Benarkah Vaksin AstraZeneca Dilarang Digunakan?

Simak fakta dibalik penghentian sementara penggunaan vaksin AstraZeneca di 17 negara

 

Di tengah pandemi Covid-19 yang tidak kunjung usai, vaksin hadir sebagai salah satu solusi. Sayangnya, tidak sedikit orang yang masih menolak kehadiran vaksin. Terdapat berbagai alasan penolakan vaksin, misalnya ketakutan terhadap efek samping yang ditimbulkan oleh vaksin. Baru-baru ini, beredar kabar yang menyatakan, vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca menyebabkan pembekuan darah sehingga dilarang penggunaannya di 17 negara. Apakah hal tersebut benar adanya? 

 

Pada tanggal 7 Maret 2021, Austria menyatakan bahwa dua warga negaranya meninggal dunia akibat penggumpalan darah setelah menerima vaksin AstraZeneca. Sebelum Austria, Denmark menjadi negara yang pertama kali menangguhkan izin penggunaan vaksin AstraZeneca. Menanggapi kabar tentang kemungkinan efek samping, pemerintah Denmark pun menangguhkan penggunaan vaksin selama 14 hari. Selain kedua negara tersebut, negara lain yang juga menangguhkan izin penggunaan vaksin AstraZeneca antara lain Norwegia, Bulgaria, Irlandia, Belanda, Jerman, dan masih banyak lagi. Negara-negara ini menunggu keputusan European Medicine Agency (EMA) yang sedang menyelidiki dugaan efek samping akibat vaksin tersebut.

 

Perusahaan pembuat vaksin AstraZeneca sendiri menyatakan bahwa mereka tidak menemukan keterkaitan antara kedua kejadian tersebut. Di sisi lain, para ahli berpendapat, manfaat dari vaksin ini masih lebih besar dibandingkan risikonya, mengingat terkena Covid-19 dapat menyebabkan komplikasi yang serius. Selain itu, senada dengan perusahaan pembuat vaksin tersebut, WHO menyatakan bahwa mereka tidak menemukan keterkaitan langsung antara penggunaan vaksin AstraZeneca dengan penggumpalan darah sehingga WHO masih merekomendasikan penggunaan vaksin tersebut. 

 

Vaksin AstraZeneca sendiri telah menerima izin penggunaan darurat untuk orang berusia lebih dari 18 tahun pada lebih dari 70 negara. Vaksin ini memiliki efikasi sebesar 63,09% untuk mencegah Covid-19 bergejala. Angka tersebut dapat meningkat bila diberikan dosis kedua vaksin dengan interval 8-12 minggu. Vaksin ini pun disarankan diberikan pada orang-orang dengan penyakit komorbid  seperti obesitas, penyakit kardiovaskular, penyakit saluran napas, dan diabetes karena populasi tersebut lebih rentan mengalami komplikasi Covid-19 yang lebih berat. Mereka yang memiliki imunitas lemah atau imunodefisiensi harus berkonsultasi terlebih dahulu sebelum menerima suntikan vaksin. 

 

Jadi, dapat disimpulkan bahwa vaksin AstraZeneca tidak dilarang penggunaannya di beberapa negara Eropa, tetapi hanya ditangguhkan sambil menunggu informasi resmi dari EMA. Hingga saat ini, WHO sendiri masih merekomendasikan penggunaan vaksin AstraZeneca karena tidak menemukan hubungan antara vaksinasi dan penggumpalan darah. Di sisi lain, efikasi vaksin tersebut berada di atas ambang batas minimal WHO untuk vaksin sehingga dinyatakan masih bermanfaat.

Referensi

  1. https://www.kominfo.go.id/content/detail/33437/hoaks-17-negara-melarang-penggunaan-vaksin-astrazeneca/0/laporan_isu_hoaks
  2. https://www.businessinsider.com/astrazeneca-covid-vaccine-countries-suspend-denmark-thailand-batch-blood-clots-2021-3?r=US&IR=T 
  3. https://www.who.int/news-room/feature-stories/detail/the-oxford-astrazeneca-covid-19-vaccine-what-you-need-to-know?gclid=Cj0KCQjw0oCDBhCPARIsAII3C_GZ4OG-ny1by_m2_8AQPK4C3eATkQCm3AI–Jqe7H8j43AXBf4eCXUaAsOsEALw_wcB
  4. https://www.thelancet.com/action/showPdf?pii=S0140-6736%2820%2932623-4

Penulis: Stella Kristi Triastari
Editor: Alexander Rafael Satyadharma

Share your thoughts