Labirintitis

Definisi & Informasi Umum

Labirintitis adalah inflamasi dari labirin pada bagian telinga dalam dan umumnya memiliki tampilan klinis berupa vertigo, mual, muntah, tinitus, serta dapat disertai gangguan pendengaran. Data terkait epidemiologi labirintitis masih minim, tetapi diamati bahwa kejadiannya cenderung meningkat seiring dengan peningkatan usia. 

 

Berdasarkan patologinya, labirintitis dapat diklasifikasikan menjadi 2 bentuk:

  • Labirintitis serosa: terjadi ketika toksin bakteri dan mediator inflamasi melintasi tingkap bundar (round window) atau tingkap jorong (oval window) dan menyebabkan inflamasi labirin tanpa kontaminasi bakteri secara langsung
  • Labirintitis supuratif: terjadi ketika terdapat invasi bakteri secara langsung ke telinga dalam. Bakteri dapat menyebar dari infeksi telinga dalam atau luar, ataupun dari meningitis melalui cairan serebrospinal.

Labirintitis juga dapat dibedakan berdasarkan etiologinya yang akan dibahas lebih lanjut di bawah ini.

 

Tanda dan Gejala

Beberapa tanda dan gejala yang perlu diperhatikan pada pasien labirintitis adalah:

  • Nyeri pada sisi telinga yang terdampak
  • Vertigo parah: vertigo umumnya tidak berlangsung hingga lebih dari 72 jam, tetapi gangguan keseimbangan dan beberapa serangan vertigo singkat dapat bertahan hingga beberapa minggu
  • Mual dan muntah
  • Gangguan pendengaran atau tinitus: gejala ini membedakan labirintitis dari neuritis vestibular yang umumnya tidak terasosiasikan dengan gangguan pendengaran
  • Keluar cairan dari telinga
  • Demam

 

Etiologi & Patogenesis

Labirintitis dapat disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri ataupun akibat gangguan autoimun. Labirintitis virus merupakan labirintitis yang paling sering terjadi, umumnya pasca infeksi virus saluran napas atas. Etiologi virus pada periode prenatal adalah rubella atau cytomegalovirus, sementara etiologi post-natal adalah penyakit gondok dan campak. Sementara itu, labirintitis bakteri dapat berasal dari meningitis bakteri atau otitis media. Radang dapat disebabkan oleh bakteri yang secara langsung masuk dan menginfeksi telinga dalam (supuratif) ataupun disebabkan oleh toksin, sitokin, dan mediator inflamasi tanpa invasi bakteri langsung (serosa). Sedangkan untuk etiologi autoimun, labirintitis dapat menjadi komplikasi dari poliarteritis nodosa dan granulomatosis dengan poliangitis, meski hal ini cukup jarang terjadi.

 

Beberapa faktor risiko untuk labirintitis adalah sebagai berikut:

  • Alergi
  • Merokok dan terlalu banyak minum alkohol 
  • Stres
  • Gangguan pembuluh darah
  • Gangguan autoimun
  • Efek samping obat, seperti antibiotik, aspirin, dan kuinin.

 

Patofisiologi

Labirin atau telinga dalam mengandung struktur-struktur yang penting dalam pendengaran dan keseimbangan, yakni koklea, kanal semisirkularis, serta tingkap bundar dan tingkap jorong. Tingkap bundar dan jorong terletak pada dinding telinga dalam dan membatasi antara telinga dalam dan tengah, serta berfungsi dalam konduksi getaran suara ke koklea. Di dalam koklea, terdapat organ Corti yang merupakan organ pendengaran, sementara kanal semisirkularis berfungsi untuk menyampaikan informasi sensorik terkait keseimbangan dan posisi kepala. Seluruh struktur ini diselubungi oleh cairan perilimfe dan endolimfe. 

 

Gejala labirintitis muncul ketika patogen atau mediator inflamasi menyebabkan kerusakan pada organ pendengaran dan keseimbangan ini. Adanya patogen atau toksin dari bakteri dan mediator inflamasi pada cairan periflimfe atau endolimfe menyebabkan iritasi dan memicu respons inflamasi. Inflamasi pada koklea ini dapat menyebabkan perubahan morfologis dan disfungsi sel sensorik pendengaran. Selain itu infeksi bakteri juga dapat merusak stereosilia pada sel rambut koklea yang terlibat dalam transmisi suara. Akibatnya, terjadilah gangguan pendengaran pada labirintitis. 

 

Sitokin-sitokin pro-inflamasi juga meningkatkan permeabilitas dari pembuluh darah, sehingga menarik cairan dan plasma ke ruang ekstrasel, menghasilkan suatu eksudat. Hal ini dapat meningkatkan tekanan dalam telinga, sehingga menimbulkan nyeri telinga (otalgia) pada pasien labirintitis.  

