Mengenal Konsep Safe Hearing dan Manajemen Laryngopharyngeal Reflux

Dalam rangka menutup rangkaian seri webinar pre-event JAKPOS: Jakarta Pediatric Otorhinolaryngology – Head and Neck Surgery Symposium, Departemen Bedah Kepala dan Leher FKUI-RSCM bekerja sama dengan Perhati-KL Jakarta dalam menyelenggarakan webinar dengan tema “Earphone” dan “Diagnosis dan Penatalaksanaan Laryngopharyngeal Reflux (LPR) pada Remaja.” Webinar ini dilaksanakan pada Kamis, 15 Oktober 2020. Webinar ini dimoderatori oleh dr. Febriani Endiyarti, SpTHT-KL.

Sesi pertama dibawakan oleh dr. Tri Juda Airlangga, SpTHT-KL(K) dengan topik penggunaan earphone. Tri memulai presentasi bahwa outer hair cell memiliki fleksibilitas sehingga dapat kembali normal setelah bergetar akibat suara. Namun, apabila sel tersebut terganggu oleh suara yang lebih keras dari ambangnya, outer hair cell tidak bisa kembali normal. Tanda pertama gangguan pendengaran yang dapat ditemukan adalah tinnitus. Namun, tinnitus tidak otomatis menunjukkan kerusakan pendengaran. Apabila ditunggu selama hitungan menit maupun hari, pendengaran dapat normal kembali. Hal tersebut menunjukkan adanya temporary threshold shift yang menimbulkan sensorineural hearing loss.

Tri membagikan beberapa tips untuk mendengar dengan aman. Poin pertama merujuk pada penggunaan earphone dengan teknologi noise cancelling yang banyak dikembangkan saat ini. Selain itu, semua orang harus mengenali batasnya sendiri. “Know your limit, baik kekuatan suaranya, durasinya, dan frekuensi paparannya,” ujar Tri, “Menurut WHO-ITU, suara apapun diperbolehkan selama < 80 dB durasi 40 jam seminggu.”

“Risiko terbesar ada pada orang dengan suara kencang atau musik sebagai profesi/modalitas dia,” ungkap Tri. Oleh karena itu, musisi diharapkan menggunakan earplug yang diperuntukkan musisi selama 4-8 jam. Tri berpesan agar peserta dapat mengajarkan ke anak-anak dan orang lain secara aktif mengenai safe listening agar tidak terjadi penyalahgunaan personal audio devices. Selain itu, dokter di lini primer juga diharapkan dapat memberitahu cara hearing protection, kebiasaan mendengarkan yang sehat, dan pesan sesuai risiko seseorang.

Sesi kedua disampaikan oleh Dr. dr. Susyana Tamin, SpTHT-KL(K).  Mukosa laring lebih mudah terluka daripada esofagus. Apabila gastroesophageal reflex (GER) sampai ke laring, LPR akan terjadi. Patofisiologinya dikemukakan melalui beberapa teori. Kegagalan barrier memengaruhi epitel siliar pada posterior laring sehingga terasa sensasi postnasal drip. Selain itu, refleks langsung dapat mengiritasi atau menginduksi respons vagus sehingga pasien batuk, tercekik, ataupun laringospasme. Kedua hal ini menyebabkan edema pita suara, granuloma, kontak ulkus, keganasan laring, serta sensasi globus.

Dalam anamnesis, riwayat keluarga dan kebiasaan diet yang diterapkan patut diperhatikan. Selain itu, gejala saluran napas, gangguan makan, kegagalan tumbuh kembang, serta iritasi jalan napas harus dicermati. “Gejala pada bayi sedikit berbeda,” ujar Susyana, “Gejala di saluran cerna meliputi regurgitasi, muntah, disfagia, ada gangguan tidur, dan problem jalan napas seperti apneu dapat mengancam nyawa.”

Dalam mengukur gejala laryngopharyngeal reflux (LPR), reflux symptom index dapat dipakai untuk menilai. Selanjutnya, nasoendoskopi fleksibel dan laringoskopi bisa digunakan untuk mendapatkan temuan-temuan yang merujuk pada LPR, seperti edema subglotik, edema laring difus, dan granuloma.

“Terapi LPR terdiri dari modifikasi makanan dan tingkah laku yang dikombinasi dengan terapi medik,” terang Susyana. Rekomendasi diet untuk pasien LPR meliputi makanan yang mengandung alkaline, rendah lemak, rendah asam, dan tinggi protein. Selain itu, terapi medik yang diberikan adalah antagonis reseptor Histamin-2 (H2A), inhibitor pompa proton (PPI), serta agen prokinetik.

Share your thoughts