Luka Bakar Derajat 1 dan 2

Definisi dan Informasi Umum

Luka bakar merupakan kerusakan pada kulit dan jaringan sekitarnya yang disebabkan oleh trauma, baik panas maupun dingin dan dapat melibatkan jaringan bawah kulit (subkutan).1

Sebagai penyakit yang umum dijumpai baik pada anak maupun dewasa, penyakit ini masih menjadi tantangan bagi tenaga kesehatan. Dampaknya pun permanen, baik secara kosmetik maupun fungsional. Pasien pun kerap kehilangan pekerjaannya, menjadi stigma dan mendapat penolakan dari masyarakat, serta merasakan ketidakpastian akan masa depan.1,2

Secara global, luka bakar merupakan masalah kesehatan publik yang serius dengan angka kematian sebesar 265.000 setiap tahunnya akibat trauma oleh api. Di samping itu, sekitar 96% luka bakar terkait api yang fatal terjadi pada negara-negara dengan pendapatan rendah dan menengah dengan kekurangan infrastruktur yang dibutuhkan untuk menurunkan insidensi luka bakar.1,2

Asia Tenggara memiliki angka kejadian luka bakar yang tertinggi secara global (27%) dengan hampir 70%-nya adalah wanita. Adapun Indonesia sendiri belum memiliki data mortalitas maupun insidensi kejadian luka bakar secara nasional. Data epidemiologi pasien yang dirawat akibat luka bakar di RSCM tahun 2011-2012 menunjukkan adanya total 303 pasien dengan perbandingan antara pria dan wanita adalah 2,26:1.1,2

Tanda dan Gejala

Manifestasi klinis luka bakar ditentukan berdasarkan luas dan kedalaman dari kerusakan jaringan. Terdapat dua sistem yang dapat digunakan untuk menjelaskan kedalaman luka bakar, yakni sistem “derajat” dan sistem “ketebalan”. Umumnya, sistem derajat lebih dikenali oleh pasien sedangkan sistem ketebalan lebih dikenali oleh tenaga medis dan bedah.1,3

  • Luka bakar superfisial/epidermal/derajat 1: Luka bakar yang hanya melibatkan bagian epidermis kulit. Luka derajat ini terasa hangat, kemerahan, nyeri, warnanya menjadi pucat apabila ditekan (blanching), dan akan mengering tanpa menyebabkan eskar maupun bula (blister/lepuhan kulit)
  • Luka bakar mid-dermal/derajat 2: Luka bakar yang melibatkan dermis dan epidermis kulit, namun tidak melibatkan jaringan subkutan. Luka derajat ini terlihat basah, mengeluarkan cairan, kemerahan, terasa nyeri hebat dengan bula ataupun sisa kulit epidermis yang terkelupas. Luka bakar derajat 2 dapat dibagi menjadi dua kategori:
    • Luka bakar mid-dermal superfisial: melibatkan epidermis dan papilla dermis namun tidak melibatkan jaringan retikular. Lebih nyeri, hiperemis dan kemerahan, serta terlihat pucat apabila ditekan (blanching). Memiliki risiko meninggalkan bekas luka dan perubahan pigmen yang ringan.
    • Luka bakar mid-dermal dalam: melibatkan epidermis, papilla dermis, dan jaringan retikuler dermis. Lebih tidak nyeri, berwarna merah muda atau pucat, dan tidak terlihat pucat apabila ditekan. Memiliki risiko meninggalkan bekas luka dan perubahan pigmen yang tinggi.

gejala luka bakar 1Gambar 1. Luka bakar derajat 1 pada regio leher kanan. Terlihat luka lepuh pada bagian sentral yang menandakan adanya luka bakar kedalaman parsial.3

gejala luka bakar 2Gambar 2. Luka bakar kedalaman parsial pada regio lengan kiri. Terlihat adanya luka lepuh yang berbentuk bula, berbentuk pipih dan terisi cairan serosa. Luka bakar pada derajat ini memiliki tingkat nyeri yang paling tinggi.3

Etiologi dan patogenesis

Luka bakar dapat disebabkan oleh trauma panas (seperti air panas, api, kimia, listrik, kontak, dan radiasi) maupun trauma dingin (frost bite). Menurut data di RSCM tahun 2012-2016, penyebab luka bakar tersering pada anak-anak adalah air panas, sedangkan pada dewasa berupa api.1

