Gangguan Depresi (Major Depressive Disorder)

Definisi

Gangguan depresi merupakan gangguan mood dengan ciri kehilangan energi dan minat, merasa bersalah, kehilangan nafsu makan, sulit berkonsentrasi, dan/atau adanya pikiran untuk bunuh diri atau mati. Gangguan ini merupakan gangguan yang umum dijumpai dengan konsekuensi yang cukup serius. Beberapa bentuk depresi diklasifikasikan berdasarkan situasi yang mendasari, antara lain:1

  • Gangguan depresi persisten (gangguan distimia)

Gangguan distimia adalah kondisi mood dengan ciri depresi selama sekurang-kurangnya dua tahun;

  • Depresi pasca melahirkan/postpartum depression

Wanita yang mengalami jenis depresi ini merasakan gangguan depresi berat setelah kelahiran. Perasaan sedih yang ekstrem, kecemasan, dan kelelahan yang menyertai depresi dapat menyebabkan wanita tidak dapat menjalankan aktivitasnya sebagai ibu;

  • Depresi dengan gejala psikotik

Seseorang yang memiliki depresi parah disertai bentuk psikosis, seperti delusi maupun halusinasi. Umumnya, gejala psikotik menunjukkan tema yang menyedihkan, seperti delusi rasa bersalah, sakit, ataupun kemiskinan;

  • Depresi terkait musim

Permulaan depresi muncul saat musim dingin, ketika cahaya matahari jarang ditemukan. Hal ini meningkatkan waktu tidur, berat badan, dan dapat kembali setiap tahun saat musim dingin berlangsung;

Meskipun berbeda dengan depresi, gangguan bipolar memiliki fase depresi yang dapat digolongkan gangguan bipolar episode depresi.1

Prevalensi seumur hidup gangguan depresi berat adalah sekitar 15%–penderita perempuan dapat mencapai 25%. Prevalensi pada anak sekolah 2%, sedangkan usia remaja 5%. Jumlah kasus perempuan dua kali lipat lebih besar dibanding laki-laki—karena ada perbedaan hormon, melahirkan, stresor psikosoaial, maupun model perilaku perempuan. Umumnya, kasus ditemukan pada usia 40 tahun. Pasien juga seringkali tidak memiliki hubungan interpersonal yang erat.2

Gejala Klinis

Gejala utama dialami sekurang-kurangnya dua minggu, antara lain:

  • Rasa sedih, cemas, atau ‘kosong’ yang menetap
  • Merasa putus asa, pesimis
  • Iritabilitas, mudah marah
  • Merasa bersalah, tidak pantas dan tidak punya harga diri, dan merasa tidak berdaya;
  • Kehilangan minat ataupun kesenangan dalam melakukan hal yang digemari
  • Berkurangnya energi atau kelelahan
  • Berbicara ataupun bergerak dengan lambat
  • Sulit berkonsentrasi, mengingat, maupun mengambil keputusan
  • Perubahan nafsu makan dan/atau berat badan
  • Pikiran atas kematian atau bunuh diri, ada riwayat percobaan bunuh diri
  • Nyeri, pusing, kram, atau masalah saluran pencernaan tanpa penyebab organik.1

Tidak semua pasien depresi memiliki seluruh gejala, tetapi ada juga yang memiliki seluruh cirinya. Keparahan dan/atau frekuensi gejala penumpang serta durasi epiosde depresi bergantung pada kondisi orang tersebut.1

Etiologi & Patogenesis

Layaknya gangguan jiwa lain, penyebab gangguan depresi tidak pasti dan tersusun atas faktor biologik, faktor kepribadian, faktor psikodinamik, dan faktor psikososial.2

Faktor Biologik

Pada gangguan depresi, ditemukan kelainan/disregulasi pada metabolit amin biogenik—5-hydroxyindoleacetic acid (HIAA), homovanilic acid (HVA), dan 3-methaxy-4-hydroxyphenyl-glycol (MPHG)—yang dapat ditemui dalam darah, urin, maupun cairan serebrospinal.2

Terdapat dua neurotransmitter yang memiliki peran penting dalam patofisiologi gangguan mood, yaitu:2

  1. Norepinefrin

Penurunan regulasi reseptor beta adrenegik serta respons klinis antidepresi memiliki peran langsung dalam noradrenergik pada jantung. Selain itu, aktifnya reseptor yang mengakibatkan pengunangan jumlah norepinefrin yang disekresikan;

  1. Serotonin

Aktivitas serotonin berkurang pada kasus depresi. Serotonin berfungsi sebagai kontrol regulasi afek, tidur, agresi, serta nafsu makan.2

Faktor genetik

Keluarga inti memiliki risiko 2-10 kali lebih sering menjadi pasien depresi. Orang tua dengan gangguan mood cenderung akan menurunkannya pada anak.2

