Fibrilasi Ventrikel

Definisi dan Informasi Umum

Fibrilasi ventrikel (FV) merupakan salah satu aritmia ventrikel, yaitu keadaan aritmia yang berasal dari miokardium ventrikel atau sistem Purkinje. Kondisi ini merupakan gangguan ritme yang berbahaya, di mana kontraksi ventrikel yang seharusnya terkoordinasi digantikan dengan eksitasi yang sangat cepat, sehingga jantung gagal memompa darah. Hal ini akan berujung pada kematian dalam beberapa menit jika tidak segera ditangani. Fibrilasi ventrikel merupakan kondisi yang paling sering ditemukan pada pasien henti jantung. Sekitar 65-86% pasien yang henti jantung di luar rumah sakit mengalami FV. Kondisi ini merupakan suatu kegawatdaruratan yang harus ditangani dengan bantuan hidup dasar (BLS) maupun bantuan hidup jantung lanjutan (ACLS).1,2

Tanda dan Gejala

Pasien umumnya dibawa ke rumah sakit karena kehilangan kesadaran mendadak, serta mengalami henti jantung dan paru. Sebelumnya, pasien dapat terlebih dahulu mengalami gejala infark miokard akut, seperti nyeri dada, sesak napas, mual, dan muntah. Pasien dengan riwayat penyakit jantung koroner atau gagal jantung kongestif dapat pula menunjukkan gejala kronik yang semakin parah, seperti angina, sesak, dan edema. Pada pemeriksaan, pasien tidak sadar, tidak responsif, dan tidak lagi teraba nadinya.3

Etiologi dan Patogenesis

Fibrilasi ventrikel umumnya dikaitkan dengan penyakit jantung struktural yang mendasarinya. Misalnya, FV dapat disebabkan oleh abnormalitas pada sistem konduksi jantung atau pada miokardium, yang dapat disebabkan oleh penyakit jantung kronik (seperti penyakit jantung koroner atau kardiomiopati), infark miokardium dan iskemia, serta gangguan sistem konduksi jantung yang bersifat kongenital. Selain itu, FV juga dapat disebabkan oleh gangguan elektrolit, gangguan QT kongenital, tersetrum listrik, stimulasi simpatik, asidosis metabolik, serta efek obat-obatan.2,4

Sementara itu, beberapa faktor risiko yang dapat memicu terjadinya FV adalah:

  • Usia antara 45 hingga 75 tahun
  • Riwayat disfungsi ventrikel kiri, terutama dengan fraksi ejeksi <35%
  • Merokok, hipertensi, dan diabetes melitus
  • Kardiomiopati hipertrofik
  • Sindrom Brugada

Patofisiologi

Fibrilasi ventrikel terjadi ketika bagian dari miokardium ventrikel mengalami depolarisasi yang kacau dan tidak terkoordinasi. Hal ini dapat terjadi akibat pembentukan impuls yang abnormal ataupun karena gangguan konduksi impuls.2,5

Pembentukan impuls yang abnormal dapat terjadi akibat peningkatan automatisitas. Hal ini terjadi akibat adanya percepatan dari potensial aksi jantung pada fase 4, umumnya terjadi pada kondisi akut seperti infark miokardium, di mana sel-sel Purkinje di sekeliling area iskemik dapat menginisiasi takikardi ventrikel. Selain itu, triggered activity juga dapat menyebabkan impuls yang abnormal, di mana terjadi kebocoran ion sehingga terjadi depolarisasi yang terlambat dan menyebabkan lonjakan potensial, yang jika cukup bermakna, dapat melebihi ambang refrakter dan mencetuskan potensial aksi baru.2,5

Fibrilasi ventrikel juga dapat terjadi akibat adanya gangguan konduksi impuls. adanya sirkuit reentry menyebabkan terjadinya aritmia ventrikel yang menetap. Hal ini umumnya disebabkan oleh kelainan kronis pada jantung, seperti infark miokard lama. Kondisi tersebut menyebabkan terbentuknya jaringan parut yang berbatasan dengan jaringan sehat, sehingga membentuk keadaan yang ideal untuk sirkuit reentry. Akibatnya, aritmia reentrant dapat terjadi kapan saja.2,5

Ketika terjadi FV, jantung menjadi gagal dalam memompa darah, sehingga keluaran darah dari jantung berkurang. Iskemia miorkadium dapat semakin memburuk dan dapat menyebabkan henti jantung hingga kematian dalam waktu singkat.2,5

Diagnosis

Diagnosis dapat dilakukan berdasarkan gejala klinis ketika pasien datang dan didukung oleh gambaran elektrokardiogram (EKG). Pada EKG pasien FV, dapat ditemukan2,6:

  • Gelombang fibrilasi dengan amplitudo dan bentuk yang beragam
  • Gelombang P, kompleks QRS, dan gelombang T tidak dapat diidentifikasi
  • Denyut jantung antara 150 hingga 500 kali per menit

EKG pada FV
Gambar 1. Gambaran EKG pada FV.

