Insomnia

Definisi dan Informasi Umum Penyakit

Definisi

Insomnia adalah kondisi klinis umum yang ditandai dengan kesulitan memulai atau mempertahankan tidur, disertai dengan gejala seperti rasa tidak nyaman atau kelelahan ketika tidak tidur.

Klasifikasi

Klasifikasi insomnia menurut International Classification of Sleep Disorders versi 2 (ICSD-2) adalah:

  • akut
  • psikofisiologis
  • paradoks
  • idiopatik
  • karena gangguan mental
  • kebersihan (hygiene) tidur yang tidak layak
  • perilaku anak-anak
  • karena obat atau zat
  • karena kondisi medis
  • bukan karena zat atau kondisi fisiologis yang diketahui
  • fisiologis (organik)

Epidemiologi

Prevalensi insomnia berbeda-beda karena inkonsistensi pengartian gejala. Insomnia lebih sering terjadi pada wanita dan orang-orang yang bekerja dengan bergantian (sistem shift). Walaupun terjadi di seluruh dunia, orang Asia lebih jarang mengalami insomnia. Orang-orang dengan kepribadian cemas dan depresi juga lebih rentan mengalami gangguan tidur ini.

Tanda dan Gejala

Menurut ICSD-2, salah satu gejala berikut dapat terjadi pada pasien insomnia:

  • kelelahan dan rasa lemas
  • gangguan perhatian, konsentrasi, dan memori
  • disfungsi sosial
  • performa akademis yang buruk di sekolah
  • gangguan suasana hati
  • rasa kantuk di siang hari
  • pengurangan motivasi dan energi
  • kecenderungan untuk melakukan kesalahan atau kecelakaan saat bekerja atau mengemudi
  • sakit kepala
  • gejala pencernaan
  • kekhawatiran tentang tidur

Etiologi dan Patogenesis

Etiologi

Orang yang sulit dalam menghadapi situasi stress atau terbiasa untuk tidur dalam waktu yang singkat memiliki kecenderungan untuk mengalami insomnia kronik. Terdapat hubungan antara insomnia dan gangguan psikiatri, seperti depresi, kecemasan, dan post-traumatic stress disorder (PTSD).

Orang yang ketika anak-anak mengalami gangguan perkembangan, seperti kecemasan ketika berpisah (separation anxiety) dapat lebih berisiko mengalami masalah tidur. Selain itu, orang dengan restless legs syndrome, nyeri kronis, penyakit refluks gastroesofageal (GERD), masalah pernapasan, dan imobilitas berisiko untuk mengalami insomnia.

Sifat-sifat tertentu meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami insomnia. Sifat tersebut, misalnya perfeksionis, ambisius, neurotisisme (cenderung memiliki suasana hati yang berubah-ubah), ekstrovert tingkat rendah, serta kerentanan terhadap depresi dan kecemasan.

Gangguan ini juga banyak ditemukan pada orang dengan stres psikologis. Di antaranya, merupakan stres seperti perceraian, gangguan hidup berkeluarga, kematian sanak saudara, dan penyalahgunaan obat-obatan.

Patogenesis

Patofisiologi dan faktor-faktor Insomnia

Gambar 1. Patogenesis insomnia

 

Kerentanan genetik, suatu peristiwa/stresor, dan moderator (seperti usia, jenis kelamin, dan pengobatan) dapat menimbulkan abnormalitas pada proses neurobiologis. Abnormalitas ini menyebabkan neurophysiologic hyperarousal dan mempengaruhi proses perilaku dan psikologis, seperti peningkatan perhatian terhadap hal-hal seputar tidur, peningkatan usaha untuk tidur, dan peningkatan rasa cemas. Oleh karena itu, seseorang mengalami insomnia yang berujung pada dampak buruk pada kesehatan.

 

Patofisiologi

Patofisiologi Insomnia

Gambar 2. Proses saling berhubungan yang menjelaskan terjadinya insomnia

Pada pasien insomnia, proses-proses berikut saling berhubungan: proses fisiologis yang meliputi arousal (keadaan sadar dan atentif) psikofisiologis dan kognitif, serta ritme sirkadian, dorongan homeostatis tidur; dan sirkuit saraf meliputi sistem kognitif-afektif kortikolimbik, pusat tidur-bangun hipotalamus, dan pusat arousal pada batang otak.

Diagnosis

Untuk dapat didiagnosis insomnia, seseorang harus memenuhi ketika kriteria berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi ke-5 (DSM-V) di bawah:

  1. Ketidakpuasan terhadap kuantitas atau kualitas tidur, dengan salah satu atau lebih gejala berikut.
    • kesulitan memulai tidur
    • kesulitan mempertahankan tidur, ditandai dengan sering terbangun atau sulit kembali tidur setelah terbangun.
    • bangun terlalu pagi dan tidak dapat kembali tidur
  2. Gangguan tidur menyebabkan gangguan yang signifikan secara klinis pada aktivitas sehari-hari, dengan adanya salah satu dari gangguan di bawah ini:
    1. Kelelahan atau low energy
    2. Rasa kantuk di siang hari
    3. Perhatian, konsentrasi, atau memori terganggu
    4. gangguan mood
    5. Kesulitan berperilaku (behavioural difficulties)
    6. Performa pekerjaan atau akademis terganggu
    7. Fungsi sosial atau interpersonal terganggu
    8. Efek negatif pada fungsi sebagai pengasuh atau keluarga
  3. Kesulitan tidur terjadi setidaknya tiga malam per minggu, bertahan selama setidaknya tiga bulan, dan terjadi meskipun terdapat kesempatan yang memadai untuk tidur.

