Impetigo

Definisi dan Informasi Umum

Impetigo merupakan bentuk pioderma (infeksi bakteri pada kulit dan jaringan sekitarnya). Impetigo tergolong ke dalam pioderma superfisialis, yakni infeksi yang terbatas pada lapisan epidermis. Penyakit ini ditandai dengan adanya plak eritematosa (bercak kemerahan) disertai pustul (nanah) atau vesikel (lenting) yang dapat berkembang menjadi bula (lepuh berisi nanah) maupun krusta (nanah mengering) berwarna kuning seperti madu.1-2

Impetigo lebih sering dijumpai pada negara dengan iklim tropis dan dataran rendah. Kondisi lingkungan yang hangat dan lembab bersama dengan kerusakan kulit yang dimediasi gigitan serangga mendukung berkembangnya penyakit ini di negara-negara dengan iklim tropis. Lingkungan yang ramai penduduk dan kebersihan diri yang buruk juga menjadi faktor risiko terjadinya impetigo.3

Di dunia, prevalensi impetigo paling tinggi dijumpai di benua Oseania, terutama pada komunitas aborigin Australia. Impetigo dijumpai pada negara yang miskin sumber daya dan pada populasi miskin di negara-negara berpenghasilan tinggi. Secara global, prevalensi impetigo diperkirakan mencapai 111–162 juta pada tahun 2015, paling banyak dijumpai pada anak-anak dengan penurunan prevalensi seiring meningkatnya usia.4

Indonesia sendiri belum memiliki data prevalensi impetigo secara nasional.

Sinonim:

  • Impetigo bulosa: impetigo vesiko-bulosa, cacar monyet
  • Impetigo krustosa: impetigo nonbulosa, impetigo kontagiosa, impetigo Tillbury Fox, impetigo vulgaris

Etiologi

Terdapat dua pola klinis dari impetigo, yaitu:

  • Impetigo bulosa (30% kasus impetigo):
    • Disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus
    • gambaran khas: adanya bula hipopion
    • paling umum dijumpai pada neonatus dan anak besar
  • Impetigo krustosa (70% kasus impetigo):
    • Disebabkan bakteri Staphylococcus aureus (paling sering, 80%), Streptococcus beta hemolitikus grup A (10%), atau campuran keduanya (10%)
    • gambaran khas: adanya krusta kuning madu
    • paling umum dijumpai pada anak-anak, namun juga dapat dijumpai pada orang dewasa

Patogenesis dan Patofisiologi

Impetigo dapat dibedakan menjadi primer dan sekunder. Impetigo primer melibatkan kulit normal yang dipengaruhi oleh invasi bakteri secara langsung, sedangkan impetigo sekunder melibatkan infeksi pada kulit yang mengalami luka.6

Normalnya, kulit yang intak bersifat resisten terhadap infeksi yang dapat menyebabkan impetigo. Sedangkan kondisi yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap impetigo, meliputi:6

  • Kondisi yang merusak kulit: membuat terpaparnya reseptor fibronektin pada bakteri Streptococcus beta hemolitikus grup A dan Staphylococcus aureus yang diperlukan mereka untuk melakukan kolonisasi, seperti dermatitis atopik, gigitan serangga, infeksi varicella, herpes simpleks, trauma kulit, luka bakar
  • Kondisi yang menurunkan sistem kekebalan tubuh: Malnutrisi, diabetes, anemia, neoplasma ganas, dan kebersihan diri yang buruk

Tanda dan Gejala

Manifestasi impetigo dibedakan berdasarkan jenis pola klinisnya:2,5,6

  • Impetigo bulosa
    • Lesi awal berupa vesikel-bula (lenting) kecil yang kendur, dapat menjadi bula hipopion/bula pipih yang pecah meninggalkan dasar eritematosa kemerahan dengan kulit kering
    • Daerah sekeliling umumnya tidak terlihat eritema
    • Umum dijumpai gejala sistemik seperti demam
    • Paling sering dijumpai pada daerah lipatan – ketiak, lipat siku, bokong, punggung, dan dada
  • Impetigo krustosa:
    • Lesi awal berupa papul atau makula eritematosa (bercak kemerahan) yang secara cepat berkembang menjadi pustul ataupun vesikel (lenting berisi nanah) multipel. Pustul/vesikel akan pecah membentuk krusta tebal berwarna kuning seperti madu yang dikelilingi daerah eritema. Apabila krusta dilepaskan, tampak erosi di bawahnya.
    • Lesi umumnya terasa gatal, dapat melebar hingga 1-2 cm
    • Predileksi lesi: area wajah, terutama sekitar mulut dan lubang hidung, serta ekstremitas yang mengalami trauma.

gejala impetigo

gejala impetigo 2Gambar 1. Impetigo bulosa, terlihat lenting multipel dengan isi cairan jernih yang menyatu menjadi lepuh.1

gejala impetigo 3Gambar 2. Impetigo bulosa. Bulla (lepuh) yang telah pecah, menimbulkan kolaret (kulit kemerahan).7

gejala impetigo 4

gejala impetigo 5Gambar 3. Impetigo krustosa. Krusta (nanah kering) berwarna madu dan eritema pada hidung dan bagian atas bibir.1

