Demam Berdarah Dengue

Definisi & Informasi Umum

Definisi

Demam dengue adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus RNA famili Flavivididae. Virus tersebut disebarkan oleh nyamuk Aedes.

Sinonim: Demam Berdarah

Klasifikasi

WHO mengklasifikasikan demam berdarah menjadi dua kelompok, yaitu demam berdarah tanpa komplikasi (uncomplicated dengue fever) dan demam berdarah dengue berat (severe dengue fever). Demam berdarah disebut berat apabila sudah terjadi pendarahan yang bermakna, gangguan organ, dan kebocoran plasma.

Sementara itu, klasifikasi WHO pada tahun 1997 membagi penyakit dengue menjadi demam dengue (dengue fever/DF) dan demam berdarah dengue (dengue haemorrhagic fever/DHF). DHF selanjutnya dibagi lagi menurut tingkat keparahannya, yaitu tingkat I-IV:

  • Tingkat I adalah adanya memar ringan atau tes tourniquet positif.
  • Tingkat II adalah demam berdarah dengan pendarahan spontan pada kulit dan tempat lain.
  • Tingkat III adalah demam berdarah dengan syok.
  • Tingkat IV adalah demam berdarah dengan syok berat disertai gangguan hemodinamik.

Epidemiologi

Diperkirakan sebanyak 390 juta infeksi virus dengue terjadi setiap tahun. Di antaranya, 96 juta orang menunjukkan manifestasi klinis. Studi prevalensi lain memperkirakan bahwa 3,9 miliar orang berisiko terkena infeksi virus dengue. Walaupun risiko infeksi ada pada 128 negara, 70% beban risiko infeksi ditanggung oleh negara-negara di benua Asia.

Berdasarkan data Infodatin yang diterbitkan pada tahun 2017, angka insidensi demam berdarah di Indonesia pada tahun 2017 (78,85 kasus per 100.000 penduduk) jauh lebih rendah daripada angka insidensi demam berdarah pada tahun 2016 (26,12 kasus per 100.000 penduduk).

Bali menjadi provinsi yang memiliki angka insidensi terbesar (105,95 kasus per 100.000 penduduk), sementara Maluku Utara merupakan provinsi dengan angka insidensi terkecil (3,06 kasus per 100.000 penduduk). DKI Jakarta sebagai ibukota negara memiliki angka insidensi 32,29 kasus per 100.000 penduduk.

Selain angka insidensi, Infodatin juga mempublikasikan informasi mengenai angka kematian atau case fatality rate (CFR) demam berdarah. Angka kematiankasus demam berdarah di Indonesia adalah 0,72%. Provinsi Gorontalo memiliki angka kematian tertinggi (2,18%) sementara Provinsi Maluku Utara, Maluku, Sulawesi Barat, dan Kepulauan Bangka Belitung memiliki angka kematian terendah (0,00%).

Tanda & Gejala

Menurut definisi kasus WHO 2011, seseorang dinyatakan terinfeksi dengan infeksi virus dengue apabila ia mengalami demam di atas 38ºC dan dua tanda atau gejala sebagai berikut:

  • Sakit kepala
  • Nyeri di daerah belakang mata (retroorbita)
  • Myalgia (nyeri otot)
  • Nyeri sendi (athralgia)
  • Kemerahan pada kulit
  • Pendarahan, ditandai dengan bintik-bintik merah/ungu di kulit (petekie), pendarahan dari hidung (epistaksis), gusi berdarah, hematemesis (muntah darah), melena (BAB hitam), dan tes tourniquet positif.
  • Leukopenia (jumlah sel darah putih rendah, <5.000 sel/mm3)
  • Trombositopenia (jumlah trombosit <150.000 sel/mm3)
  • Hematokrit meningkat 5-10%

Demam berdarah tidak memiliki ciri-ciri klinik patognomonik (khas) yang membedakannya dari penyakit terkait demam lainnya.

Etiologi & Patogenesis

Demam berdarah disebabkan oleh virus dengue yang ditransmisikan dari manusia ke manusia lain oleh nyamuk Aedes betina.

