Gagal Jantung? Kenali dengan Tanggap!

Angka kematian akibat gagal jantung tinggi. Waktunya jadi lebih tanggap!

Mengenali gagal jantung angka kematian gagal jantung

Angka mortalitas akibat penyakit jantung dan pembuluh darah di Indonesia masih memprihatinkan. Berdasarkan survei WHO tahun 2018, hingga 35% kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit kardiovaskular. Gagal jantung adalah salah satu di antara penyakit kardiovaskular tersebut. Menurut Riskesdas tahun 2013, prevalensi gagal jantung di Indonesia adalah sebesar 0,3%. Gagal jantung didefinisikan sebagai kondisi di mana jantung mengalami disfungsi sehingga tidak mampu memompa darah secara adekuat untuk seluruh tubuh. 

Berdasarkan kapasitas fungsional, gagal jantung diklasifikasikan menjadi kelas I, II, III, dan IV. Pasien gagal jantung kelas I tidak memiliki batasan dalam beraktivitas fisik. Sementara itu, pasien gagal jantung kelas II memiliki batasan ringan dan pasien kelas III memiliki batasan yang cukup bermakna. Pasien gagal jantung kelas IV tidak dapat melakukan aktivitas fisik tanpa keluhan. Mengacu pada pedoman tata laksana gagal jantung yang dikeluarkan PERKI pada tahun 2020, ada beberapa langkah dalam menegakkan diagnosis gagal jantung. Setiap langkah, mulai dari tahap anamnesis, pemeriksaan fisik, hingga pemeriksaan penunjang, perlu dilakukan dengan cermat. 

Anamnesis 

Langkah awal dalam mendiagnosis gagal jantung adalah dengan mengamati kondisi klinis pasien melalui anamnesis. Pasien dengan gagal jantung umumnya memiliki keluhan sesak napas mendadak yang lebih sering dirasakan dalam posisi telentang (ortopnea), batuk-batuk ketika sedang berbaring, edema pada pergelangan kaki, dan cepat lelah. 

Keluhan lain yang lebih jarang ditemui antara lain mencakup berat badan bertambah hingga lebih dari 2 kg per minggu, cepat kenyang, dan perasaan kembung. Selain mengidentifikasi gejala, hal lain yang harus dilakukan adalah bertanya kepada pasien terkait riwayat penyakit dan pola hidupnya yang berpotensi menjadi faktor risiko gagal jantung. 

Pemeriksaan Fisik 

Pada pemeriksaan fisik, pasien dengan penyakit gagal jantung menunjukkan takikardi (>80 kali per menit) dan takipnea (>24 kali per menit). Di samping itu, dapat dijumpai peningkatan tekanan vena jugular. Waktu pengisian kapiler pada pasien gagal jantung juga lebih lama dan dapat mencapai lebih dari 2 detik. Ketika melakukan auskultasi, kita dapat menemukan adanya ronki basah halus, yakni suara patologis yang dihasilkan paru-paru karena terdapat cairan pada alveolus. Suara irama gallop juga dapat terdengar, yang tidak lain adalah irama abnormal jantung karena laju pengisian ventrikel yang cepat.

Pemeriksaan Penunjang 

Pemeriksaan penunjang yang diperlukan meliputi pemeriksaan elektrokardiogram (EKG), rontgen toraks, pemeriksaan laboratorium, dan ekokardiografi. Hasil pemeriksaan EKG biasanya menunjukkan abnormalitas seperti sinus takikardia, sinus bradikardia, dan atrial takikardia. Sementara itu, kelainan yang dapat dilihat pada hasil rontgen toraks pasien gagal jantung mencakup kardiomegali, hipertrofi ventrikel, kongesti paru, edema interstisial, serta efusi pleura.  

Pada pasien yang diduga mengalami gagal jantung, pemeriksaan laboratorium mencakup pemeriksaan darah lengkap (hemoglobin, leukosit, trombosit), kreatinin, elektrolit, glukosa, urinalisis, dan tes fungsi hati. Selain itu, kadar peptida natriuretik juga dapat diamati melalui pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan tambahan dapat dilakukan sesuai dengan gejala klinis yang ditampilkan pasien. Sebagai contoh, apabila pasien menunjukkan gejala klinis dari sindrom koroner akut, pemeriksaan troponin juga dilakukan. 

Untuk mengonfirmasi diagnosis, ekokardiografi wajib segera dilakukan. Pengukuran fungsi ventrikel diperlukan untuk mengidentifikasi penurunan fraksi ejeksi. Diagnosis untuk gagal jantung dengan fraksi ejeksi normal ditegakkan dengan memenuhi 3 kriteria, yakni terdapat tanda gagal jantung, disfungsi diastolik, dan fungsi sistolik yang normal atau hanya mengalami sedikit gangguan. Ekokardiografi transesofagus dapat dilakukan pada pasien dengan obesitas, kelainan katup, dan penyakit jantung bawaan.

Kemampuan melakukan anamnesis dan pemeriksaan dengan tanggap diperlukan dalam mendiagnosis gagal jantung. Hal ini dapat membantu menekan angka kematian akibat penyakit kardiovaskular seperti gagal jantung.

Referensi:

  1. Hersunarti N, Siswanto BB, Erwinanto, Nauli SE, Lubis AC, et al. Pedoman tatalaksana gagal jantung. Jakarta: PERKI; 2020. 
  2. World Health Organization. World health organization – noncommunicable diseases (ncd) country profiles: Indonesia [Internet]. Geneva: WHO; 2018. Available from: https://www.who.int/nmh/countries/idn_en.pdf
  3. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Riset kesehatan dasar: Riskesdas 2013. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2013.

Penulis: Alessandrina Janisha Parinding
Editor: Kareen Tayuwijaya

Share your thoughts

Yuk berlangganan SKMA!

Anda akan memperoleh berita dan artikel terkini mengenai isu, perkembangan, dan tips-tips seputar kedokteran dan kesehatan.

Klik link berikut untuk berlangganan SKMA digital!

http://linktr.ee/medaesculapius