Diagnosis

Diagnosis impetigo umumnya ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik.5,6

Pada pasien dengan tampilan klinis yang khas, terapi dapat langsung diberikan. Namun, dapat dilakukan:2,6

  • Pewarnaan gram dan kultur menggunakan spesimen pus atau eksudat apabila:
    • penyebabnya belum diketahui dan lesi tidak spesifik (sebagai pemeriksaan konfirmasi)
    • penyebabnya diperkirakan adalah MRSA (methicillinresistant Staphylococcus aureus)
    • Impetigo tidak respon dengan obat
  • Pemeriksaan resistensi: apabila tidak responsif dengan pengobatan empiris
  • Pemeriksaan darah perifer lengkap, kreatinin, dan CRP: apabila diduga bakteremia

Tata Laksana

Terapi nonmedikamentosa meliputi mandi dua kali sekali dengan sabun serta identifikasi dan mengatasi penyakit kulit lain, contohnya dermatitis atopik atau gigitan serangga.2

Pada impetigo bulosa maupun krustosa yang sedikit dan ringan, diberikan salep antibiotik. Pada impetigo bulosa, apabila hanya terdapat beberapa vesikel/bula maka dipecahkan terlebih dahulu dan turut diberikan cairan antiseptik. Apabila lesi kulit banyak, maka diberikan pula antibiotik sistemik. Adapun pilihan terapi yang dapat diberikan:2

  • Terapi topikal – jika infeksi kulit terbatas pada satu tempat
    • apabila banyak nanah atau krusta: kompres terbuka dengan asam salisilat 0,1% atau NaCl 0,9% 15-20 menit sebanyak 3 kali/hari.
    • Bila tidak tertutup nanah/krusta dapat diberikan salap antibiotik asam fusidat 2%, dioleskan 2—3 kali/hari selama 7—10 hari
  • Terapi sistemik – jika infeksi kulit menyeluruh diberikan selama minimal 7 hari:
    • Amoksisilin dan asam klavulanat:
      • 250—500 mg/hari (dewasa), 3 kali sehari
      • 25 mg/kgBB/hari (anak) yang terbagi dalam 3 dosis
    • Kloksasilin/dikloksasilin:
      • 250—500mg/hari (dewasa), 4 kali sehari
      • 25—50 mg/kgBB/hari (anak) yang terbagi dalam 4 dosis

Apabila terdapat lesi abses besar yang terasa nyeri, dapat dilakukan tindakan insisi dan drainase.2

Komplikasi dan Prognosis

Tanpa diobati, impetigo akan sembuh dalam 14—21 hari tanpa gejala sisa, dengan 20% kasus sembuh sendiri secara spontan. Namun, kadang beberapa komplikasi dapat terjadi. Dengan pengobatan, impetigo dapat sembuh dalam 10 hari. Prognosis impetigo secara umum cukup baik.6

Apabila tidak ditangani, infeksi Streptococcus aureus dapat menimbulkan komplikasi yaitu:6

  • Infeksi multiorgan: osteomielitis (infeksi tulang), artritis septik (infeksi sendi), , endokarditis (infeksi jantung), pneumonia (infeksi paru), sepsis
  • Infeksi kulit dalam: selulitis, furunkel, karbunkel, abses
  • Penyebaran secara sistemik: toxic shock syndrome, scarlet fever, staphylococcal scalded skin syndrome

Pada infeksi Streptococcus pyogenes, dapat muncul komplikasi setelah masa laten 1—4 minggu (rata-rata 7 hari) . Komplikasi yang dapat terjadi adalah:1

  • Glomerulonefritis akut: terjadi pada 2—5% kasus impetigo, ditandai darah dan protein pada urin, edema, hipertensi, dan peningkatan nitrogen urea darah.
  • Demam rematik akut: sekuela S. pyogenes yang paling serius, menyebabkan kerusakan pada miokardium dan katup jantung. Gejalanya adalah demam, malaise, poliartritis nonsupuratif, dan peradangan pada seluruh bagian jantung.

Referensi

  1. Taylor JS, Sood A, Amado A. Burns. In : Fitzpatricks dermatology in general medicine. 8th ed. Mc-Graw Hill;2012. p.2719-23.
  2. Pioderma. In : Panduan praktik klinis bagi dokter spesialis kulit dan kelamin di Indonesia. PERDOSKI;2017. p.121-4.
  3. Lewis LS. Impetigo [Internet]. Medscape. [updated 2019 Sep 24, cited 2020 Feb 13]. Available from: https://emedicine.medscape.com/article/965254-overview#a5
  4. Bowen AC. The global epidemiology of impetigo: a systematic review of the population prevalence of impetigo and pyoderma. PLoS One. 2015; 10(8): e0136789.
  5. Menaldi SL, Bramono K, Indriatmi W. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. 7th ed. Jakarta:Badan penerbit FKUI;2014.
  6. Nardi NM, Schaefer TJ. Impetigo. Treasure Island: StatPearls Publishing; 2020. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430974/
  7. James WD, Elston DM, McMahon PJ. Andrews’ diseases of the skin: clinical atlas. Edinburgh: Elsevier; 2018. P. 255.

Share your thoughts