HIV/AIDS

Definisi

Human immunodeficiency virus (HIV) adalah virus yang menyerang manusia dan menyebabkan kondisi acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). AIDS adalah tahap akhir dari infeksi HIV dan ditandai dengan jumlah CD4 di bawah 200 sel/ul.2

Etiologi & Faktor Risiko

Patogen Human Immunodeficiency Virus (HIV) berasal dari lymphotropic lentivirus dari famili retroviridae dan terbagi menjadi 2 spesies, HIV-1 dan HIV-2. HIV ditransmisikan melalui berbagai macam cairan tubuh dari orang yang sudah terinfeksi, yaitu jalur seksual, parenteral, dan vertikal.2 Contoh cairan tubuh yang dapat mengandung HIV adalah darah, ASI, semen, dan sekret vagina. HIV juga dapat ditransmisikan dari ibu kepada anak pada saat masa kehamilan maupun saat melahirkan. HIV tidak ditularkan melalui ciuman, pelukan, berjabat tangan, menggunakan alat yang sama (baju, kaus kaki, dll.), ataupun makanan1.

Faktor risiko

Faktor risiko dari HIV/AIDS adalah sebagai berikut:1

  • hubungan seksual (sesama laki-laki)
  • penggunaan obat suntik (misal : narkoba)
  • pekerja seksual dan klien
  • transgender
  • tinggal di penjara atau lingkungan tertutup
  • memiliki anus atau vagina yang tidak terlindungi
  • transfusi darah yang terinfeksi
  • penggunaan jarum yang terinfeksi

Manifestasi Klinis

Gejala umumnya berbeda-beda pada setiap tahap infeksi. Pada bulan-bulan awal terinfeksi, pasien masih tampak tidak bergejala. Hingga beberapa minggu setelahnya, barulah orang yang terinfeksi tersebut mulai merasa demam, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Ketika infeksi lebih berkembang lagi, pasien dapat mulai merasa pembengkakan nodus limfa, penurunan berat badan, demam, diare, batuk, dan penyakit-penyakit infeksi lainnya.1

Patogenesis & Patofisiologi

HIV menargetkan sistem imun dan melemahkan sistem pertahanan tubuh inang sehingga menjadi rentan terhadap berbagai infeksi bahkan kanker. Virus ini menghancurkan dan mengacaukan fungsi sel imun, terutama reseptor CD4+ pada sel target (misal limfosit T, makrofag, monosit, sel dendritik di SSP) dengan glikoprotein binding gp1202, sehingga inang mengalami imunodefisiensi.1 Setelah virus menempel, envelop virus berfusi dengan sel inang sehingga kapsidnya masuk ke dalam sel inang. RNA virus ditranskripsikan ke DNA dan berintegrasi dengan DNA inang. DNA viral ini kemudian bereplikasi dalam tubuh inang. DNA virus membuat bagian sel membran menjadi envelop virus dan meninggalkan sel sehingga sel mengalami kematian.2

Limfosit CD4+ yang terinfeksi menyebar ke tempat-tempat sekitarnya seperti nodus limfa dan GALT sehingga menyebabkan infeksi akut berupa diseminasi dan pertumbuhan masif DNA virus. Setelah tahap infeksi akut, produksi virus menurun tetapi tetap menyerang CD4+ sedikit demi sedikit (umumnya 6-8 tahun). Tahap inilah yang biasa disebut latensi klinis (clinical latency). Penurunan CD4+ yang terus-menerus berujung pada AIDS di mana banyak terjadi infeksi oportunistik dan perkembangan malignansi yang dapat berujung pada kematian.2

Diagnosis

HIV dapat didiagnosis melalui rapid diagnostic test dengan hasil yang akan keluar hari itu juga. Tes ini dapat dilakukan sendiri, namun tes konfirmasi juga tetap perlu dilakukan . Uji konfirmasi dapat dilakukan di pusat kesehatan dengan mengecek antibodi yang dihasilkan sebagai respons imun terhadap HIV. Antibodi dapat ditemukan setelah kurang lebih 28 hari infeksi. Periode hari 1-28 disebut sebagai “window-period”, di mana belum terlihat gejala sehingga sering dapat menularkan ke orang lain tanpa diketahui. Untuk orang yang mendapatkan hasil tes positif HIV, dianjurkan untuk melakukan tes ulang untuk kembali memastikan sebelum memulai tindakan pengobatan.1

Rapid test dapat digunakan untuk remaja hingga dewasa. Namun untuk bayi yang mendapat transmisi vertikal atau mother-to-child transmission (MTCT), tes serologi tidak cukup dan perlu dilakukan tes virologi. Tes ini berlaku untuk anak di bawah 18 bulan.1

grafik

Gambar 1. Grafik perjalanan infeksi HIV/AIDS.