Pada pasien yang selamat dari kejadian FV perlu dilakukan evaluasi riwayat pasien lebih lanjut. Riwayat henti jantung pada keluarga serta obat-obatan aritmogenik yang dikonsumsi perlu diperhatikan. Penyebab FV yang reversibel seperti gangguan elektrolit, asidosis, dan hipoksia perlu diperhatikan dan dikoreksi. Penyakit jantung iskemik dapat diperiksa dengan melakukan ekokardiogram atau angiogram.2,6

Tata Laksana

Karena tingkat mortalitas yang tinggi, FV harus ditangani secepat mungkin. Resusitasi jantung paru atau CPR perlu dilakukan sesegera mungkin sebelum anamnesis maupun EKG. Berikan oksigen dan pasang defibrilator ketika tersedia. Untuk ritme yang shockable (fibrilasi ventrikel dan takikardi ventrikel), dilakukan kejut jantung, dilanjutkan dengan CPR selama 5 siklus, dan kemudian dicek kembali ritmenya. Ketika sudah terdapat akses IV, berikan epinefrin 1 mg setiap 3-5 menit, diberikan sebelum atau setelah kejut jantung yang kedua. Jika ritme masih belum kembali, sebelum atau setelah kejut jantung yang ketiga, dapat diberikan amiodarone 300 mg atau lidokain 1-1,5 mg/kg jika amiodarone tidak tersedia. Untuk siklus-siklus selanjutnya, tetap diberikan epinefrin dan amiodarone secara bergantian seperti ini.7

Untuk ritme yang tidak shockable, teruskan CPR selama 5 siklus atau sekitar 2 menit, kemudian cek kembali ritmenya. Teruskan CPR dan cek ritme setiap 5 siklus. Ketika sudah terdapat akses IV, berikan juga epinefrin 1 mg setiap 3-5 menit atau kurang lebih 2 siklus CPR.7


Gambar 2. Algoritma bantuan hidup dasar untuk henti jantung.6

Komplikasi dan Prognosis

Komplikasi yang dapat terjadi pada fibrilasi ventrikel adalah sebagai berikut:

  • Cedera otak
  • Aritmia pasca-defibrilasi
  • Cedera akibat CPR atau resusitasi
  • Kelumpuhan jangka panjang
  • Kematian

Prognosis FV bergantung pada durasi waktu dari onset hingga penanganan dan defibrilasi. Jika waktu penundaan lebih singkat, pada survival rate dapat mencapai 50%. Survival rate kira-kira berkurang sebanyak 7-10% per menit tanpa CPR dan 3-4% per menit jika terdapat CPR dalam waktu di antara kolaps hingga defibrilasi.2,4

Referensi

  1. Goyal SK. Ventricular fibrillation. Medscape [Internet]. 2018 Jun 06 [cited 2020 Apr 14]. Available from: https://emedicine.medscape.com/article/158712-overview#a3
  2. Ludhwani D, Goyal A, Jagtap M. Ventricular Fibrillation. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; [Updated 2019 Jul 12, cited 2020 Apr 14]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK537120/
  3. Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia. Panduan praktik klinis bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Jakarta: Ikatan Dokter Indonesia; 2017. p.161-2.
  4. Clinical overview: ventricular fibrillation. Elsevier Point of Care. 2018 Nov 7 [cited 2020 Apr 14].
  5. Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Simadibrata M, Setiyohadi B, Syam AF, eds. Buku ajar ilmu penyakit dalam. 6th Jakarta: Interna Publishing; 2014. p.1385-93.
  6. Ventricular fibrillation [Internet]. EKG Academy. [cited 2020 Apr 30]. Available from: https://ekg.academy/learn-ekg?courseid=315&seq=10
  7. 2015 AHA guidelines update for CPR and ECC. Circulation. 2015;132(18 Suppl):S414-S427.

Share your thoughts

Yuk berlangganan SKMA!

Anda akan memperoleh berita dan artikel terkini mengenai isu, perkembangan, dan tips-tips seputar kedokteran dan kesehatan.

Klik link berikut untuk berlangganan SKMA digital!

http://linktr.ee/medaesculapius