Di Balik Lonjakan Kasus Covid-19 pada Anak

Covid anak

Pada awal pandemi, anak dianggap ‘kebal’ Covid-19. Hari ini, justru keadaan berbalik. Mengapa hal ini bisa sampai terjadi?

Setelah hampir satu setengah tahun berkutat dengan Covid-19, Indonesia kini dihadapkan dengan meroketnya kasus Covid-19 pada anak. Berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak menyumbang sekitar 12,8% dari total kasus positif Covid-19 dengan angka kematian mencapai 3—5%, tergolong tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Situasi yang mengkhawatirkan ini menimbulkan pertanyaan dari berbagai pihak: ada apa dengan kasus Covid-19 anak di Indonesia?

Dari Hulu ke Hilir: Berbagai Problematika Kasus Covid-19 pada Anak

Berbagai faktor berperan dalam tingginya angka Covid-19 pada anak di Indonesia. “Anak ini tidak terlindungi, jumlah testing yang sedikit, tidak semuanya pakai masker, dibawa ke kerumunan, dibawa bepergian, lengkaplah semuanya,” keluh Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K), FAAP, FRCPI(Hon), Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI. Kondisi tersebut juga diperparah dengan kemunculan varian Delta. “Keberadaan varian Delta menyebabkan terjadinya gelombang kedua, yaitu peningkatan kasus Covid-19 yang sangat tinggi. Hal ini tentunya berpengaruh dalam peningkatan jumlah kasus Covid-19 pada anak,” terang Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K), Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI.

Selain jumlah kasus, angka kematian anak akibat Covid-19 di Indonesia juga tergolong tinggi. Tak dapat dipungkiri, keterbatasan      fasilitas kesehatan untuk anak turut andil dalam kondisi tersebut. Bercermin dari kasus Covid-19 anak yang mencapai 1 dari 8 kasus, idealnya sepuluh persen ruang rawat di rumah sakit dialokasikan untuk anak. “Berapa lama menunggu di IGD baru dapat ruang rawat? Berhari-hari. Kalau balita, bisa tidak dia menunggu lama di situ?” tegas Aman. Jumlah rumah sakit yang memiliki Pediatric Intensive Care Unit (PICU) dan Neonatal Intensive Care Unit (NICU) pun masih terlalu sedikit. “Banyak yang tidak tertampung karena sebelum pandemi saja sudah relatif sulit mencari PICU dan NICU, apalagi setelah pandemi,” ungkap Nastiti.

Koinfeksi juga menjadi salah satu penyebab tingginya mortalitas anak akibat Covid-19. Sangat disayangkan, imunisasi terkait pneumonia yang dapat mencegah koinfeksi belum menjadi program nasional di Indonesia, berbeda halnya dengan negara-negara maju. “Pada era pandemi, selain Covid-19, anak juga mengalami koinfeksi dari agen-agen lain, seperti influenza dan pneumococcus. Koinfeksi ini membuat angka kematian jauh lebih tinggi. Imunisasi seharusnya bisa menyelamatkan anak dari etiologi pneumonia tertentu,” jelas Nastiti.

Di samping faktor eksternal, angka kematian juga dipengaruhi oleh kondisi internal anak, salah satunya status gizi. Indonesia memiliki angka gizi buruk yang sangat tinggi, yaitu 27,7%. Hal tersebut dapat memperburuk prognosis kasus Covid-19. Tak hanya gizi, jumlah komorbid atau penyakit bawaan pada anak yang tinggi di Indonesia juga memegang peranan penting dalam tingginya kematian anak akibat Covid-19. “Banyak sekali komorbid pada anak, mulai dari tuberkulosis, obesitas, penyakit jantung bawaan, keganasan, dan sebagainya. Akan tetapi, terdapat dua kondisi yang bisa kita intervensi, yaitu tuberkulosis dan obesitas. Kalau dua ini bisa dikendalikan, kita bisa menurunkan angka kematian,” tutur Aman.

