Kawal Stunting Sedari Awal

Isu stunting masih menjadi sorotan, sampai kapan terus dibiarkan?

 

 

Indonesia masih berjuang untuk lepas dari masalah stunting pada anak. Masalah ini memerlukan perhatian lebih agar Indonesia bisa menghasilkan generasi cemerlang di masa depan. Gaya hidup yang tidak sehat dan obesitas pada remaja menjadi awal dari rangkaian serial “Cegah Tiga Beban Malnutrisi” yang diselenggarakan oleh SCOPH CIMSA dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional. Webinar melalui Zoom Meeting ini diadakan pada Sabtu, 29 Januari 2022 dengan mengundang salah satu narasumber, yaitu dr. Wiyarni Pambudi, Sp.A yang membawa topik “Lifehacks to Defeat Triple Burden of Malnutrition”.

 

Stunting adalah kondisi kekurangan gizi kronis pada 1000 hari kehidupan yang menyebabkan anak-anak memiliki perawakan pendek disertai defisit kognitif. Hal ini dapat berimbas pada bertambahnya risiko morbiditas dan mortalitas; meningkatnya biaya perawatan kesehatan; serta pembatasan potensi edukasi, kesehatan, kesejahteraan, dan kualitas hidup. Hampir setengah anak-anak mengalami stunting pada umur yang masih muda, yaitu kurang dari 2 tahun. “Negara kita masih sangat tinggi prevalensi stunting-nya,” ujar Wiyarni. Hal ini didukung dengan angka prevalensi stunting pada balita di Indonesia yang menginjak angka ≥30%. Angka tersebut masih sangat tinggi dibandingkan dengan negara-negara di sekitar. Meskipun grafik tren prevalensi di Indonesia menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun hingga di angka 24,4% pada tahun 2021, hal tersebut dirasa kurang signifikan karena masih jauh 10% dari target RPJMN 2024. “Dalam 2 tahun kedepan, kita harus menurunkan sebanyak 10%. Ini bukan hal yang mudah tentunya kalau dikerjakan dengan hanya mengandalkan para orang tua. Harus semua, termasuk mahasiswa kedokteran dan juga remaja seperti kalian semua,” tambah beliau.

 

Pemutusan mata rantai stunting harus dilakukan sedini mungkin. Periode 1000 hari pertama kehidupan adalah masa krusial untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. “Pada masa inilah, intervensi dapat dilakukan untuk memperbaiki luaran bayi baru lahir. Setelah usia 2 tahun hingga remaja, hanya pertumbuhan linear saja yang bisa ditingkatkan, tetapi perbaikan fungsi kognitif serta imunitasnya belum jelas karena masa emasnya sudah lewat”, jelas Wiyarni. Pemberian konseling dan edukasi menjadi salah satu upaya pencegahan dan intervensi terhadap stunting. ASI tidak hanya bermanfaat bagi pertumbuhan bayi, tetapi juga membantu membentuk respon imun yang baik. Selain mengandung nutrisi, ASI juga mengandung faktor psikoneuroimunologi yang membuat bayi lebih dekat dengan ibu, memberikan rangsang taktil pada bayi, serta memberikan imun yang melindungi bayi dari penyakit. Selain itu, edukasi terkait MPASI yang sesuai juga perlu diberikan.

 

Perbaikan gizi untuk mencegah terjadi malnutrisi harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah kehamilan. Para calon ibu harus mengatur pola makan dengan baik agar kebutuhan makronutrien dan mikronutrien dapat terpenuhi dengan optimal. Dengan begitu, imunitas dapat terjaga dan perkembangan kognitif jabang bayi tidak terhambat. Selama periode kehamilan, kontak dengan alkohol, obat-obatan, serta paparan rokok harus dihindari. Setelah lahir, penting untuk mengenali apa yang diperlukan ibu dan juga bayi. Tidak hanya asupan pangan yang bergizi, tetapi juga properti, salah satunya dengan menjamin kebutuhan air bersih dan kebersihan sanitasi.

 

Penulis artikel: Savira

Editor: Izzati Diyanah

kawal stunting sedari awal kawal stunting sedari awal

Share your thoughts

Yuk berlangganan SKMA!

Anda akan memperoleh berita dan artikel terkini mengenai isu, perkembangan, dan tips-tips seputar kedokteran dan kesehatan.

Klik link berikut untuk berlangganan SKMA digital!

http://linktr.ee/medaesculapius