Frequently Asked Question (FAQ): Fatwa MUI mengenai Vaksin

Tanya: Apakah vaksin diperbolehkan dalam ajaran Islam?  

Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun 2016 mengeluarkan fatwa mengenai pelaksanaan imunisasi/vaksin, yaitu Fatwa MUI no. 04 tahun 2016.  Dalam fatwa tersebut, MUI menetapkan ketentuan dan rekomendasi sebagai berikut:

Ketentuan Hukum:

  1. Imunisasi pada dasarnya dibolehkan (mubah) sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh (imunitas) dan mencegah terjadinya suatu penyakit tertentu.
  2. Vaksin untuk imunisasi wajib menggunakan vaksin yang halal dan suci.
  3. Penggunaan vaksin imunisasi yang berbahan haram dan/atau najis hukumnya haram.
  4. Imunisasi dengan vaksin yang haram dan/atau najis tidak dibolehkan kecuali:
    a. digunakan pada kondisi
    al-dlarurat (kondisi keterpaksaan yang apabila tidak
    diimunisasi dapat mengancam jiwa manusia
    atau al-hajat (kondisi keterdesakan yang apabila tidak
    diimunisasi maka akan dapat menyebabkan penyakit berat atau
    kecacatan pada seseorang)
    ;
    b. belum ditemukan bahan vaksin yang halal dan suci; dan
    c. adanya keterangan tenaga medis yang kompeten dan dipercaya
    bahwa tidak ada vaksin yang halal.
  5. Dalam hal jika seseorang yang tidak diimunisasi akan menyebabkan kematian, penyakit berat, atau kecacatan permanen yang mengancam jiwa, berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, maka imunisasi hukumnya wajib.
  6. Imunisasi tidak boleh dilakukan jika berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, menimbulkan dampak yang membahayakan (dlarar).

 

Tanya: Apakah vaksin MR halal?

Berdasarkan fatwa mengenai imunisasi yang telah diterbitkan MUI pada tahun 2016 di atas, boleh atau tidaknya penggunaan vaksin Measles dan Rubella (MR) telah dinyatakan melalui Fatwa MUI no. 33 tahun 2018, dengan ketentuan sebagai berikut:

 Ketentuan Hukum

  1. Penggunaan vaksin yang memanfaatkan unsur babi dan turunannya hukumnya haram.
  2. Penggunaan Vaksin MR produk dari Serum Institute of India (SII) hukumnya haram karena dalam proses produksinya menggunakan bahan yang berasal dari babi.
  3. Penggunaan Vaksin MR produk dari Serum Institute of India (SII), pada saat ini, dibolehkan (mubah) karena : a. Ada kondisi keterpaksaan (dlarurat syar’iyyah); b. Belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci; c. Ada keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi dan belum adanya vaksin yang halal.
  4. Kebolehan penggunaan vaksin MR sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku jika ditemukan adanya vaksin yang halal dan suci.

 

Share your thoughts