(Sumber gambar: Sumber gambar : https://www.amboss.com/us/knowledge/Human_immunodeficiency_virus)

Terdapat kategori HIV berdasarkan jumlah CD4+ dan kondisi klinis pasien dari CDC. Kategori tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

tabel

WHO juga memiliki klasifikasi HIV berdasarkan temuan klinis dan diagnostik, yaitu2:

  1. Primary HIV infection: asimptomatik, kondisi akut
  2. Stase klinis 1: PGL / limfadenopati, asimptomatik
  3. Stase klinis 2: penurunan berat badan (<10%), infeksi berulang
  4. Stase klinis 3: penurunan berat badan (<10%), diare kronik >1 bulan, demam persisten, infeksi berulang, anemia (<8 g/dL) dan/atau neutropenia (<500 sel/μL) dan/atau trombositopenia kronik (<50.000/μL >1 bulan)
  5. Stase klinis 4: AIDS-defining conditions

Kondisi AIDS-defining yang dimaksud antara lain adalah infeksi berulang oral herpes simpleks, esofagitis kandida, diare cryptosporidium, Kaposi’s sarcoma, kanker serviks, tuberkulosis reaktif, coccidioidomycosis, cryptosporidiosis, dementia, pneumocystis pneumonia, toksoplasmosis serebral, infeksi CMV, dan kandidiasis.4,5

Tata Laksana

Belum ada obat yang dapat membunuh virus ini, tetapi pasien HIV dapat diberikan ART (anti-retroviral therapy) yang berisi >3 obat ARV (anti-retroviral). ART diberikan pada mayoritas Ibu hamil dan menyusui penderita HIV untuk mencegah transmisi HIV ke janin/neonatus. Obat ini dapat mengontrol dan menekan aktivitas virus sehingga dapat mencegah transmisi lebih lanjut ke orang lain. Selain menekan aktivitas virus, ART juga membantu menguatkan sistem imun sehingga tubuh dapat melawan infeksi.1

Terdapat beberapa jenis obat ARV2, yaitu :

  1. NRTI (Nucleotide reverse transcriptase inhibitors)
    1. Mekanisme kerja: mencegah pembentukan fosfodiester sehingga mencegah transkripsi virus dari RNA ke DNA.
    2. Efek samping: supresi sumsum tulang (neutropenia, anemia), toksisitas mitokondria, dapat terjadi resistensi jika ada mutasi pada gen yang mengkode reverse transcriptase.
  2. NNRTI (non-nucleotide reverse transcriptase inhibitors)
    1. Mekanisme kerja: inhibitor non-kompetitif untuk reverse transcriptase virus sehingga tidak membutuhkan fosforilasi intraseluler
    2. Efek samping: hepatotoksisitas, toksisitas SSP, reaksi hipersensitivitas (sindrom Steven-Johnson)
  3. PI (protease inhibitor)
    1. Mekanisme kerja: inhibisi protease virus sehingga virus tidak bisa memecah polipeptida dan virus tidak bisa matur.
    2. Efek samping: intoleransi saluran pencernaan (diare, mual), akumulasi lipid, batu ginjal, nefropati, hiperglikemi
  4. INI (integrase inhinitor): inihibitor integrase virus
  5. Nucleotide analog: inhibitor nukleotida reverse transcriptase
  6. Fusion inhibitor: menempel pada protein gp41 virus dan mencegah fusi virus dengan sel
  7. CCR5-antagonist: memblokir CCR5 ko-reseptor yang berfungsi sebagai sarana HIV menginfeksi sel

Regimen yang direkomendasikan merupakan: 3 NRTI ATAU 2 NRTI dan 1 NNRTI/1 PI/ 1 INI.3 Sedangkan kandungan ARV yang dianjurkan oleh WHO adalah dolutegravir-based dan efavirenz dosis rendah sebagai terapi lini pertama, sedangkan raltegravir dan darunavir/ritonavir sebagai pilihan terapi lini kedua. Rekomendasi ini memiliki toleransi yang lebih besar, efikasi lebih tinggi, dan angka diskontinu yang lebih kecil.1

Sebenarnya, akan lebih baik jika HIV dicegah. Tindakan preventif untuk mencegah terkena HIV adalah dengan vaksinasi sedini mungkin. Selain itu, skrining pada awal kelahiran untuk memberikan ARV sedini mungkin pada neonatus juga perlu dilakukan.2

Prognosis & Komplikasi

Mayoritas pasien HIV akan berkembang menjadi AIDS dalam 10 tahun jika tidak diobati. Sebaliknya, penderita HIV dapat hidup lebih dari 10 tahun jika mendapatkan terapi anti-retroviral. Prognosis dari AIDS sendiri kurang baik karena umumnya pertahanan tubuh seseorang akan semakin melemah seiring berjalannya waktu sehingga mudah terkena berbagai macam penyakit. Pasien AIDS dapat meninggal dalam 2 tahun jika tidak diobati.4

Penyebab kematian dari pasien AIDS merupakan penyakit-penyakit komplikasi seperti tuberkulosis, meningitis cryptococcal, infeksi bakteri, kanker (limfoma otak dan Kaposi’s sarcoma), pneumonia, dan toksoplasmosis serebral.2 Pada tahun 2018, WHO mencatat ada 770.000 orang meninggal karena HIV dan menginfeksi 1,7 juta orang baru.1

Referensi

  1. HIV/AIDS [internet]. Geneva: WHO, 2019 Nov 15 [cited 2020 Aril 14]. Available from : https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hiv-aids
  2. Human immunodeficiency virus [internet]. [place unknown]: Amboss, Updated 2020 April 09 [cited 2020 April 14]. Available from : https://www.amboss.com/us/knowledge/Human_immunodeficiency_virus
  3. Guidelines for the Use of Antiretroviral Agents in HIV-1-Infected Adults and Adolescents. [place unknown] : AIDSinfo, updated July 14, 2016 [cited 2020 April 14]. Available from : https://aidsinfo.nih.gov/contentfiles/lvguidelines/AA_Recommendations.pdf
  4. Waymack JR, Sundareshan V. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Treasure Island (FL): StatPearls Publishing, 2020 Jan [cited 2020 Apr 14]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK537293/
  5. HIV-associated condition [internet]. [place unknown]: Amboss, Updated 2020 April 07 [cited 2020 April 14]. Available from : https://www.amboss.com/us/knowledge/HIV-associated_conditions

Share your thoughts