Benarkah Vaksin Covid-19 merupakan Dalang di Balik Maraknya Kasus Infeksi HIV?

Dari sekian banyak rute penyebaran HIV, apakah vaksin Covid-19 salah satunya?

Belakangan ini beredar sebuah narasi di jejaring media sosial Twitter yang menyatakan bahwa tingginya angka kejadian kasus positif human immunodeficiency virus (HIV) di Kota Bandung, Jawa Barat merupakan buah dari program vaksinasi Covid-19 yang digalakkan selama hampir dua tahun terakhir. Narasi ini berasal dari salah seorang pengguna Twitter sebagai tanggapan atas laporan dari Ketua Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung, Sis Silvia Dewi. Nyatanya, narasi tersebut tidaklah benar. Lantas, bagaimana kasus HIV bisa terjadi dan bagaimana hubungannya dengan vaksinasi Covid-19?

Mengenal HIV

Human immunodeficiency virus (HIV) adalah jenis virus yang menyerang sistem imun tubuh. HIV. Jika seseorang terinfeksi HIV, gejala awal yang dirasakan serupa dengan flu, seperti demam, sakit tenggorokan, nyeri otot, kedinginan, lemas, dan sebagainya. Bahkan, pada beberapa kasus infeksi HIV tidak menimbulkan gejala sama sekali. Apabila infeksi HIV tidak segera ditangani, maka HIV dapat menyebabkan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). HIV dapat ditularkan melalui kontak dengan cairan tubuh, seperti darah, ASI, atau cairan organ reproduksi, namun tidak dengan air liur. Maka dari itu, umumnya HIV ditularkan melalui hubungan seksual, transmisi dari ibu yang sedang hamil ke janinnya, penggunaan jarum suntik bersama atau bekas (penggunaan narkoba suntik, tato, prosedur tindik, dll.).

Cara kerja vaksin Covid-19 dan hubungannya dengan immunodefisiensi 

Vaksin Covid-19 bekerja membangun imunitas tubuh terhadap virus SARS-CoV-2 dengan cara “memperkenalkan” sebagian kecil komponen virus tersebut (mRNA, protein spike) kepada sistem imun tubuh. Sebagai respon, sistem imun akan membentuk antibody terhadap SARS-CoV-2 yang kemudian dapat memberikan perlindungan bagi tubuh apabila terjadi infeksi di kemudian hari. Dengan demikian, tidak ada hubungan antara administrasi vaksin Covid-19 dengan kejadian infeksi HIV. Vaksin Covid-19 juga tidak menimbulkan immunodefisiensi—seperti halnya infeksi HIV—karena vaksin tidak mengurangi imun sel tubuh. Sebaliknya, vaksin menstimulasi sel imun untuk aktif membelah dan menghasilkan antibodi sebagai pertahanan tubuh.

Referensi:

  1. Satuan Tugas Penanganan COVID-19. Awas hoaks: maraknya kasus HIV di Bandung akibat vaksin COVID-19 [Internet]. Jakarta: Satuan Tugas Penanganan COVID-19; 2022 Sep 7 [cited 2022 Sep 14]. Available from: https://covid19.go.id/artikel/2022/09/07/awas-hoaks-maraknya-kasus-hiv-di-bandung-akibat-vaksin-covid-19 
  2. Centers for Disease Control and Prevention. HIV: about HIV [Internet]. Atlanta: CDC; 2022 Jun 30 [cited 2022 Sep 14]. Available from: https://www.cdc.gov/hiv/basics/whatishiv.html 
  3. Centers for Disease Control and Prevention. HIV: ways HIV can be transmitted [Internet]. Atlanta: CDC; 2022 Mar 4 [cited 2022 Sep 14]. Available from: https://www.cdc.gov/hiv/basics/hiv-transmission/ways-people-get-hiv.html 
  4. Centers for Disease Control and Prevention. HIV: HIV and COVID-19 [Internet]. Atlanta: CDC; 2022 Jul 12 [cited 2022 Sep 14]. Available from: https://www.cdc.gov/hiv/basics/covid-19.html
  5. Reuters Fact Check. Fact check-COVID-19 vaccines do not cause HIV or AIDS [Internet]. London: Reuters; 2022 Feb 21 [cited 2022 Sep 14]. Available from: https://www.reuters.com/article/factcheck-vaccines-hiv-idUSL1N2UW10H

Share your thoughts

Yuk berlangganan SKMA!

Anda akan memperoleh berita dan artikel terkini mengenai isu, perkembangan, dan tips-tips seputar kedokteran dan kesehatan.

Klik link berikut untuk berlangganan SKMA digital!

http://linktr.ee/medaesculapius