini dinilai berdasarkan beberapa parameter seperti volume semen, konsentrasi, total, pergerakan, bentuk, dan kerusakan DNA sperma. Hormon reproduksi juga diperiksa mengingat testis juga berfungsi menghasilkan hormon. Penelitian yang melibatkan 656 laki-laki ini melihat pemakaian beberapa tipe celana dalam antara lain boxers, jockey, bikini, brief, dan lainnya selama tiga bulan terakhir. Tipe celana yang dipakai ini dilaporkan sendiri oleh responden. Pada kasus ini, boxer dianggap sebagai celana yang tidak ketat.

Hasilnya, memang terjadi penurunan pada konsentrasi sperma, total sperma, dan total motilitas sperma pada responden yang memakai celana dalam ketat (bukan boxer). Tentunya, setelah dilakukan penyesuaian untuk beberapa variabel seperti usia dan berat badan.

Penurunan beberapa hormon juga terjadi meskipun sebagian besar tidak signifikan. Nah, di sini perlu kehati-hatian dalam interpretasi karena sebenarnya nilai yang didapat, meskipun terjadi penurunan, masih termasuk normal. Bahkan penelitian sebelumnya oleh Germaine Louis pada 2016 menunjukkan tidak ada perbedaan antara pengguna celana ketat dan tidak ketat.

Selain itu penelitian Chavarro memiliki beberapa kelemahan yang juga disampaikan dalam jurnal tersebut. Di samping desain penelitian yang tidak bisa menunjukkan hubungan sebab-akibat, penelitian juga sangat mengandalkan pelaporan mandiri penggunaan celana dalam oleh responden, pengambilan sampel darah dalam waktu yang tidak seragam, dan beberapa faktor lain yang juga meningkatkan suhu testis seperti penggunaan celana luar ketat, bahan yang digunakan, serta aktivitas lain seperti bersepeda dalam waktu lama.

Padahal tidak ada yang hanya beraktivitas dengan menggunakan celana dalam. Berkaitan dengan skinny jeans dan semacamnya, tentu belum ada penelitiannya.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan kalau kita tidak punya cukup bukti untuk menyatakan bahwa celana yang ketat dapat menyebabkan seseorang menjadi mandul. Ya, hanya saja potensi lembab dan rasa tidak nyaman bahkan jamuran tetap ada. Kembali lagi, saat ini semua sesuai selera dan fashion.

 

Referensi:

  1. Harzif AK, Santawi VPA, Wijaya S. Discrepancy in perception of infertility and attitude towards treatment options: Indonesian urban and rural area. Reprod Health. 2019 Aug 19;16(1):126. doi: 10.1186/s12978-019-0792-8. PMID: 31426818; PMCID: PMC6700767.
  2. Lidia Mínguez-Alarcón, Audrey J Gaskins, Yu-Han Chiu, Carmen Messerlian, Paige L Williams, Jennifer B Ford, Irene Souter, Russ Hauser, Jorge E Chavarro, Type of underwear worn and markers of testicular function among men attending a fertility center, Human Reproduction, Volume 33, Issue 9, September 2018, Pages 1749–1756, https://doi.org/10.1093/humrep/dey259
  3. Sapra KJ, Eisenberg ML, Kim S, Chen Z, Buck Louis GM. Choice of underwear and male fecundity in a preconception cohort of couples. Andrology. 2016 May;4(3):500-8. doi: 10.1111/andr.12163. Epub 2016 Mar 3. PMID: 26939021; PMCID: PMC6214186.

Penulis: Kevin Tjoa

 

Share your thoughts