 

Diagnosis

Diagnosis labirintitis ditegakkan melalui pemeriksaan klinis maupun beberapa pemeriksaan penunjang. Pertama-tama, penting untuk menggali riwayat pasien untuk melihat apakah terdapat faktor risiko serta memperhatikan tanda dan gejala yang dikeluhkan pasien. Pada pemeriksaan fisik, sering kali ditemukan nistagmus pada pasien. Pasien juga dapat mengalami gangguan keseimbangan, sehingga dapat pula dilakukan tes Romberg dan tandem gait. Tes Rinne dan Weber kemungkinan memberikan gambaran tuli sensorineural pada sisi telinga yang terdampak. Selain itu, pemeriksaan otoskopi juga dapat membantu menentukan etiologi dari labirintitis tersebut, misalnya apakah terdapat gambaran otitis media, kolesteatoma, dan sebagainya. Pemeriksaan neurologis lengkap juga perlu dilakukan pada pasien.

 

Gangguan pendengaran sensorineural serta derajatnya dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan audiometri. Selain itu, tes laboratorium juga dapat dilakukan, disesuaikan dengan gejala-gejala pasien untuk membantu menyingkirkan diagnosis banding. Apabila pasien dicurigai mengalami meningitis, maka kultur cairan serebrospinal juga perlu dilakukan. Pemeriksaan radiologi yakni MRI atau CT dapat membantu menunjang diagnosis, misalnya dengan mendiagnosis neuroma atau meningitis bakteri.

 

Tata Laksana

Tata laksana pada labirintitis perlu disesuaikan dengan etiologi dan gejalanya. Labirintitis akibat virus cukup ditatalaksana dengan hidrasi yang cukup dan istirahat. Akan tetapi, penting untuk diingat bahwa apabila pasien mengalami perburukan gejala, misalnya timbul gangguan neurologis seperti kelemahan dan diplopia, pasien perlu segera meminta pertolongan medis. Sementara itu, untuk labirintitis bakteri, tipe antibiotik dan rute administrasinya bergantung pada sumber infeksi bakteri tersebut. Misalnya, jika infeksi berasal dari otitis media, maka antibiotik yang diberikan dapat berupa antibiotik tetes telinga. Namun, jika terdapat gejala sistemik, maka perlu diberikan antibiotik oral atau bahkan intravena sesuai dengan tingkat keparahan gejalanya. Untuk labirintitis autoimun, tata laksana awal adalah kortikosteroid, dan dapat ditambahkan imunomodulator lainnya apabila perlu.

 

Untuk vertigo yang dialami pasien, benzodiazepine dan antihistamin dapat digunakan untuk tata laksana awal, meski gejala vertigo seharusnya tidak melebihi 72 ja,. Obat antiemetik dapat diberikan untuk mengontrol mual muntah yang dialami. Intervensi bedah dilakukan pada beberapa kasus tertentu jika perlu, misalnya mastoidektomi pada pasien dengan kolesteatoma. Terkadang, pasien juga memerlukan drainase efusi atau miringotomi pada labirintitis akibat otitis media. 

Setelah gejala labirintitis akut mereda, sering kali pasien masih mengalami gejala vestibular yang berlanjut. Pada kasus-kasus demikian, pasien dapat ditatalaksana dengan rehabilitasi vestibular.

 

Komplikasi & Prognosis

Labirintitis akut umumnya akan sembuh dalam waktu beberapa hari. Jika pasien tidak mengalami gejala neurologis, maka prognosisnya cukup baik. Sebaliknya, pasien dengan komplikasi neurologis dapat memerlukan intervensi lebih lanjut. Selain itu, pasien yang memerlukan penggunaan benzodiazepine atau antihistamin dalam jangka panjang untuk mengontrol vertigonya juga umumnya memerlukan waktu yang lebih lama sebelum gejala vestibularnya hilang. Pasien dengan labirintitis virus memiliki prognosis yang lebih baik, umumnya gangguan pendengaran akan menghilang, sementara labirintitis bakteri menyebabkan gangguan pendengaran yang lebih berat dan dapat bersifat permanen.

 

Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada labirintitis adalah sebagai berikut:

  • Gangguan fungsi vestibular bilateral
  • Hilangnya pendengaran dan tinitus yang berkelanjutan
  • Mastoiditis
  • Osifikasi atau pengerasan labirin

 

Referensi

  1. Barkwill D, Arora R. Labyrinthitis. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK560506/
  2. Mildenhall J. The pathophysiology of labyrinthitis. Journal of Paramedic Practice. 2010;2(7):297-303.
  3. Boston ME. Labyrinthitis. Medscape [Internet]. 2020 Sep [cited 2020 Nov 15]. Available from: https://emedicine.medscape.com/article/856215-overview#a4

Share your thoughts