Epinefrin

epinefrin

Definisi & Informasi Umum Obat

Epinefrin termasuk obat golongan simpatomimetik katekolamin yang memberikan efek farmakologi pada reseptor alfa dan beta adrenergik. Secara alami, epinefrin dihasilkan oleh medula kelenjar adrenal. Epinefrin adalah salah satu agen yang paling banyak digunakan dalam berbagai kondisi karena fungsinya sebagai obat dan hormon.1

Epinefrin bekerja dengan melemaskan otot-otot saluran napas dan meningkatkan tegangan pembuluh darah. Obat ini dapat dengan cepat memicu kerja jantung, meningkatkan tekanan darah, melegakan pernapasan, meredakan ruam, dan mengurangi pembengkakan di area wajah, bibir, dan tenggorok.1

Epinefrin disetujui oleh FDA (Badan Obat dan Makanan Amerika Serikat) untuk digunakan pada berbagai situasi, seperti anafilaksis, tindakan resusitasi jantung, mempertahankan midriasis selama operasi mata, dan hipotensi pada syok septik. Obat ini berfungsi juga dalam asma akut.1

Di Indonesia, epinefrin tersedia dalam bentuk cairan dengan merek dagang Epinephrine dan Phinev.

Indikasi

Epinefrin banyak digunakan pada berbagai situasi. Epinefrin digunakan untuk keadaan darurat akibat reaksi hipersensitivitas tipe 1 seperti anafilaksis dan resusitasi jantung. Secara tidak resmi, epinefrin juga dapat digunakan untuk fibrilasi ventrikel, takikardia ventrikel tanpa detak, asistol, dan lain sebagainya. Epinefrin juga digunakan untuk asma akut dan hipertensi okular.1,2

 

Dosis

Dosis bergantung pada tujuan pengobatan dan bentuk sediaan. Untuk pengobatan asma akut melalui jalur inhalasi, pada dewasa diberikan larutan adrenalin 1:100. Aerosol yang diberi tekanan diberikan dalam dosis 1-2 inhalasi atau 160-275 mcg, dapat diulang setiap 3 jam.2

Untuk pengobatan syok anafilaksis pada dewasa melalui intramuskular, epinefrin diberikan dalam bentuk larutan 1:1000 sebanyak 500 mcg (0.5 ml) setiap 5 menit. Dosis 300 mcg (0.3 ml) juga dapat digunakan. Dosis untuk anak-anak biasanya 10 mcg/kg.2

Dosis untuk syok anafilaksis melalui intravena adalah 0.5 mg (5 mL dari larutan 1:10.000) yang diberikan dengan kecepatan 100 mcg/menit.2

 

Interaksi

Beberapa obat dapat meningkatkan maupun menghambat kerja epinefrin. Obat yang meningkatkan kerja epinefrin antara lain adalah beta-adrenergic, monoamine oxidase (MAO) inhibitor serta catechol-o-methyltransferase (COMT) inhibitor. Sementara itu, alpha-adrenergic blockers, antihipertensi, vasodilator, dan diuretik bekerja berlawanan dengan epinefrin.2

 

Efek Samping

Efek samping obat ini cukup banyak. Efek samping secara umum terjadi pada sistem saraf pusat, sistem kardiovaskular, kulit, endokrin, sistem gastrointestinal, neuromuskular, renal, dan respirasi.1

Efek samping yang paling sering adalah takikardia, hipertensi, pusing, cemas, palpitasi, mual, muntah, kelemahan, dan tremor. Efek ini cepat hilang dengan istirahat. Efek samping yang lebih berat meliputi perdarahan otak dan aritmia.1,2,3

Peringatan

Kontraindikasi relatif meliputi hipersensitivitas pada obat simpatomimetik dan anestesi dengan halothane. Kontraindikasi juga meliputi hipertensi, aritmia jantung atau takikardia. Epinefrin juga sebaiknya tidak diberikan pada pasien yang menerima antagonis reseptor-beta nonselektif sebab karena dapat menyebabkan hipertensi parah dan perdarahan otak.1,2,3

Penggunaan epinefrin pada beberapa situasi, seperti kehamilan, kelahiran, ibu menyusui, anak-anak, serta lansia perlu dilakukan dengan hati-hati. Epinefrin juga perlu digunakan secara berhati-hati pada penyakit kardiovaskular, hipertiroidisme, diabetes mellitus, dan penyakit Parkinson.1,2

Overdosis

Penggunaan berlebihan mungkin menyebabkan pendarahan otak karena kenaikan tekanan darah secara tajam. Vasokonstriksi perifer dan stimulasi jantung secara bersamaan juga dapat menyebabkan edema paru yang berpotensi membahayakan.2

 

Farmakologi

Efek yang dihasilkan epinefrin bergantung pada tipe reseptor yang distimulasi. Misalnya, melalui reseptor alfa-1, epinefrin menginduksi peningkatan kontraksi otot polos pembuluh darah, kontraksi otot dilator pupil, dan kontraksi otot sfingter usus. Melalui reseptor beta-1, Epinefrin menyebabkan peningkatan detak jantung, kontraktilitas miokardium, dan pelepasan renin. Reseptor beta-2 memiliki efek bronkodilatasi.1

Obat ini mulai bekerja setelah 1 menit bila diberikan melalui inhalasi.

Absorpsi: Epinefrin tidak efektif diberikan melalui jalur oral karena mudah teroksidasi di mukosa gastrointestinal dan hati. Absorpsi dari jaringan subkutan relatif lambat. Absorpsi lebih cepat melalui injeksi intramuskular. Dalam keadaan darurat, obat ini dapat diberikan melalui intravena.

Distribusi: Bila diberikan lewat inhalasi, efeknya terbatas pada saluran pernapasan. Namun, obat ini tetap dapat memberikan efek sistemik pula, seperti aritmia.

Metabolisme: Epinefrin diinaktivasi di hati oleh COMT dan MAO.

Eliminasi: Obat ini diekskresi melalui urine.3

 

 

Referensi

  1. Grujic D, Dalal R. Epinephrine [Internet]. Treasure Island: StatPearls Publishing; 2021 Jan [cited 2021 Apr 15]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482160/
  2. MIMS. Epinephrine [Internet]. Place unknown: MIMS; date unknown [cited 2021 Apr 15]. Available from: https://www.mims.com/philippines/drug/info/epinephrine?mtype=generic
  3. Brunton LL, Hilal-Dandan R, Knollmann BC. Goodman & Gilman’s the pharmacological basis of therapeutics. 13th ed. US: McGraw-Hill Education; 2018.

Share your thoughts