Masalah Belum Berhenti Sampai Di Sini

Kematian bukanlah satu-satunya persoalan dalam Covid-19 pada anak. Infeksi virus SARS-CoV 2 tersebut dapat menimbulkan dampak jangka panjang bagi anak. Salah satu dampak yang paling dikhawatirkan adalah dampaknya terhadap tumbuh kembang anak.  Apabila anak mengalami Covid-19 yang berat atau kritis dengan periode hipoksia, terjadi gangguan oksigenasi otak yang      menyebabkan sel otak mati dan tidak bisa diregenerasi. “Kemampuan kognitif bisa terganggu kalau terjadi hipoksia berat; gangguan motorik juga bisa terjadi,” jelas  ketua UKK Respirologi IDAI tersebut .

Kekhawatiran lainnya muncul dari komplikasi Covid-19 berupa long covid. “Long covid anak di luar Jakarta kita tidak tahu karena testingnya sedikit. Di Jakarta, konsultan kita melihat anak dengan mialgia, tidak bisa konsentrasi, rambut rontok, sesak, nyeri tulang, dan lain-lain dengan riwayat Covid-19 sebelumnya,” tutur Aman.  Adapun penyebab dan dampak jangka panjang dari long covid hingga kini masih dalam penelitian. Sejauh ini, mekanisme yang paling memungkinkan adalah inflamasi berkepanjangan atau akibat modalitas terapi yang digunakan.

Selain long covid, kejadian multisystem inflammatory syndrome in children (MIS-C) juga menjadi ancaman jangka panjang lain kasus Covid-19 anak. MIS-C sendiri serupa dengan badai sitokin yang terjadi pada orang dewasa yang menyebabkan inflamasi berlebihan sehingga terjadi kerusakan multiorgan. “Meskipun jumlah kasus anak dengan MIS-C tidak banyak, hal ini harus diwaspadai karena membutuhkan perawatan yang lebih intensif dan fatalitas yang tinggi,” ujar Nastiti.

Secercah Harapan bagi Anak Indonesia

Di tengah carut-marut kasus Covid-19 anak di Indonesia, kabar baik datang dari dimulainya vaksinasi Covid-19 untuk anak kelompok usia 12—17 tahun. Hal tersebut merupakan suatu kemajuan mengingat belum banyak negara yang menginisiasi vaksin pada kelompok anak dan cukup besarnya populasi usia tersebut di Indonesia, yaitu mencapai 10% atau kurang lebih 30 juta jiwa. “Kalau kita bisa melakukan secepat mungkin, sepuluh persen populasi Indonesia ini sudah terlindungi untuk calon human capital kita. Selain itu, menurunkan angka kematian. Golongan remaja ini merasa hebat, dia kira tidak ada gejala, tetapi ternyata banyak yang meninggal. Apalagi kalau mereka ada komorbid yang mereka tidak paham, misalnya obesitas dan TBC,” ujar Aman.

Melihat masuknya varian Delta dengan tingkat penularan yang tinggi dan baru dimulainya vaksinasi pada anak, tak heran kasus dan kematian akibat Covid-19 pada anak saat ini terus meningkat. Meski begitu, orang tua tak perlu panik karena secara umum prognosis Covid-19 pada anak memang lebih baik dari orang dewasa. Akan tetapi, hal tersebut jangan menjadi alasan bagi pemerintah dan orang tua untuk lengah. Berbagai upaya, seperti vaksinasi, 3T (testing, tracing, treatment), dan disiplin dalam melakukan protokol kesehatan harus terus dilakukan untuk mengurangi kasus Covid-19 pada anak.

Orang tua dalam masa pandemi ini harus siap menjadi orang tua, guru, dan perawat bagi anaknya. Anak merupakan tanggung jawab orang dewasa; banyaknya korban anak akibat Covid-19 harus menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk tidak lalai dan menganggap remeh Covid-19 pada anak. Semua usaha untuk melindungi anak niscaya tidak akan sia-sia karena masa depan bangsa ini ada di tangan mereka. hendra,rheina

Penulis:

  • Hendra Gusmawan
  • Rheina Tamara Tarigan

Editor: Amanda Safira Aji

Share your thoughts

Yuk berlangganan SKMA!

Anda akan memperoleh berita dan artikel terkini mengenai isu, perkembangan, dan tips-tips seputar kedokteran dan kesehatan.

Klik link berikut untuk berlangganan SKMA digital!

http://linktr.ee/medaesculapius