Faktor psikososial

Peristiwa kehidupan yang menyebabkan seseorang tertekan/stres dapat memicu terjadinya depresi. Beberapa faktor adalah kehilangan orang tua sebelum berusia 11 tahun dan kehilangan pasangan. Beberapa faktor risiko lain adalah hilangnya pekerjaan maupun hilangnya objek cinta pada masa perkembangan.2

Faktor Kepribadian

Orang-orang dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif, histrionik, dan ambang menunjukkan bahwa risiko depresi lebih tinggi dibandingkan depresi akibat gangguan kepribadian paranoid/antisosial. Riset mengemukakan bahwa pasien yang memiliki pencetus stres karena tidak adanya kepercayaan diri lebih sering mengeluhkan depresi.2

Faktor Psikodinamik

Teori Freud dan Karl Abraham menjelaskan bahwa ada empat hal utama, yaitu: (1) gangguan hubungan ibu-anak dalam kurun fase oral (10-18 bulan); (2) depresi akibat cinta nyata ataupun fantasi kehilangan objek; (3) introyeksi untuk meredakan penderitaan akibat hilangnya objek cinta; (4) kehilangan objek cinta dan rasa marah yang ditujukan oleh diri sendiri.2

Diagnosis

Berdasarkan DSM IV, kriteria depresi dapat ditegakkan dengan memenuhi kriteria diagnosis berikut:3

  • Pasien menunjukkan mood terdepresi/kehilangan minat sepanjang 2 minggu atau lebih karena gejala-gejala seperti:
    • Gangguan tidur
    • Menurunnya minat/kesenangan pada hampir sepanjang hari
    • Rasa bersalah yang berlebihan
    • Hilangnya energi atau merasa letih sepanjang waktu
    • Sulit berpikir dan berkonsentrasi
    • Perubahan pada nafsu makan
    • Timbul pikiran berulang untuk melakukan bunuh diri.
  • Gejala tidak memenuhi urutan kriteria episode campuran;
  • Gejala menimbulkan penderitaan dan/atau keterbatasan dalam menjalankan fungsi sosial;
  • Gejala bukan karena efek fisiologis langsung dan/atau penggunaan zat medis;
  • Gejala tampak seperti gejala duka cita yang mendalam.3

Tata Laksana

Penanganan gangguan depresi mayor dilakukan dengan farmakoterapi dan psikoterapi:1,2

Farmakoterapi

  1. Antidepresan

Penggunaan obat secara spesifik dipekirakan menunjukkan kemungkinan sembuh dua kali lipat dalam satu bulan. Namun, beberapa pasien tidak merespons terapi pertama. Obat antidepresan membutuhkan waktu 3-4 minggu untuk memberikan efek bermakna

Salah satu contoh antidepresan yang paling umum adalah obat-obat golongan Serotonin Selective Reuptake Inhibitor (SSRI). Contohnya adalah sertralin, fluoksetin, dan paroxetine;

Antidepresan golongan lain yang dapat digunakan adalah golongan Serotonine-Norepinephrine Reuptake Inhibitor (SNRI), dan golongan antidepresan trisiklik (TCA)1

  1. Antipsikotik

Penggunaan obat antipsikotik dapat dipertimbangkan apabila terdapat gejala psikotik yang menyertai depresi. Pemilihan obatnya dilakukan oleh psikiater, namun umumnya digunakan antipsikotik golongan atipikal yang memiliki efek samping lebih rendah dan lebih ditoleransi pasien.1

 Psikoterapi

Beberapa tipe psikoterapi dapat dipilih orang dengean depresi. Terapi yang dapat dipilih antara lain terapi suportif, terapi perilaku/kognitif, atau psikoterapi rekonstruktif. Psikoterapi diberikan untuk membantu pasien mengembangkan serta menjalankan strategi coping untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika pasien menunjukkan depresi tipe psikotik, psikoterapi yang dapat dilakukan hanyalah terapi suportif.1,2

Prognosis

Prognosis kemungkinan baik apabila ada beberapa indikator berikut ini, yaitu episode ringan, waktu rawat inap yang singkat, tidak ada gejala psikotik, mempunyai teman akrab saat masa remaja, keluarga stabil, fungsi sosial baik sebelum sakit, dan tidak ada komorbiditas gangguan psikiatrik lain.2

Sementara itu, prognosis kemungkinan buruk apabila ada depresi berat bersamaan dengan distimik, penyalahgunaan zat dan alkohol, gejala cemas, serta riwayat lebih dari sekali depresi.2

Referensi

  1. Depression [Internet]. US: National Institute of Mental Health; 2018 Feb [cited 2020 March]. Available from: nimh.nih.gov/health/topics/depression/
  2. Ismail RI, Kurniasanti KS. Gangguan depresi. In: Elvira SD, Hadisukanto G, editors. Buku ajar psikiatri. 3rd Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2018. p.259-74.
  3. American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder. 4th Washington: American Psychiatric Association; 1994.

Share your thoughts