Patofisiologi

Sebagai organ yang memiliki banyak fungsi, kulit yang terbakar akan kehilangan fungsi-fungsi normal yang sedemikian banyakdapat terjadi:3

  • Selulitis, bakteremia, dan sepsis: Kulit adalah sistem pertahanan tubuh terhadap mikroba, tanpa kulit maka dapat terjadi translokasi mikroba menuju jaringan ataupun sirkulasi darah.
  • Karsinoma sel skuamosa: Tanpa melanin, kulit yang terbakar tidak memiliki perlindungan dari radiasi ultraviolet sehingga dapat menjadi keganasan.
  • Hilangnya volume intravaskular: Hilangnya granula lamellar/keratinosom dari stratum korneum, lusidum, dan granulosum membuat hilangnya cairan tubuh tanpa teregulasi.
  • Gangguan termoregulasi dan kerentanan terhadap fluktuasi suhu: Akibat hancurnya mekanisme termoregulasi perifer tubuh (kelenjar ekrin dan pleksus papilla dermis).
  • Kehilangan sensoris jangka panjang: Akibat jejas pada mekanoreseptor kulit.
  • Terbentuknya jaringan parut: Akibat hancurnya elastin jaringan, migrasi dan proliferasi fibroblas pada situs luka tanpa diferensiasi miofibroblas yang adekuat, dan deposisi serat kolagen yang ireguler. Terbentuk jaringan parut yang memiliki fungsi terbatas dan tidak elastis.
  • Respons inflamasi pada kulit yang bersifat bifasik: Adanya respons inflamasi lokal, pertama pada awal luka akibat pelepasan mediator proinflamasi dari jaringan yang mati, kedua pada kondisi lebih lanjut akibat adanya invasi dan kolonisasi bakteri pada eskar.

Diagnosis

Diagnosis penyebab luka bakar ditentukan secara klinis berdasarkan anamnesis. Apabila diperlukan, dapat dilakukan penilaian luas dan kedalaman luka bakar.1

  • Luas luka bakar:1
    • dinilai dengan metode kalkulasi seperti “Rule of Nines” untuk menghitung persentase total luas luka bakar (%TBSA: total body surface area). Melalui metode ini, luas permukaan tubuh dibagi menjadi area berkelipatan 9%, kecuali pada area perineum yang diestimasi menjadi 1%.
    • Penggunaan Rule of Nine pada pasien dewasa sangatlah akurat, namun tidak dapat digunakan pada pasien anak karena perbedaan proporsi luas permukaan tubuh
    • Rincian area rule of nine pada dewasa adalah sebagai berikut:
      • Kepala dan leher, setiap lengan: 9%
      • Punggung dan dada dihitung dari bahu hingga pinggang, setiap kaki: 18%
      • Perineum: 1%

rule of nine luka bakar Gambar 3. Rule of Nine pada dewasa.1

  • Pada luka bakar yang kecil maupun tersebar, estimasi %TBSA dapat menggunakan perbandingan luas luka terhadap area palmar dari tangan pasien yang dianggap memiliki 1% TBSA.

estimasi luka bakarGambar 4. Estimasi luka bakar kecil berdasarkan area palmar.1

  • Pada pasien anak usia <10 tahun dengan luka bakar, digunakan “pediatric Rule of Nine” dengan persentase yang disesuaikan terhadap umur anak. Setiap tahun setelah usia 12 bulan, luas area kepala dikurangi 1% dan setiap area kaki anak akan ditambahkan 0.5%. Anak dengan usia 10 tahun dapat menggunakan Rule of Nine dewasa.

pediatric rule of nine Gambar 5. Pediatric Rule of Nine1

  • Kedalaman luka bakar: ditentukan berdasarkan kedalaman jaringan yang rusak pada luka bakar melalui pemeriksaan fisik. Adapun klinis untuk luka bakar derajat 1 dan 2 adalah sebagai berikut:1,3
Derajat Kedalaman Warna Bula Capillary refilling Sensasi
1 Epidermal Merah Ada Nyeri
2 Mid-dermal superfisial Merah muda pucat Kecil Ada Sangat nyeri
Mid-dermal dalam Merah muda gelap Ada Berkurang Nyeri ada namun lebih rendah

 

Tata Laksana

Luka bakar harus dievaluasi dengan pendekatan yang sistematis dan tatalaksana dalam 24 jam pertama.

