Enyahkan Skabies sampai Beres

Skabies termasuk dalam penyakit kulit terabaikan oleh WHO. Akan tetapi, rasa gatal yang parah tidak dapat terabaikan, lantas bagaimana cara menanganinya?

Skabies atau kudis merupakan penyakit kulit menular yang disebabkan oleh infestasi tungau. Tungau Sarcoptes scabiei varietas hominis dapat bersembunyi di dalam kulit dan menyebabkan rasa gatal yang parah. Rasa gatal akan semakin terasa saat malam hari. Selain itu, skabies dapat memberikan manifestasi klinis berupa pruritus dan lesi kulit multipel di sela jari, telapak tangan, aksila, bokong, dan genitalia. Kontak kulit dengan kulit dapat menjadi media perpindahan tungau sehingga anggota keluarga memiliki risiko penularan tertinggi.

Kudis menjadi masalah kesehatan signifikan di banyak negara berkembang dan telah dinyatakan sebagai penyakit kulit terabaikan pada tahun 2009 oleh WHO. Prevalensi skabies secara global berdasarkan studi Beban Penyakit Global sebesar 204 juta. Di Indonesia, data Departemen Kesehatan RI menunjukkan penurunan prevalensi dari sekitar 6-13% pada tahun 2008 menjadi sekitar 4-6% pada tahun 2013. Walaupun demikian, kejadian skabies dapat meningkat pada hunian padat, seperti pesantren, asrama, atau panti asuhan. Kemiskinan, gizi buruk, tunawisma, dan praktik higiene yang tidak adekuat turut berkorelasi dengan tingginya prevalensi.

Skabies dapat diklasifikasikan menjadi tiga menurut tampilan klinisnya, yakni skabies klasik, berkrusta, dan nodular. Skabies klasik umumnya memberikan gejala pruritus yang bertambah parah di malam hari, kelelahan, serta demam pada pasien dengan impetigo sekunder atau selulitis. Skabies berkrusta terjadi pada pasien dengan imunokompromais yang menampilkan adanya kerak akibat goresan selama periode gatal. Sementara itu, jenis skabies yang jarang terjadi adalah skabies nodular yang menampilkan adanya nodul cokelat kemerahan dengan pruritus dan umum dijumpai pada aksila, genitalia, selangkangan, dan bokong.

International Alliance for the Control of Scabies (IACS) telah merumuskan kriteria diagnosis skabies pada tahun 2018. Diagnosis dapat dinyatakan sebagai skabies terkonfirmasi, klinis, atau suspek. Dinyatakan sebagai skabies terkonfirmasi apabila ditemukan tungau atau telur pada pemeriksaan laboratorium dengan kerokan kulit atau dermoskopi. Skabies klinis memperlihatkan adanya  terowongan skabies, lesi yang terdistribusi secara khas, seperti menyerang genitalia pria, serta adanya riwayat pruritus dan kontak erat dengan individu yang mengalami gatal atau lesi khas skabies. Sementara itu, suspek skabies dinyatakan sebagai diagnosis bila terdapat lesi khas skabies dengan satu riwayat terkait skabies atau lesi yang tidak khas dengan dua riwayat terkait skabies.

Manajemen skabies perlu melihat efektivitas obat terhadap semua stadium tungau, tidak menimbulkan iritasi dan toksisitas, tidak berbau atau kotor, mudah diperoleh, dan murah. Scabisida topikal yang digunakan secara global meliputi permetrin 5%, benzil benzoat 10-25%, endapan sulfur 2-10%, krotamiton 10%, malathion 0,5%, dan lindane 1%. Dengan efikasi yang tinggi, permetrin 5% dipertimbangkan sebagai pengobatan lini pertama di banyak negara dan telah disetujui FDA sebagai pengobatan skabies pada individu berusia lebih dari 2 tahun. Permetrin dengan kadar 5% dalam krim topikal diaplikasikan sekali dan dibersihkan setelah 8-14 jam. Pengobatan dapat diulang setelah 7-14 hari.

Emulsi benzil benzoat 10-25% dan endapan sulfur 2-10% dapat menjadi alternatif yang efektif apabila krim permetrin tidak tersedia. Emulsi benzil benzoat 10-25% diaplikasikan sekali dan dibersihkan setelah 24 jam dengan pengobatan dapat diulang setelah 7-14 hari. Endapan sulfur 2-10% dapat dipakai sekali dan dibersihkan setelah 24 jam dan pengobatan diulang dalam 3 hari berturut-turut atau setelah 7-14 hari. Sementara itu, kromatiton topikal 10% dan emulsi malathion 0,5% kurang efektif dibandingkan pengobatan lainnya.

Umumnya, metode transmisi skabies melalui kontak kulit sehingga upaya preventif perlu disampaikandengan melakukan edukasi kepada pasien mengenai perjalanan penyakit, penularan, cara eradikasi tungau skabies, menjaga kebersihan diri, dan tata cara pengaplikasian obat. Selain itu, pengobatan pada orang serumah dan individu yang berkontak erat dengan pasien perlu dilakukan untuk memutus mata rantai penularan skabies.

Penulis: Cahyadi Budi Sulistyoaji

Redaktur: Raisa Amany

Referensi

  1. Gilson RL, Crane JS. Scabies. [Updated 2022 May 8]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022 Jan-.
  2. Thomas C, Coates SJ, Engelman D, Chosidow O, Chang AY. Ectoparasites: scabies. J Am Acad Dermatol. 2020 Mar;82(3):533-48.
  3. Boediardja SA, Handoko RP. Skabies. In: Menaldi SL, Bramono K, Indriatmi W, editors. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. 7th ed. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2016.
  4. Ratnasari AF, Sungkar S. Prevalensi skabies dan faktor-faktor yang berhubungan di pesantren X, Jakarta Timur. E-Journal Kedokteran Indonesia, April 2014; 2 (1) : 251-256

# kudis # kudis

Share your thoughts

Yuk berlangganan SKMA!

Anda akan memperoleh berita dan artikel terkini mengenai isu, perkembangan, dan tips-tips seputar kedokteran dan kesehatan.

Klik link berikut untuk berlangganan SKMA digital!

http://linktr.ee/medaesculapius