Peristiwa yang terjadi setelah injeksi virus dengue oleh nyamuk masih tidak jelas.7 Patogenesis demam berdarah yang diketahui adalah sebagai berikut:

  1. Virus dilepaskan oleh nyamuk ketika menghisap darah manusia.
  2. Virus akan masuk ke hematopoietic origin cells.
  3. Virus mengalami translasi, replikasi, dan translasi untuk membentuk partikel virus yang baru.
  4. Partikel antigen dan virus baru akan masuk ke sel dendritik, makrofag, dan sel T.
  5. Sel dendritik, makrofag, dan sel T akan melepaskan sitokin.
  6. Sitokin akan meningkatkan permeabilitas pembuluh darah terhadap virus dengue.
  7. Virus dengue akan masuk ke pembuluh darah dan menimbulkan manifestasi klinis pada orang yang terinfeksi.
  8. Virus juga masuk ke nodus limfe dan tersebar melalui sistem limfatik.

Patogenesis Demam Berdarah Dengue

Patofisiologi

Virus dengue adalah virus berukuran 50 nm dengan tiga protein struktural dan tujuh protein nonstruktural, kapsul lipid, dan satu untai asam ribonukleat. Pada 75% kasus, infeksi tidak menimbulkan gejala apapun. Periode inkubasi penyakit biasanya sekitar 4-7 hari, namun pada kasus tertentu dapat mencapai 10 hari.

Virus dapat bereplikasi pada sel endotel, hati, makrofag jaringan, dan sumsum tulang. Replikasi dan infeksi pada sel endotel menyebabkan apoptosis. Pada hepatosit dan sel Kupffer, replikasi virus menyebabkan nekrosis dan/atau apoptosis pada hati. Replikasi pada makrofag jaringan menyebabkan apoptosis. Sementara itu, replikasi pada sel stromal sumsum tulang menyebabkan penghambatan hemopoiesis atau pembuatan sel darah baru.

Virus juga dapat menstimulasi sel T dan produksi antibodi. Replikasi dan stimulasi sel T serta antibodi oleh virus menyebabkan disfungsi sel endotel dan gangguan koagulasi darah.

Patofisiologi Demam Berdarah Dengue

Diagnosis

Demam berdarah dapat berprogresi dari uncomplicated dengue fever menjadi severe dengue fever. Dokter dapat menilai tingkat keparahan demam berdarah dengan bagan di bawah ini.

Klasifikasi Demam Berdarah Dengue

Untuk menegakkan diagnosis, dokter mencari biomarker yang berupa virus (dengan mengisolasi virus pada kultur atau nyamuk, atau dengan mendeteksi langsung RNA genomik virus), produk virus (dengan mendeteksi protein nonstruktural 1 [NS1] yang diekspresikan oleh virus), atau respons imun inang terhadap infeksi virus (melalui pengukuran imunoglobulin M [IgM] dan imunoglobulin G [IgG] spesifik virus).

Metode diagnosis laboratorium dalam mendeteksi infeksi dengue dirangkum di dalam tabel berikut.

Diagnosis Demam Berdarah Dengue

Algoritma Demam Berdarah Dengue

S1 adalah sampel yang diambil dari penderita demam berdarah dengue akut. S2 adalah sampel yang diambil dari penderita demam berdarah dengue yang hampir pulih/convalescent. Hasil pemeriksaan IgG S1 dan/atau S2 yang menunjukkan hasil negatif mengindikasikan infeksi dengue primer. Infeksi dengue sekunder ditunjukkan dari hasil negatif pada pemeriksaan yang sama.

Tata Laksana

Pada pasien dengan demam berdarah dengue, volume cairan tubuh harus selalu dipantau dan dijaga. Pasien dapat diberikan oral rehydration solution (ORS), jus buah, atau cairan lain yang mengandung elektrolit dan gula untuk menggantikan cairan yang hilang karena demam dan muntah-muntah. Perlu diperhatikan bahwa cairan yang mengandung glukosa dapat memicu hiperglikemia dan diabetes melitus.

Tidak ada penanganan spesifik untuk demam berdarah. Penanganan ditujukan untuk mengontrol gejala berupa nyeri otot dan demam. Asetaminofen atau parasetamol adalah obat yang paling baik untuk menangani gejala-gejala tersebut.

Penggunaan OAINS (Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid) seperti aspirin dan ibuprofen harus dihindari, karena obat-obatan ini bekerja dengan menipiskan sel darah. Hal ini memperburuk prognosis penderita demam berdarah dengan risiko pendarahan.

