Emansipasi Kesehatan untuk Perempuan Indonesia

Tekad sang dokter agar para perempuan semakin melek masalah kesehatan wanita

dokter perempuan indonesia

 

Membantu para perempuan untuk memahami masalah kesehatan wanita adalah salah satu impian dr. Tiara Kemala Sari, seorang alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia angkatan 2010. Setelah dilantik menjadi dokter pada tahun 2016, perempuan yang akrab disapa Tiara ini memutuskan untuk bekerja sebagai dokter umum di dua rumah sakit ibu dan anak (RSIA) di daerah DKI Jakarta. Keputusannya untuk bekerja di kedua rumah sakit tersebut didasari oleh cita-citanya semasa studi: menjadi seorang dokter spesialis obstetri dan ginekologi. Dengan bekerja di RSIA, perempuan ini berharap bisa mendapatkan lebih banyak pengalaman yang sesuai dengan impiannya, terutama terkait bidang persalinan.

Setahun menjadi dokter umum, Tiara mendapat promosi jabatan sebagai manajer medis di salah satu rumah sakit tempatnya bekerja. Hampir dua tahun setelah ia menekuni profesi tersebut, akhirnya ia memutuskan untuk pindah ke Prefektur Kagawa, Jepang untuk mengikuti suaminya yang menerima tugas bekerja di negeri sakura. Saat ini, Tiara dan suami baru saja dikaruniai seorang anak. Mengingat pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak, Tiara akhirnya memutuskan untuk cuti sementara sebagai klinisi hingga anaknya cukup mandiri.

Membahas tentang kegiatannya, Tiara mengakui bahwa ia memilih untuk tidak membuka praktik kedokteran selama di Jepang. Menjadi dokter umum di negeri asing memang bukanlah hal yang mudah. Tiara menganalogikan hal tersebut dengan betapa sulitnya warga negara asing untuk membuka praktik kedokteran di Indonesia. Menyadari hal tersebut, Tiara akhirnya berencana untuk melanjutkan studi S2 ketimbang membuka praktik dokter umum ataupun menempuh pendidikan spesialis. Keputusan ini juga didasari oleh maraknya penelitian mengenai bayi tabung di Jepang. Bidang tersebut juga merupakan spesialisasi RSIA tempatnya bekerja dulu sehingga ia sudah memiliki ilmu dasar tentang teknologi bayi tabung. Meski demikian, perempuan ini mengakui bahwa ia masih perlu memperdalam bidang bayi tabung lebih lanjut sebelum melanjutkan studi tentangnya.

Di sela-sela membagikan pengalamannya, ibu satu anak ini juga menceritakan alasan dirinya ingin bergelut di bidang kebidanan dan kandungan. Semasa Tiara masih menjadi dokter muda, ia pernah bertemu seorang wanita yang akan melahirkan anak ketiga. Saat itu, Tiara memberikan beberapa edukasi tentang kesehatan wanita, termasuk mengenai KB. Sayangnya, perempuan muda itu malah terlihat kebingungan dan tidak bisa membuat keputusan, terlebih karena ia datang sendirian. Melihat hal ini, Tiara pun menyadari bahwa masih ada perempuan Indonesia yang belum memahami dan tidak berani membuat keputusan untuk kesehatannya sendiri. Sejak itulah, ia mulai menetapkan hatinya untuk membantu para perempuan agar lebih berani dalam memutuskan masalah kesehatannya.

Akhir kata, Tiara berpesan kepada para sejawat dan calon dokter agar dapat memanfaatkan waktu belajar sebaik mungkin. Sudah menjadi sebuah kewajiban bagi dokter untuk belajar sepanjang hayat, baik dalam bentuk teori maupun berhadapan langsung ke pasien. Ketekunan dalam mempelajari hal yang diminati nyatanya menjadi salah satu cara bagi dokter untuk mengabdikan dirinya dalam masyarakat. Dengan begitu, diharapkan dokter-dokter di Indonesia dapat terus memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan kepada pasien.

Penulis: Nada Irza Salsabila
Editor: Gabrielle Adani

Share your thoughts

Yuk berlangganan SKMA!

Anda akan memperoleh berita dan artikel terkini mengenai isu, perkembangan, dan tips-tips seputar kedokteran dan kesehatan.

Klik link berikut untuk berlangganan SKMA digital!

http://linktr.ee/medaesculapius