Dilema Skrining Penyakit Jantung Bawaan Indonesia

skrining penyakit jantung bawaan (pjb) anak

Berpacu dengan waktu untuk mencegah teregangnya lebih banyak nyawa

Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah adanya kelainan jantung baik secara struktural maupun fisiologis pada neonatus. Penyakit ini merupakan penyakit kongenital yang paling sering ditemukan pada neonatus dan menempati satu dari lima penyebab kematian tersering pada satu tahun pertama kehidupan. Sebanyak 1%, atau satu dari 100 kelahiran hidup, merupakan anak dengan PJB dan 25% orang dengan PJB memiliki PJB yang bersifat kritis sehingga memerlukan penanganan segera.

Agar PJB dapat didiagnosis dan ditangani sesegera mungkin, telah tersedia algoritma skrining yang meliputi berbagai pemeriksaan dan pemantauan neonatus, seperti pencitraan, pemantuan bayi baru lahir, penggalian riwayat, dan sebagainya. Namun, minimnya fasilitas, keterlambatan diagnosis, proses merujuk yang memakan waktu lama, dan skrining yang belum diwajibkan telah menjadi batu sandungan berhasilnya pencegahan kematian akibat PJB. Faktor-faktor yang berperan dalam berbagai masalah penatalaksanaan PJB juga berakar dari kurangnya dokter spesialis yang berkompetensi lebih dalam diagnosis beserta kemampuan untuk melakukan operasi yang terbatas pada 1600 per tahunnya, dengan jumlah 40 rumah sakit yang melayani kateterisasi jantung dan 10 rumah sakit yang mampu melayani operasi jantung terbuka saat ini di Indonesia. Jumlah ini tentu tidak mencukupi kebutuhan penanganan PJB, yang diperkirakan memiliki 12000 sampai 15000 bayi kasus baru setiap tahunnya.

Jumlah kematian akibat PJB ini tentu saja ingin dihindari oleh baik tenaga kesehatan maupun masyarakat karena berbagai penyebab, misalnya untuk mencegah trauma pada orang tua. Selain itu, PJB yang tidak kritis juga tetap perlu didiagnosis. Alasannya adalah bayi dengan PJB yang tidak bergejala juga tetap memiliki risiko untuk mengalami gangguan pada jantung, seperti gagal jantung yang lebih tinggi dibandingkan orang normal saat bertumbuh dewasa. Lalu, jenis skrining apa saja yang perlu diketahui dan dipelajari oleh dokter-dokter Indonesia dalam mencegah PJB?

Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) dan PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia), terdapat dua metode skrining PJB utama yang dapat dilakukan oleh seorang dokter berdasarkan availabilitas beserta spesifitas dan sensitivitasnya. Metode skrining pertama adalah skrining prenatal menggunakan ekokardiografi fetal. Pada trimester kedua, struktur jantung sudah terbentuk dan sebagian besar PJB sudah dapat dideteksi oleh pemeriksa yang memiliki kemampuan mumpuni. Pendeteksian PJB pada tahap fetal ini juga memungkinkan dilaksanakannya konseling pada keluarga. Adapun metode skrining kedua adalah pemantauan bayi baru lahir pada 24—48 jam pertama menggunakan oksimetri denyut pada tangan dan kakinya. Evaluasi faktor risiko pada orang tua juga dapat dilakukan. Salah satu faktor risiko pada orang tua yang berperan dalam menyebabkan PJB adalah diabetes, merokok, dan konsumsi alkohol.

Agar metode skrining tersebut dapat dijalankan dengan baik, perlu juga dilakukan pelatihan bagi para dokter untuk melakukan skrining tersebut dengan baik dan benar, serta mendapatkan diagnosis dengan baik. Pelatihan-pelatihan ini juga tidak dapat dilakukan satu kali saja, tetapi perlu secara berkelanjutan untuk memastikan bahwa dokter yang sedang bekerja dan dokter baru mampu melakukan apa yang diajarkan dengan baik dan memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan diagnosis serta penurunan angka kematian akibat PJB. Peningkatan efektivitas proses merujuk, penyediaan peralatan dan dokter-dokter yang mampu mendiagnosis PJB juga diperlukan agar PJB dapat ditatalaksana dengan cepat dan tepat guna.

Penulis: Yosafat

Redaktur: Alifa

Referensi:

  1. Khoshnood B, Loane M, Garne E, et al. Recent Decrease in the Prevalence of Congenital Heart Defects in Europe. J Pediatr. 2017;162(1):108–113.e2. http://dx.doi.org/10.1016/j.jpeds.2012.06.035
  2. Kurangi Kematian Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi Baru Lahir dengan Cathlab [Internet]. Jakarta: Kementerian Kesehatan Indonesia. 2022 [cited 2023 Apr 21]. Available from: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20221229/5542124/kurangi-kematian-penyakit-jantung-bawaan-pada-bayi-baru-lahir-dengan-cathlab/
  3. Cegah Komplikasi, Kenali Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi – Info Sehat FKUI [Internet]. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2022 Sep 30 [cited 2023 Apr 21]. Available from: https://fk.ui.ac.id/infosehat/cegah-komplikasi-kenali-deteksi-dini-penyakit-jantung-bawaan-pada-bayi/
  4. Willim HA, Cristian, Supit AI. Critical  Congenital  Heart  Disease  in  Newborn:  Early  Detection,  Diagnosis,  and Management. Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research. 2021:5(1);107-16

 

Share your thoughts