Vaksin demam berdarah yang ditemukan pertama kali adalah Dengvaxia® (CYD-TDV). Namun, analisis pada tahun 2017 menyatakan bahwa pemberian vaksin tersebut pada orang yang belum pernah menderita demam berdarah sebelumnya memberikan risiko lebih tinggi untuk terinfeksi. Oleh karena itu, vaksin ini ditujukan pada orang yang tinggal di daerah endemik, berusia 9-45 tahun, dan telah mengalami setidaknya satu infeksi virus dengue sebelumnya.

Pencegahan demam berdarah dilakukan dengan:

  • Pencegahan perkembangbiakan nyamuk
  • Perlindungan diri dari gigitan nyamuk
  • Pemberdayaan masyarakat, dengan edukasi dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam mengontrol vektor demam berdarah
  • Penyemprotan insektisida
  • Pemantauan aktif vektor demam berdarah

Komplikasi & Prognosis

Tingkat kematian demam berdarah parah adalah 0,8-2,5%. Anak-anak berusia 1-5 tahun empat kali lebih berisiko terhadap kematian akibat demam berdarah akibat anak-anak berusia 11-15 tahun. Walaupun tidak umum pada dewasa, tingkat morbiditas dan mortalitas orang dewasa yang menderita demam berdarah yang disertai pendarahan dan syok semakin meningkat.

Tidak ada konsekuensi jangka panjang (long-term sequelae) ketika pasien telah sembuh dari demam berdarah. Walau demikian, beberapa pasien dapat mengalami sindroma kelelahan (fatigue syndrome) setelah infeksi virus. Pada tahap menuju kesembuhan, jumlah keping darah meningkat, walaupun beberapa pasien mengalami trombositosis (kondisi jumlah trombosit berlebih) sementara. Fungsi hati akan seutuhnya kembali normal setelah empat minggu.

Infeksi dengue sekunder dapat terjadi apabila orang terinfeksi oleh serotipe virus dengue yang berbeda. Pengulangan ketiga dan keempat juga dapat terjadi. Ketika tubuh telah terpajan dengan keempat serotipe virus, tubuh akan membentuk imunitas permanen terhadap masing-masing serotipe virus tersebut.

Referensi

  1. Hasan S, Jamdar SF, Alalowi M, Al Ageel Al Beaiji SM. Dengue virus: A global human threat: Review of literature. J Int Soc Prev Community Dent. 2016;6(1):1–6. doi:10.4103/2231-0762.175416
  2. Dengue and severe dengue fact sheet. World Health Organization. 2019 [cited 2020 Feb 7]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/dengue-and-severe-dengue
  3. Pusat Data dan Informasi (Infodatin) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia: Demam Berdarah 2017.
  4. Kalayanarooj S. Clinical Manifestations and Management of Dengue/DHF/DSS. Trop Med Health. 2011;39(4 Suppl):83–87. doi:10.2149/tmh.2011-S10
  5. Rathakrishnan A, Klekamp B, Wang SM, Komarasamy TV, Natkunam SK, Sathar J, et al. Clinical and Immunological Markers of Dengue Progression in a Study Cohort from a Hyperendemic Area in Malaysia. PLoS ONE. 2014;9(3).
  6. Khetarpal N, Khanna I. Dengue Fever: Causes, Complications, and Vaccine Strategies. Journal of Immunology Research. 2016;2016:1–14.
  7. Schaefer TJ, Panda PK, Wolford RW. Dengue Fever. [Updated 2019 Dec 12]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430732/
  8. Islam R, Salahuddin M, Ayubi MS, Hossain T, Majumder A, Taylor-Robinson AW, et al. Dengue epidemiology and pathogenesis: images of the future viewed through a mirror of the past. Virologica Sinica. 2015;30(5):326–43.
  9. Martina BE, Koraka P, Osterhaus AD. Dengue virus pathogenesis: an integrated view. Clin Microbiol Rev. 2009;22(4):564–581. doi:10.1128/CMR.00035-09
  10. Muller DA, Depelsenaire AC, Young PR. Clinical and laboratory diagnosis of dengue virus infection. J Infect Dis. 2017 Mar 1;215(suppl_2):S89-S95.
  11. Kularatne SAM. Dengue fever clinical review. BMJ. 2015;351:h4661.

Share your thoughts

Yuk berlangganan SKMA!

Anda akan memperoleh berita dan artikel terkini mengenai isu, perkembangan, dan tips-tips seputar kedokteran dan kesehatan.

Klik link berikut untuk berlangganan SKMA digital!

http://linktr.ee/medaesculapius