Limfadenitis

Definisi & Informasi Umum

Limfadenitis merujuk pada kondisi inflamasi dan pembesaran nodus limfa. Nodus limfa (NL) merupakan bagian dari sistem limfatik berbentuk bulat oval, berisi jaringan limfosit termasuk leukosit yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap infeksi. Limfadenitis berbeda dengan limfadenopati. Limfadenopati merupakan spektrum penyakit berupa pembesaran NL akibat berbagai penyebab. Manusia memiliki 600 nodus limfa di seluruh tubuh, tetapi hanya beberapa kelompok yang dapat diraba: servikal, aksila, dan inguinal. Pada kondisi normal, nodus limfa kecil dan padat.1-3 Bila terjadi infeksi seperti pada limfadenitis, akan terjadi pembesaran, menjadi lebih lunak, dan dapat diraba.1,2

Klasifikasi

Limfadenitis dapat diklasifikasikan menjadi dua tipe berdasarkan persebarannya1,2

  • limfadenitis terlokalisasi

Kondisi ini adalah jenis yang paling banyak ditemukan, hanya melibatkan beberapa nodus di sekitar area infeksi berasal seperti pada gondong.

  • limfadenitis umum

Kondisi ini melibatkan lebih dari satu kelompok nodus limfa yang dapat disebabkan oleh infeksi yang menyebar melalui darah.

Berdasarkan waktu, limfadenitis dapat diklasifikasikan menjadi limfadenitis akut dan limfadenitis kronik. Limfadenitis kronik biasanya berlangsung selama 3-6 bulan. Kondisi ini dapat berkembang menjadi kanker.4 Pendekatan pembesaran NL pada anak dan dewasa akan berbeda. Pada anak, pembesaran akan berlangsung signifikan dan proses reaktif berlangsung persisten. Pada orang dewasa, pembesaran tidak terlalu signifikan. Di sisi lain, pembesaran NL yang berhubungan dengan kanker lebih banyak ditemukan pada dewasa daripada anak.4

Tanda & Gejala

Pada limfadenitis, biasanya akan terjadi pembesaran nodus limfa. Nodus limfa disebut membesar jika berukuran lebih besar dari 2 cm. Meskipun begitu, tidak semua pembesaran NL memiliki gejala. Tanda dan gejala dapat berbeda bergantung lokasi dan etiologi limfadenitis.1-3 Tanda dan gejala lain meliputi1,2,4

  • demam
  • nyeri
  • kemerahan
  • abses (nodus dengan nanah)
  • cairan keluar dari nodus
  • anoreksia

Pembesaran NL bukanlah tanda penyakit spesifik sehingga akan selalu membutuhkan pemeriksaan penunjang. Secara histopatologi limfadenitis memiliki 5 pola:4

  • hiperplasia folikular dengan perluasan korteks, pembesaran, dan jumlah folikel sekunder
  • perluasan parakortikal sebagian besar karena limfosit T
  • hiperplasia sinus dengan perluasan sinus subkapsular dan perluasan medula
  • pola granuloma, nekrosis/non-nekrosis pada korteks
  • pola supuratif (bernanah)

Etiologi & Patogenesis

Inflamasi nodus limfa dapat terjadi akibat infeksi ataupun penyebab non-infeksi. Infeksi nodus limfa dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, maupun protozoa. Sementara itu, infeksi oleh agen yang berbeda memberikan tampilan klinis yang berbeda. Agen penyebab limfadenitis kronik biasanya tidak diketahui, tetapi beberapa disebabkan oleh agen spesifik antara lain cytomegalovirus (CMV), Chlamydia, Treponema, jamur, HIV, dan penyakit autoimun. Kondisi non-infeksi yang berujung limfadenitis antara lain autoimun, tumor, sindrom imunodefisiensi, gangguan metabolik, pengobatan, dan penyakit hematopoesis.5

Penampilan klinis beberapa limfadenitis akibat infeksi karena patogen berbeda dapat dilihat pada tabel di bawah ini4,5

Tampilan klinis

Patofisiologi

Setiap patogen memiliki jalur yang berbeda-beda dalam menimbulkan gejala. Akan tetapi, infeksi pada NL berujung pada pembesaran mengingat respons inflamasi akan memanggil sel-sel leukosit (bergantung agen infeksi) dan memicu proliferasi sel di dalam NL. Untuk kasus non-infeksi, respons inflamasi juga mengalami peningkatan sehingga terjadi pembesaran nodus akibat proliferasi.4,5

