Mendalami Ilmu Akupuntur Medik: Mengapa Tidak?

Ranah keilmuan yang tergolong baru membakar semangat dr. Sri Wahdini, M. Biomed, Sp.Ak untuk mengembangkan karier dan pengetahuannya

dr. Sri Wahdini, M. Biomed, Sp. Ak

Tempat, tanggal lahir: Lhokseumawe, 8 Juni 1981

Ilmu kedokteran merupakan ilmu yang senantiasa berkembang, termasuk salah satunya cabang ilmu kedokteran akupuntur medik pada beberapa tahun terakhir.  Menekuni ilmu pengetahuan yang tergolong baru tentu memberi kesan dan tantangan, tak terkecuali bagi dr. Sri Wahdini, M. Biomed, Sp. Ak yang kini aktif berpraktik sebagai spesialis akupuntur medik di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) dan Rumah Sakit Siaga Raya. Sri juga aktif bekerja sebagai staf Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Keputusan Mengambil Spesialisasi

Perjalanan Sri mengambil spesialisasi akupuntur medis awalnya tak terduga. Sri lulus sebagai dokter umum dari FKUI pada tahun 2005. Selayaknya dokter umum yang baru lulus di zaman tersebut, Sri sedang menunggu penempatan program Pegawai Tidak Tetap (PTT) sembari memetakan rencana kariernya. Dalam sela waktu tersebut, Sri melihat promosi kursus akupuntur yang memiliki kelas dasar dan lanjutan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Ia pun mendaftarkan diri untuk menambah keahlian saja tanpa terpikir untuk  fokus di bidang tersebut. Melalui kursus ini, ia mulai mengantongi ilmu akupuntur sebelum mengikuti program PTT.

Selesai PTT, Sri melanjutkan pendidikan Magister Biomedik dan lulus pada tahun 2010. Perempuan berkacamata ini juga aktif mengajar sebagai staf Departemen Parasitologi FKUI. Pada tahun 2013, Sri yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) di RSUI diharuskan untuk kembali aktif menjalani praktik sebagai dokter. Hal ini membuatnya berusaha mencari spesialisasi yang  sesuai dengan kesibukan Sri, yakni sebagai ibu bagi kedua anaknya yang masih dalam masa tumbuh kembang  dan tanggung jawabnya sebagai staf pengajar. Pilihan Sri akhirnya jatuh pada akupuntur medik. Keputusan tersebut didasari oleh spesialisasi akupuntur medik yang tidak memiliki kasus emergensi, jadwal praktik yang teratur, serta bekal yang ia miliki sebelumnya.

Suka dan Duka dalam Berpraktik Akupuntur Medik

Bagi Sri, salah satu hal yang menarik dari dunia akupuntur medik adalah beragamnya kalangan praktisi yang terlibat , mulai dari dokter spesialis, dokter umum yang mengambil kursus formal maupun informal, hingga kalangan nonmedis. Sayangnya, kalangan praktisi di lapangan tersebut masih belum diregulasi secara rapi. Tak hanya itu, informasi mengenai akupuntur medik bagi masyarakat juga masih sangat terbatas sehingga kebanyakan dari mereka belum mengetahui tentang spesialisasi ini. Akibatnya, akupuntur yang terlintas di benak masyarakat awam adalah akupuntur yang dilakukan kalangan nonmedis. Tenaga kesehatan pun ternyata masih banyak yang belum mengetahui tentang manfaat dari terapi akupuntur medik.

Akupuntur medik sendiri menjadi terapi efektif utamanya pada kasus nyeri kronis. Menurut dokter lulusan FKUI ini, efek pengurangan nyeri langsung terasa dan pasien dapat mengurangi konsumsi obat pereda nyeri.  Manfaat lainnya juga dapat mengatasi penyakit neurologis, masalah kulit, kecantikan, hingga program bayi tabung. Di sisi lain, mengingat pasien umumnya memiliki penyakit kronis dan terapi jangka panjang, biaya yang harus dikeluarkan pasien tidak murah. Sayangnya, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) masih belum menanggung terapi akupuntur medik. Hal ini menjadi kendala bagi beberapa kalangan pasien dalam menjalani terapi.

Ruang yang Luas untuk Berkembang

Dengan segudang manfaatnya, tentu Sri berharap informasi mengenai akupuntur medik semakin tersebar ke masyarakat. Menurutnya, seluruh stakeholder  perlu mensosialisasikan informasi terkait akupuntur medik, mulai dari dalam rumah sakit yang menyediakan pelayanan bersifat kolaboratif dan rehabilitatif, hingga publikasi yang lebih luas. Kegiatan pengabdian masyarakat juga dapat menjadi salah satu media edukasi dan sosialisasi.

Selain itu, bagi ibu dari dua anak ini hal terpenting lainnya adalah pengembangan ilmu pengetahuan akupuntur medik. Program studi dapat melakukan lebih banyak penelitian dan publikasi agar kalangan tenaga kesehatan lainnya pun dapat memahami ranah yang sebenarnya dapat ditangani melalui terapi tersebut. Hal ini perlu dilakukan mengingat keilmuan akupuntur medik bersifat empiris dengan evidence-based medicine yang masih terbatas.

Hingga saat ini, program studi spesialisasi akupuntur medik hanya ada satu di Indonesia. Sementara itu, peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) akupuntur medik setiap tahunnya terus meningkat. Melihat tren tersebut, Sri berharap bahwa lulusan spesialis akupuntur medik tidak hanya fokus bekerja di rumah sakit besar di ibu kota saja, melainkan aktif melakukan penelitian, menjadi staf pengajar, berpraktik di daerah, hingga mempelopori program studi spesialis akupuntur medik di fakultas kedokteran lainnya di Indonesia. Melalui hal tersebut, Sri berharap praktik akupuntur medik semakin luas tersebar di Indonesia.

Bagi dokter umum di luar sana, Sri berharap agar dokter umum dapat terus aktif mencari informasi sebanyak-banyaknya. “Banyak sekali spesialisasi baru di luar sana yang mungkin belum tersosialisasi dengan baik. Oleh karena itu, kita harus aktif mencari informasi baru mengenai hal tersebut,” pesan dokter kelahiran Lhokseumawe ini. Profesi kedokteran tidak hanya terbatas pada lulus menjadi dokter umum dan mengambil spesialis mayor saja, melainkan banyak sekali cabang keilmuan yang dapat didalami dan berpotensi untuk berkembang kedepannya. Sri juga berharap ilmu akupuntur medik  terus berkembang dan para klinisi bisa menjawab tantangan bersama dalam menemukan bukti ilmiah di bidang akupuntur medik. rahmi

Penulis: Rahmi

Editor: Izzati

Share your thoughts

Yuk berlangganan SKMA!

Anda akan memperoleh berita dan artikel terkini mengenai isu, perkembangan, dan tips-tips seputar kedokteran dan kesehatan.

Klik link berikut untuk berlangganan SKMA digital!

http://linktr.ee/medaesculapius