Lidokain dan Risiko Transient Neurologic Symptoms: Amankah?

Menyibak pro dan kontra penggunaan lidokain dalam dunia anestesi spinal

Lidokain merupakan salah satu obat untuk anestetik lokal yang tidak asing di kalangan dokter umum maupun dokter spesialis. Peran lidokain dalam penanganan kasus seperti aritmia ventrikular membuat lidokain memiliki peran yang sangat vital. Namun saat ini, keamanan penggunaan lidokain masih menjadi pro dan kontra karena adanya kemungkinan korelasi penggunaan lidokain dengan penyakit ataupun gejala-gejala tertentu, salah satunya transient neurologic symptoms (TNS).

Symposium and workshop 17th Indoanasthesia 2020 ang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengangkat problematika pro-kontra penggunaan lidokain sebagai salah satu topik diskusi dalam acara tersebut. Agenda ini dilaksanakan pada hari Kamis – Sabtu, 13 – 15 Februari 2020 di Shangri-La Hotel, Jakarta dengan mengundang Prof. Dr. R. Eddy Rahardjo, dr., SpAn, KIC, KAO sebagai pihak pro dan Dr. Sudadi, dr., SpAn, KNA, KAR sebagai pihak kontra. Diskusi tersebut mengangkat tema “PRO CON DEBATE: Lidocaine in Spinal Anesthesia” dan dimoderatori oleh Susilo Chandra, dr., SpAn-KAR, FRCA, KAO.

Melihat dari sejarah penggunaan lidokain, pada tahun 1991 obat ini dianggap sebagai penyebab sindrom cauda equina. Salah satu laporan kasus pada tahun 1995 didapatkan data bahwa sebanyak 37% pasien yang menerima anestesi dengan lidokain 5% mengalami TNS. Gejala ini membuat pasien merasakan sakit pada area bokong, pinggang belakang, tungkai, serta lutut yang terkadang muncul dengan sensasi seperti terbakar pada beberapa jam setelah dilakukan anestesi spinal dan akan berlangsung hingga sepuluh hari.

Sudadi menyampaikan bahwa insidensi terjadinya TNS pada kelompok pasien yang menggunakan lidokain adalah sebesar 24%, lebih tinggi dan signifikan dibandingkan dengan penggunaan bupivakain, prilokain, maupun prokain. Lokasi keluhan yang dilaporkan pasien mencakup daerah bokong dengan persentase 40%, paha belakang sebanyak 80%, dan daerah kaki sebanyak 10%. Sudadi juga menyebutkan bahwa TNS pada pasien yang menerima anestesi spinal menggunakan bupivakain muncul hanya satu orang saja. Lidokain dan mupivakain yang merupakan neurotoksik bersifat lebih larut dalam lemak dan air jika dibandingkan dengan tetrakain, atidokain, dan bupivakain. Semakin kecil ukuran dan semakin banyak molekul lipofilik obat akan meningkatkan kecepatan interaksi obat dengan reseptor pada saluran Na.

Eddy sebagai pihak pro penggunaan lidokain mengemukakan,“tidak ditemukan pasien yang meninggal karena TNS, sebab tidak ada dampak yang berkepanjangan,”. Pasien juga dapat diberikan obat simptomatik seperti OAINS dan gejala dapat terselesaikan dengan atau tanpa intervensi lebih lanjut. Adapun dalam lima publikasi menyebutkan bahwa insidensi TNS masih tergolong rendah dan delapan publikasi lain menyebutkan insidensinya lebih tinggi dalam populasi pasien yang lebih sedikit.

Pada akhir diskusi, Sudadi menyimpulkan,”lidokain menjadi penyebab TNS dan dengan mengetahui penyebab serta faktor predisposisi diharapkan dokter dapat mencegah dan menangguangi jika terjadi TNS”. Selain itu, Eddy menyebutkan bahwa hal yang utama dan menjadi urgensi adalah keberhati-hatian dokter, khususnya dokter spesialis anestesiologi. Terkadang dokter berjalan dengan hal-hal yang tidak diketahui dan masalah tidak dapat ditemukan secara pasti. Masing-masing obat terdapat risiko, namun kita perlu melindungi pasien dengan memikirkan cara-cara lain. “Semua obat baik di tangan yang baik,” ujar Eddy.

Share your thoughts

Yuk berlangganan SKMA!

Anda akan memperoleh berita dan artikel terkini mengenai isu, perkembangan, dan tips-tips seputar kedokteran dan kesehatan.

Klik link berikut untuk berlangganan SKMA digital!

http://linktr.ee/medaesculapius