Diagnosis

Anamnesis diperlukan untuk mencari tahu riwayat perjalanan penyakit dan gejala. Demam dapat menjadi kecurigaan adanya infeksi. Anamnesis juga dibutuhkan untuk mencari tahu pola demam, riwayat bepergian, riwayat penyakit terdahulu (khususnya infeksi), perawatan gigi, kontak dengan binatang terutama kucing, dan penggunaan hidantoin. Pemeriksaan fisik harus mendeskripsikan pembesaran nodus limfa dari berbagai aspek antara lain3-5

  • lokasi
  • jumlah: tunggal, lokal (regional), multipel/umum
  • ukuran dan bentuk: membesar/tidak, reguler/tidak reguler
  • konsistensi: lunak, keras, kenyal, fluktuatif
  • nyeri tekan

Pembesaran akibat infeksi biasanya bersifat lunak, nyeri, kemerahan, dan dapat digerakkan. Sementara itu, pembesaran NL yang mengarah pada kanker bersifat keras, terfiksasi, dan tidak nyeri.3-5 Deskripsi nodus limfa terutama lokasi dan gejala-gejala penyerta seperti demam, mual muntah, dan gejala lainnya dapat membantu menentukan kecurigaan patogen dan tes serologi yang perlu dilakukan untuk memastikan diagnosis. Umumnya, pemeriksaan lini pertama non-invasif yang dilakukan adalah pemeriksaan USG nodus limfa. Setelah itu, biopsi jarum dilakukan untuk mengetahui sitologi jaringan. Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk mengarahkan kecurigaan etiologi antara lain4

  • penyebaran korteks, parakorteks, atau medula
  • folikel limfoid
  • sel plasma
  • limfosit kecil
  • sel retikular
  • histiosit dengan penampilan morfologi berbeda seperti makrofag, sel epitelioid, sel datia, dan granuloma
  • granulosit

Tata Laksana

Penanganan limfadenopati, termasuk limfadenitis kadang menimbulkan dilema. Sebagian besar limfadenitis merupakan penyakit yang dapat diobati atau sembuh dengan sendirinya sehingga menggunakan biopsi aspirasi jarum halus maupun inti tidak diperlukan. Akan tetapi, baik mengobati orang yang tidak “terlalu” sakit atau membiarkan orang sakit keduanya tidak dibenarkan. Limfadenitis akibat infeksi secara umum diobati menggunakan antibiotik, baik itu anti mikroba, anti jamur, atau anti virus.  Pengobatan definitif perlu menunggu diagnosis definitif berdasarkan serologi dan biopsi. Limfadenitis akibat agen non-infeksi ditatalaksana sesuai penyakit yang mendasari.1,2,4,5

Komplikasi & Prognosis

Komplikasi dan prognosis limfadenitis sangat bergantung pada patogen penyebab dan pemberian terapi mengingat setiap patogen memiliki tahapan perkembangan penyakit yang berbeda. Beberapa komplikasi yang dapat timbul antara lain adalah selulitis, trombosis, embolus, sepsis, ruptur arteri karotid, abses mediastinum, perikarditis, perkembangan menjadi kanker, dan penyebaran ke organ lain.5

Referensi

  1. Zingman B, Watson LR, Fraser M. Lymphadenitis [Internet]. New York: University of Rochester Medical Center Rochester; 2020 [cited 2020 Jan 29]. Available from:  https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?contenttypeid=134&contentid=80
  2. Lymphadenitis [Internet]. Maryland: Johns Hopkins Medicine; 2020 [cited 2020 Jan 29]. Available from: https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/lymphadenitis
  3. Fletcher RH. Evaluation of peripheral lymphadenopathy in adults. Alphen aan den Rijn: UpToDate; 2013.
  4. Zeppa P, Cozzolino I. Lymph Node FNC. Cytopathology of Lymph Nodes and Extranodal Lymphoproliferative Processes. Monogr Clin Cytol. 2018; 23: 19–33.
  5. Patridge E, Steele RW. Lymphadenitis [Internet]. New York: Medscape; 2019 Feb 12 [cited 2020 Jan 31]. Available from: https://emedicine.medscape.com/article/960858-overview

Share your thoughts