Favipiravir: 1 dari 4 Obat Anjuran IDI untuk Terapi Covid-19

Berangkat dari ketidakpastian efektivitas Favipiravir untuk terapi pengobatan Covid-19, kini penggunaannya telah dianjurkan oleh Ikatan Dokter Indonesia

Favipiravir pengobatan Covid-19

Sejak awal pandemi, favipiravir merupakan satu dari sekian banyak obat yang dipilih sebagai regimen pengobatan mandiri Covid-19 bagi beberapa kalangan. Favipiravir cukup dikenal sebagai antivirus yang ampuh melawan Covid-19 dan sempat diincar tanpa resep dokter. Padahal, saat itu uji klinis favipiravir belum rampung dan belum bisa dinyatakan ampuh serta aman untuk pengobatan Covid-19. Kini, favipiravir bersama 3 obat lainnya–avigan, molnupiravir, dan remdesivir–dinyatakan sebagai pilihan terapi Covid-19 yang dianjurkan oleh Kementerian Kesehatan.

Favipiravir adalah obat antivirus yang menghambat RNA-dependent RNA polymerase (RdRp) dari RNA virus secara selektif dan ampuh. Obat ini disetujui penggunaannya di Jepang saat pandemi influenza menyerang pada tahun 2014 dan terbukti menunjukkan aktivitas in vitro yang kuat terhadap severe acute respiratory syndrome coronavirus-2 (SARS-CoV-2). Pertama kali digunakan di Wuhan untuk melawan SARS-CoV-2, penggunaan favipiravir perlahan meluas hingga Eropa dan banyak negara lain, termasuk Indonesia. Perizinannya diperoleh institusi negara setempat melalui persetujuan dalam kondisi darurat pandemi.

Favipiravir dikonsumsi dalam bentuk prodrug, yaitu bentuk obat yang memerlukan proses farmakologi tertentu untuk melepaskan senyawa aktif sebelum akhirnya memberikan efek terapi pada individu. Mekanisme kerja antivirus ini meliputi: (1) molekul bertindak sebagai substrat RdRp enzim yang disalahartikan sebagai nukleotida purin oleh enzim, mengakibatkan aktivitas dan sintesis protein virus terhenti, (2) molekul tergabung dalam untai RNA virus dan mencegah ekstensi, dan (3) menginduksi mutagenesis letal secara in vitro selama infeksi pada virus influenza. Sebagai obat antivirus dengan spektrum luas, favipiravir tidak hanya digunakan untuk mengatasi 53 jenis virus influenza, tetapi juga virus Ebola, arenavirus, West Nile virus, hingga Lassa virus penyebab DHF (dengue hemorrhagic fevers) dan ensefalitis.

Saat ini, favipiravir termasuk dalam salah satu paket obat Covid-19 (paket obat B-red) yang diberikan secara gratis oleh Kementerian Kesehatan. Selain favipiravir, paket obat B juga terdiri atas multivitamin dan parasetamol yang ditujukan untuk gejala ringan—sedang. Berbentuk tablet salut selaput berwarna kuning dengan kandungan 200 mg favipiravir, rekomendasi dosis favipiravir untuk dewasa adalah 1800 mg (2×1) di hari pertama dan 800 mg (2×1) secara oral di hari berikutnya. Paket obat dari Kementerian Kesehatan diresepkan untuk dosis 10 hari. Pemberiannya menyesuaikan rekomendasi dan pertimbangan dokter, tetapi tablet favipiravir maksimum dikonsumsi dalam waktu 14 hari.

Sebelum mengonsumsi obat ini, beri tahu riwayat alergi maupun penyakit kepada tenaga kesehatan yang menangani, termasuk alergi favipiravir, penyakit ginjal, penyakit hati, diabetes, merencanakan kehamilan (baik wanita maupun pria), sedang menyusui, kadar asam urat darah tinggi, serta konsumsi obat-obatan lain, khususnya pirazinamid, repaglinid, teofilin, famsiklovir, sulindak, klorokuin, dan oseltamivir. Obat ini tidak boleh dikonsumsi oleh wanita hamil karena berpotensi menimbulkan efek samping pada janin. Perlu diperhatikan juga untuk pasangan yang merencanakan kehamilan karena favipiravir turut terdistribusi dalam sperma, hendak gunakan kontrasepsi yang paling efektif bersama pasangan atau menunggu 7 hari setelah berobat untuk meminimalisir dampak pada janin. Efek samping yang mungkin terjadi dan umum ditemui adalah diare, mual, muntah, sakit perut, radang perut, dan tukak lambung. Pada beberapa kasus, gatal dan eksim, hiperurisemia, gangguan hati, hingga penurunan produksi eritrosit dapat terjadi.

Meskipun segala jenis obat memiliki efek samping dan  dampak yang berbeda pada tiap individu, tetapi kita harus mempertimbangkan manfaat terapetik yang lebih besar dibandingkan efek sampingnya. Terlepas dari segala simpang siur yang dilewati, kini masyarakat tidak lagi perlu merasa khawatir dalam memilih opsi obat Covid-19. Demi mengoptimalkan penggunaannya, favipiravir harus diberikan segera setelah gejala timbul agar efektif dalam mengurangi kadar virus yang tinggi dalam tubuh.

 

 

Referensi:

  1. Furuta Y, Komeno T, Nakamura T. Favipiravir (T-705), a broad spectrum inhibitor of viral RNA polymerase. Proc Jpn Acad Ser B Phys Biol Sci. 2017;93(7):449-63.
  2. Agrawal U, Raju R, Udwadia ZF. Favipiravir: A new and emerging antiviral option in COVID-19. Med J Armed Forces India. 2020 Oct;76(4):370-6.
  3. Joshi S, Parkar J, Ansari A, Vora A, Talwar D, Tiwaskar M, Patil S, Barkate H. Role of favipiravir in the treatment of COVID-19. Int J Infect Dis. 2021 Jan;102:501-8.
  4. Pusat Informasi Obat Nasional. Favipiravir tablet salut selaput 200 mg [Internet]. Jakarta: PIO NAS; 2021. Available from: https://pionas.pom.go.id/obat-baru/favipiravir-tablet-salut-selaput-200-mg
  5. Kementerian Kesehatan. Telemedisin Isoman: Paket obat Covid-19 yang diberikan secara GRATIS [Internet]. Available from: https://faq.kemkes.go.id/faq/paket-obat-covid-19-yang-diberikan-secara-gratis

#Favipiravir pengobatan covid-19

Penulis: Oriana

Editor: Gabrielle Adani

Share your thoughts