Kasus Demam Berdarah Terus Meningkat: Apakah Kita Lalai?

demam berdarah di Indonesia

demam berdarah di Indonesia

Demam berdarah dengue (DBD) adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Secara global, penyakit ini merenggut nyawa lebih dari seratus juta jiwa per tahun. Meskipun dapat ditemukan di berbagai belahan dunia, risiko infeksi tertinggi ditemukan di negara-negara Asia. Menurut WHO, telah terjadi peningkatan kasus yang cukup signifikan di tahun 2020. Saat ini pun, virus tersebut senantiasa menimbulkan kasus baru di daerah Brazil, Colombia, Fiji, Kenya, Paraguay, dan Peru. 

Sebagai negara beriklim tropis, Indonesia memiliki dua musim, yakni musim hujan dan kemarau, sementara masa peralihan di antara kedua musim tersebut disebut sebagai musim pancaroba. Adanya musim-musim tersebut menempatkan Indonesia pada posisi yang berisiko terhadap penyakit DBD mengingat temperatur merupakan salah satu faktor utama distribusi geografis nyamuk Aedes aegypti. Pada musim hujan, insidensi penyakit DBD meningkat karena adanya peningkatan kelembapan udara. Sementara musim pancaroba menjadi faktor utama perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti karena adanya perubahan cuaca yang cukup ekstrem. 

Oleh karena itu, tidak heran apabila DBD menjadi salah satu penyumbang masalah kesehatan utama di Indonesia dan tidak henti-hentinya meresahkan masyarakat. Sejak bulan Januari hingga Oktober 2021, dilaporkan terdapat 2.170 kasus DBD di daerah Jawa Tengah sendiri, dan karena berkomplikasi menjadi kematian, 56 di antaranya tidak terselamatkan. Hal ini mencerminkan belum adanya perbaikan pencegahan DBD di Indonesia. Padahal, Indonesia tercatat sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi se-Asia Tenggara. 

Mirisnya, wabah DBD seakan diabaikan akibat penanganan pandemi Covid-19 yang membutuhkan perhatian yang lebih banyak. Pandemi ini memang memberikan beban yang cukup besar pada sistem manajemen kesehatan di seluruh dunia. Direktur Pusat Kedokteran Tropis, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM, Riris Andono, menyebutkan bahwa layanan kasus DBD terpaksa dikurangi demi mengamati lonjakan kasus COVID. Tidak hanya itu, karena kemiripan gejala DBD dan Covid-19 seperti peningkatan suhu tubuh, diagnosis DBD sering kali menjadi semakin sulit. 

Peningkatan angka DBD harus diwaspadai dengan benar dan tanggap. Pertama-tama, kita harus mengenal tanda dan gejala DBD yang diawali demam yang mencapai suhu 40°C selama 2–7 hari. Kondisi ini akan diikuti oleh sakit kepala, mual dan muntah, tenggorokan kering, mialgia, dan atralgia. Apabila seseorang mencurigai dirinya terkena penyakit demam berdarah, ia dapat segera datang ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pertolongan segera. 

Meskipun DBD dapat dikenali dan diobati, perlu diingat bahwa upaya pencegahan tetap lebih baik daripada mengobati penyakit. Indonesia adalah negara beriklim tropis sehingga dibutuhkan upaya lebih untuk mengatasi distribusi nyamuk dan risiko infeksi. Untuk itu, masyarakat disarankan agar mengikuti upaya pencegahan DBD dengan gerakan 3M Plus yang telah dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Indonesia. Gerakan tersebut terdiri atas 3 langkah mudah untuk mencegah infeksi demam berdarah. 

Langkah pertama adalah menguras tempat penampungan air, seperti bak mandi, kendi, atau drum. Tindakan ini dilakukan untuk menghentikan siklus hidup nyamuk demam berdarah yang dapat bertahan hidup di genangan air selama 6 bulan. Langkah selanjutnya adalah menutup rapat tempat penampungan air, dan langkah terakhir adalah kembali memanfaatkan barang bekas agar tidak menjadi tempat perkembangan nyamuk. Adapun ‘plus’ merujuk kepada upaya pencegahan DBD tambahan, seperti pemakaian obat antinyamuk, perbaikan saluran air yang tidak lancar, penempatan pakaian bekas pakai pada wadah yang tertutup, pemeliharaan ventilasi ruangan yang baik, dan lain-lain. 

Sebagai penutup, pencegahan, kontrol, dan manajemen DBD membutuhkan dukungan setiap lapisan masyarakat. Dengan menerapkan prosedur 3M Plus, perkembangbiakan nyamuk demam berdarah dapat dihambat dan risiko peningkatan kasus dapat dicegah.

Referensi: 

  1. Schaefer TJ, Panda PK, Wolford RW. Dengue fever [Internet]. Treasure Island: StatPearls Publishing; [updated 2021 Jul 11, cited 2021 Oct 26]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430732/
  2. Author unknown. Dengue and severe dengue [Internet]. Place unknown: World health organization; date unknown [cited 2021 Oct 26]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/dengue-and-severe-dengue
  3. Prabowo AG. Kasus DBD hampir jadi KLB-Dinkes Bangka pantau kenaikan kasus tahun 2021 [Internet]. Place unknown: Tribun News; 2021 Okt 25 [cited 2021 Oct 26]. Available from: https://bangka.tribunnews.com/2021/10/25/kasus-dbd-hampir-jadi-klb-dinkes-bangka-pantau-kenaikan-kasus-tahun-2021 
  4. Ramadhan M. Gejala demam berdarah yang perlu diwaspadai [Internet]. Place unknown: Kompas.com; 2021 Okt 11 [cited 2021 Oct 26]. Available from: https://www.kompas.com/wiken/read/2021/10/11/213600481/gejala-demam-berdarah-yang-perlu-diwaspadai?page=all
  5. Author unknown. Upaya pencegahan DBD dengan 3M plus [Internet]. Place unknown: Kementrian Kesehatan Indonesia; 2019 Jun 13 [cited 2021 Oct 26]. Available from: https://promkes.kemkes.go.id/upaya-pencegahan-dbd-dengan-3m-plus

Penulis: Rheina Tamara Tarigan
Editor: Izzati Diyanah

demam berdarah di Indonesia demam berdarah di Indonesia demam berdarah di Indonesia

Share your thoughts

Yuk berlangganan SKMA!

Anda akan memperoleh berita dan artikel terkini mengenai isu, perkembangan, dan tips-tips seputar kedokteran dan kesehatan.

Klik link berikut untuk berlangganan SKMA digital!

http://linktr.ee/medaesculapius