Hindari Komplikasi dengan Cermat Tangani Gout

Bahaya komplikasi dapat mengancam kualitas hidup pasien, tata laksana artritis gout dengan tepat adalah tamengnya

Artritis gout merupakan penyakit metabolik yang amat sering menimpa kalangan pria usia paruh baya dan wanita pasca-menopause. Penyakit ini lebih sering dikenal sebagai gout atau penyakit asam urat ini di kalangan masyarakat. Gout memiliki prevalensi yang berbeda-beda di tiap daerahnya. Etnis Sangihe di Minahasa Utara menunjukkan prevalensi gout sebesar 29,2 persen.

Gout disebabkan oleh deposisi kristal monosodium urat (MSU) di persendian, ginjal, dan jaringan ikat lain akibat hiperurisemia yang berlangsung kronik. Apabila tidak ditangani dengan baik, dapat terjadi pembentukan deposit kristal MSU (tofi: tunggal; tofus: jamak), gangguan fungsi ginjal berat, hingga penurunan kualitas hidup.. Dalam mengarahkan tata laksana gout di Indonesia, Perhimpunan Reumatologi Indonesia telah mengeluarkan Pedoman Diagnosis dan Pengelolaan Gout pada tahun 2018.

Perjalanan klinis gout terdiri atas tiga fase, yakni hiperurisemia tanpa gejala klinis, artritis gout akut diselingi interval tanpa gejala klinis, dan artritis gout kronis. Pada manifestasi klinis awal, artritis gout akut dapat ditemukan pada sendi metatarsophalangeal (MTP). Serangan awal gout pada pasien dapat muncul di malam hari yang ditandai dengan sakit parah pada sendi disertai dengan bengkak, hangat, dan merah. Serangan artritis selanjutnya dapat dialami dalam enam bulan sampai dua tahun setelah serangan awal dengan gejala nyeri yang muncul di lebih dari satu persendian, durasi yang lebih lama, dan interval yang lebih pendek. Dalam lima tahun setelah awitan pertama, pasien dapat mengalami artritis gout kronis dengan deformitas sendi dan tofus pada jaringan.

Dalam menata laksana hiperurisemia dan gout, prinsip umum yang perlu dipahami adalah diperlukan tata laksana terkait penyakit komorbid, edukasi mengenai modifikasi gaya hidup, dan melakukan anamnesis maupun pemeriksaan penapisan atas berbagai komorbid dan faktor risiko. Pada pasien dengan hiperurisemia tanpa gejala klinis, tata laksana yang paling direkomendasikan adalah modifikasi gaya hidup yang terdiri dari menurunkan atau menjaga berat badan ideal, menghindari makanan berkalori tinggi serta daging merah berlebihan, mengonsumsi makanan rendah lemak, dan membiasakan latihan fisik secara teratur. Pemberian obat penurun asam urat tidak dianjurkan secara rutin dengan mempertimbangkan risiko dan efektivitas obat tersebut.

Sementara itu, pada tata laksana gout akut, serangan yang terjadi harus ditangani secepatnya dan disertai evaluasi kontraindikasi pada pasien. Pilihan terapi yang dianjurkan pada awitan di bawah 12 jam adalah kolkisin dengan dosis awal 1 mg, dilanjutkan 1 jam kemudian dengan dosis sebesar 0,5 mg. Pilihan terapi lain adalah OAINS, kortikosteroid oral, dan dapat disertai dengan aspirasi sendi diikuti injeksi kortikosteroid bila diperlukan. Pemberian obat penurun asam urat juga tidak dianjurkan pada pasien dengan serangan gout akut, tetapi dapat dilanjutkan jika pasien telah rutin mengonsumsi obat tersebut.

Pada pasien yang datang dengan gout kronis, tata laksana yang diberikan adalah terapi penurun asam urat dan profilaksis untuk mencegah serangan akut. Terapi penurun asam urat yang dapat diberikan adalah alopurinol dengan dosis 100–900 mg/hari, probenesid dengan dosis 1–2 g/hari, atau febuxostat dengan dosis 80-120 mg/hari. Semua pilihan obat penurun asam urat dimulai dengan dosis rendah dan titrasi dosis meningkat sampai tercapai kadar asam urat di bawah 6 mg/dL, setelah itu dosis dapat dipertahankan seumur hidup. Adapun terapi pencegahan serangan gout akut dapat diberikan selama 6 bulan sejak awal pemberian terapi penurun asam urat dengan kolkisin 0,5–1 mg/hari maupun OAINS dosis rendah pada pasien kontraindikasi kolkisin.

Gout merupakan penyakit yang sangat umum terjadi di masyarakat, namun seringkali disertai berbagai faktor risiko dan penyakit komorbid pada pasien. Oleh karena itu, penatalaksanaannya memerlukan perhatian khusus sesuai fase yang sedang dialami pasien karena risiko komplikasi yang dapat menyertai apabila pasien tidak ditangani dengan cermat. rahmi

Referensi:

  1. Perhimpunan Reumatologi Indonesia. Pedoman diagnosis dan pengelolaan gout. 2018.
  2. Ahimsa T, Karema-K AMC. Gambaran Artritis Gout dan Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Kadar Asam Urat di Minahasa. Tesis. 2003.

Share your thoughts

Yuk berlangganan SKMA!

Anda akan memperoleh berita dan artikel terkini mengenai isu, perkembangan, dan tips-tips seputar kedokteran dan kesehatan.

Klik link berikut untuk berlangganan SKMA digital!

http://linktr.ee/medaesculapius