Cegah Stunting di Tengah Pandemi

Peningkatan imunitas anak dengan pencegahan stunting.

Stunting merupakan persoalan yang tak kunjung selesai di Indonesia. Tak hanya sekadar memicu kependekan, stunting juga dapat menurunkan IQ sehingga kualitas sumber daya manusia sebagai generasi penerus bangsa juga menurun. Situasi pandemi Covid-19 berhasil menyita perhatian publik dan tenaga kesehatan Indonesia sehingga usaha menuntaskan stunting rentan terabaikan. Padahal, stunting merupakan salah satu faktor risiko yang berpengaruh pada penyakit Covid-19. Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpA(K) pada seminar daring CIPRIME yang dimoderatori oleh dr. Klara Yuliarti, SpA(K). Mengusung tema “Stunting Management in Covid-19 Pandemic Era”, seminar ini diadakan pada Sabtu, 14 November 2020 secara daring melalui aplikasi Zoom.

Damayanti membuka sesi seminar dengan menyamakan persepsi seluruh peserta terhadap stunting. Kemudian, beliau menjelaskan mulai dari pengertian, ciri-ciri, hingga cara mengklasifikasi seorang anak tergolong sebagai stunted atau tidak. “Kita tidak boleh
mengatakan anak itu stunted dengan hanya membanding-bandingkan,” jelas Damayanti. Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dan dilakukan dalam menegakkan stunted atau tidaknya seorang anak. Pertama, menilai perawakan pasien. Kedua, melakukan pengukuran dengan cara yang benar sesuai standar. Ketiga, mencatat hasil pengukuran tersebut dalam grafik pertumbuhan WHO dengan interpretasi stunted jika hasil pengukuran ada di bawah garis -2 SD dan severely stunted jika hasil pengukuran ada di bawah garis -3 SD.

“Perawakan pendek itu ada diagnosis bandingnya, ada yang normal variant ada yang patologis,” ucap Damayanti. Perawakan pendek yang dianggap bukan kelainan adalah pasien dari keluarga berperawakan pendek (familial short stature). Kondisi patologis yang menyebabkan perawakan pendek meliputi skeletal dysplasia dan penyakit Rickets. Maka dari itu, dalam menegakkan stunting perlu diperhatikan juga potensi genetik, laju pertumbuhan, dan bone age dari anak tersebut.

Penyebab utama dari stunting adalah malnutrisi kronik. Kondisi ini diawali dengan penurunan berat badan (weight faltering) dan seiring dengan berjalannya waktu dapat mengganggu tumbuh kembang anak. “Kalau dia sudah masuk stunting, maka akan terjadi development delay, depressed immune function, defects of cognitive functions, dan impaired fat oxidation,” tegas Damayanti. Penurunan imunitas inilah yang menjadi kekhawatiran tersendiri di era pandemi Covid-19. Risiko kematian yang ditimbulkan pun berbeda-beda tergantung dengan tahapan malnutrisi yang terjadi. Anak dengan malnutrisi berat yang terinfeksi Covid-19 memiliki risiko kematian hingga 50%. Peningkatan angka mortalitas tersebut disebabkan oleh imunitas anak yang terganggu.

Pencegahan stunting dapat dilakukan dengan deteksi dini weight faltering. “Dengan weight faltering dideteksi, kemudian ditangani dengan segera, maka akan menghentikan perjalanan penyakit tersebut sampai menjadi stunting,” jelas Damayanti. Setelah mendeteksi kondisi weight faltering, hal yang selanjutnya dilakukan adalah memperbaiki manajemen laktasi. Apabila tidak terjadi penambahan berat badan maka dapat diberikan ASI donor yang aman dengan pemberian susu formula untuk anak berusia di bawah empat bulan. Untuk anak berusia lebih dari empat bulan, pemberian ASI saja tidak cukup sehingga dapat diberikan MPASI. Protein hewani yang mengandung asam amino esensial merupakan pilihan MPASI yang paling tepat. Penerapan pola pemberian makan yang benar dapat mencegah stunting dan meningkatkan kekebalan tubuh anak.

Share your thoughts

Yuk berlangganan SKMA!

Anda akan memperoleh berita dan artikel terkini mengenai isu, perkembangan, dan tips-tips seputar kedokteran dan kesehatan.

Klik link berikut untuk berlangganan SKMA digital!

http://linktr.ee/medaesculapius