Tata Laksana

Penanganan insomnia memiliki dua tujuan utama, yaitu meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur, serta memperbaiki gangguan yang terjadi di siang hari.

Farmakoterapi

Pendekatan awal terapi biasanya meliputi setidaknya satu intervensi perilaku, seperti terapi kontrol stimulus atau terapi relaksasi. Selain itu, terapi biofeedback juga digunakan. Pemilihan obat tertentu dilakukan berdasarkan pola gejala, tujuan terapi, respons pada penanganan di masa lalu, preferensi pasien, biaya, ketersediaan penanganan lain, kondisi komorbid, kontraindikasi, interaksi medis yang terjadi bersamaan, dan efek samping.

Urutan medikasi yang disarankan adalah:

  • Agonis reseptor benzodiazepine (BzRA) atau ramelteon (agonis melatonin)
  • Alternatif BzRA apabila medikasi yang pertama tidak efektif
  • Antidepresan seperti trazodone, amitriptyline, doxepin, atau mirtazapine
  • Kombinasi BzRA atau ramelteon dengan antidepresan
  • Obat antiepilepsi atau antipsikotik atipikal

Non-farmakoterapi

Penanganan non-farmakologis yang efektif  adalah cognitive behavioural therapy for insomnia (CBTI). European Sleep Research Society dan American Academy of Sleep Medicine menetapkan CBTI sebagai terapi lini pertama yang diberikan kepada pasien.

CBTI terdiri dari seperangkat teknik spesifik yang memperkuat hubungan tempat tidur dan tidur, menyelaraskan kembali mekanisme homeostasis dan ritme sirkadian, dan mengurangi kecemasan tentang tidur. Teknik tersebut adalah tentang sleep hygiene atau psikoedukasi tentang tidur, teknik relaksasi, strategi perilaku, dan terapi kognitif.

Komplikasi dan Prognosis

Beberapa studi menyatakan bahwa penderita insomnia melaporkan adanya pengurangan kualitas hidup, meliputi fungsi fisik, pembatasan peran karena masalah kesehatan fisik, nyeri pada tubuh, persepsi kesehatan secara umum, vitalitas, fungsi sosial, pembatasan peran karena masalah kesehatan emosional, dan kesehatan mental.

Penderita insomnia 2,5-4,5x lebih berpotensi mengalami kecelakaan. Performa kerja memburuk dan berbagai masalah psikologis juga dapat timbul.

 

Lihat juga seputar neurologi di sini.

 

Referensi

  1. Buysse DJ. Insomnia. JAMA. 2013;309(7):706–716. doi:10.1001/jama.2013.193
  2. Thorpy MJ. Classification of sleep disorders. Neurotherapeutics. 2012;9(4):687–701. doi:10.1007/s13311-012-0145-6
  3. Grewal RG, Doghramji K. Epidemiology of insomnia. In: Attarian H. (eds) clinical handbook of insomnia. New York: Springer, Cham; 2017.
  4. Kaur H, Bollu PC. Chronic Insomnia. [Updated 2019 Dec 10]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK526136/
  5. Levenson JC, Kay DB, Buysse DJ. The Pathophysiology of lnsomnia. Chest. 2015;147(4):1179–92.
  6. Perlis ML, Ellis JG, Kloss JD, Riemann DW. Etiology and pathophysiology of insomnia. In: Kryger MH, Dement WC, Roth T. Principles and practice of sleep medicine. Philadelphia: Elsevier Saunders; 2017.
  7. Winkelman JW. Insomnia disorder. N Engl J Med 2015;373:1437-44.
  8. Lie JD, Tu KN, Shen DD, Wong BM. Pharmacological Treatment of lnsomnia. P T. 2015;40(11):759–771.
  9. Siebern AT, Suh S, Nowakowski S. Non-pharmacological treatment of insomnia. Neurotherapeutics. 2012;9(4):717–727. doi:10.1007/s13311-012-0142-9
  10. Anderson KN. Insomnia and cognitive behavioural therapy-how to assess your patient and why it should be a standard part of care. J Thorac Dis. 2018;10(Suppl 1):S94–S102. doi:10.21037/jtd.2018.01.35
  11. Roth T. Insomnia: definition, prevalence, etiology, and consequences. J Clin Sleep Med. 2007;3(5 Suppl):S7–S10.

Share your thoughts

Yuk berlangganan SKMA!

Anda akan memperoleh berita dan artikel terkini mengenai isu, perkembangan, dan tips-tips seputar kedokteran dan kesehatan.

Klik link berikut untuk berlangganan SKMA digital!

http://linktr.ee/medaesculapius