Pada 24 jam pertama

Langkah pertama adalah dengan berusaha mengidentifikasi ancaman hidup terbesar. Diterapkan prinsip primary survey dan secondary survey maupun resusitasi secara simultan. Primary survey mencakup:1

  • A: Airway: penatalaksaan jalan napas dan manajemen trauma servikal
  • B: Breathing: ventilasi dan pernapasan
  • C: Circulation: pemantauan sirkulasi dan kontrol perdarahan, pasang 2 jalur IV ukuran besar, disarankan pada sisi yang tidak luka
  • D: Disability: pemeriksaan status neurologis pasien (GCS, status mental)
  • E: Exposure/environment: buka pakaian pasien untuk memeriksa adanya luka lain yang tidak terlihat, hitung luas luka bakar dengan rule of nine, jaga pasien agar tetap dalam keadaan hangat
  • F: Fluid: berikan cairan infus yang cukup dan dilanjutkan dengan memantau pengeluaran urin dan tanda-tanda vital

Ketika kondisi yang mengancam nyawa diyakini tidak ada atau telah disingkirkan, dapat dilakukan secondary survey berupa pemeriksaan menyeluruh mulai dari kepala hingga kaki. Hal-hal yang dicakup adalah:

  • Mekanisme trauma: durasi paparan, suhu dan kondisi air apabila akibat air panas, jenis pakaian yang digunakan pasien, tindakan pertolongan pertama yang didapatkan pasien
  • Pemeriksaan fisik head to toe (dari ujung kepala hingga ujung kaki) untuk mencari trauma lain yang terjadi pada pasien

Apabila terdapat indikasi, dapat dilakukan tata laksana bedah darurat yaitu:

  • Eskarotomi: insisi eskar yang melingkari dada atau ekstremitas. Ditujukan untuk mencegah gangguan pernapasan ataupun penekanan struktur penting pada ekstremitas seperti saraf dan vaskular.
  • Faskiotomi: dilakukan apabila terdapat tanda-tanda sindroma kompartemen (bagian tubuh terasa keras pada palpitasi, nadi tidak teraba, hilangnya sensasi perifer secara progresif)

Setelah 24 jam pertama

  • Kebutuhan cairan: dilakukan perhitungan cairan maintenance berdasarkan berat badan dan luas luka bakar pasien, direkomendasikan menggunakan cairan ringer laktat (RL)
  • Kebutuhan nutrisi: dilakukan perhitungan kebutuhan energi total pasien untuk menentukan komposisi mikronutrien dan makronutrien yang akan diberikan. Nutrisi dapat diberikan secara oral, enteral, parenteral, maupun campuran disesuaikan dengan kondisi pasien

Komplikasi dan prognosis

Prognosis pasien luka bakar bervariasi berdasarkan derajat lukanya:3

  • Luka bakar derajat 1/superfisial: Self-limiting, luka akan lepas dalam 7–14 hari tanpa meninggalkan bekas
  • Luka bakar derajat 2:
    • Luka bakar mid-dermal superfisial: Sembuh dalam 2 minggu dengan penanganan luka yang adekuat, dapat meninggalkan bekas luka (risiko rendah)
    • Luka bakar mid-dermal dalam: Sembuh dalam >3 minggu, mungkin memerlukan skin graft dan debridemen; risiko tinggi meninggalkan bekas luka dan perubahan pigmen kulit

Adapun komplikasi yang dapat timbul dapat bersifat lokal dan sistemik, yaitu:3

  • Infeksi dan sepsis: penyebab kematian paling sering pada pasien luka bakar
  • Gastritis stres akut (Ulkus Curling) dengan perdarahan: akibat penurunan volume intravaskular
  • Gangguan pernapasan: akibat luka bakar hebat pada daerah dada, maupun akibat menelan asap (terjadi keracunan karbon monoksida dan sianida)
  • Sindrom kompartemen
  • Gagal ginjal akut: akibat jejas pada otot yang menyebabkan mioglobinuria luas
  • Pembentukan tulang ektopik/osifikasi heterotopik: pada pasien luka bakar dengan TBSA luas

Referensi

  1. Keputusan Menkes No HK.01.07/MENKES/555/2019 tentang pedoman nasional pelayanan kedokteran tata laksana luka bakar. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2019.
  2. World Health Organization. Burns [Internet]. available from: https://www.who.int/violence_injury_prevention/other_injury/burns/en/
  3. Taylor JS, Sood A, Amado A. Burns. In : Fitzpatricks dermatology in general medicine. 8th ed. Mc-Graw Hill;2012. p.1679-81.

 

Share your thoughts