Ikterus pada Neonatus: Fisiologis atau Patologis?

Sebagai petugas kesehatan, kasus ikterus atau jaundicepada neonatus akan sering ditemukan.  Namun, apakah kita telah piawai membedakan keadaan ini tersebut fisiologis atau patologis?

Ikterus pada Neonatus: Fisiologis atau Patologis
Ikterus pada Neonatus: Fisiologis atau Patologis?

Ikterus didefinisikan sebagai warna kuning pada kulit, sklera, atau membran mukosa yang disebabkan oleh penumpukan bilirubin yang berlebih. Sebanyak 60% bayi cukup bulan dan 80% bayi kurang bulan akan mengalaminya. Bahkan, bayi akan tampak kuning jika kadar bilirubin total > 5 mg/dl.

Mengapa ikterus penting?

Ikterus dapat merupakan tanda dari penyakit yang sebenarnya sehingga menjadi clue tersendiri dalam mendiagnosis etiologi. Selain itu, ikterus yang tidak tangani secara cepat dan tepat dapat menimbulkan kernikterus, yaitu ensefalopati akibat kadar bilirubin indirek yang berlebih pada ganglia basal dan nukleus batang otak. Hal tersebut ditandai dengan tampak iritabilitas pada bayi, letargi, malas minum, demam, kejang, koma, bahkan mati.

Fisiologis vs Patologis

Ikterus fisiologis memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Timbul kuning setelah usia 24 jam
  • Peningkatan bilirubin tidak lebih dari 5 mg/dL dalam 24 jam
  • Mencapai kadar puncak pada hari ke-3 sampai hari ke-5 (pada bayi kurang bulan: kadar puncak  pada hari ke-4 hingga hari ke-7) dan kadar maksimal tidak lebih dari 15 mg/dL
  • Menghilang pada hari ke-7 (pada bayi kurang bulan akan menghilang sejak hari ke-14)

Di sisi lain, ikterus patologis umumnya ditandai dengan:

  • Muncul pada 24 jam pertama
  • Peningkatan bilirubin > 5 mg/dL per 24 jam
  • Kuning menetap setelah hari ke-7 (aterm) atau setelah hari ke-14 (preterm)
  • Kadar bilirubin total > 15 mg/dL

Secara umum, ikterus fisiologis terjadi akibat 2 proses, yaitu

  1. Produksi bilirubin meningkat:
    • Konsentrasi Hb tinggi saat lahir dan menurun cepat selama beberapa hari pertama kehidupan
    • Umur sel darah merah pada bayi baru lahir lebih pendek
  2. Ekskresi bilirubin menurun:
    • Ambilan pada sel hati menurun
    • Konjugasi di hati menurun karena imaturitas enzim-enzim hati
    • Sirkulasi enterohepatik meningkat

Pendekatan ikterus bermacam-macam, salah satunya berdasarkan awitan.

  1.  < 24 jam: Pikirkan hemolisis (ABO, rhesus, defisiensi G6PD, sferositosis herediter) atau infeksi
  2. 24 – 72 jam: Diagnosis bandingnya adalah
    • Fisiologis
    • Sepsis
    • Polisitemia
    • Perdarahan intraventrikular
    • Sirkulasi enterohepatik meningkat
  3. > 72 jam:
    • Sepsis
    • Sefalhematoma
    • Breastmilk jaundice
    • Kelainan metabolik
    • Hepatitis neonatal
    • Atresia bilier

Dengan pengenalan jenis secara tepat dan cepat, rujukan dapat lebih cepat dilaksanakan demi mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

 

Referensi:

  1. Kasim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A. Buku ajar neonatologi. 1st ed. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2008

 

Share your thoughts