Mengenal Sisi Lain Ruang Perawatan Intensif

Intensive Care Unit (ICU),

Pencegahan dari potensi bahaya ICU bagi pasien

Ruang Perawatan Intensif, atau yang umum dikenal sebagai Intensive Care Unit (ICU), adalah tempat perawaran pasien dengan penyakit berat dan kritis. Di ICU, pasien menerima perawatan dan pengawasan tingkat tinggi. Perawatan di sana ditujukan untuk menyelamatkan nyawa dan bahkan meningkatkan kemungkinan kesembuhan pasien. Namun, ternyata ICU dapat menjadi tempat yang berbahaya bagi pasien. ICU merupakan salah satu penyumbang angka infeksi nosokomial terbanyak di rumah sakit. Meskipun jumlah tempat tidur ICU hanya 10% dari jumlah seluruh tempat tidur di rumah sakit, lebih dari 20% kasus infeksi nosokomial berasal dari ICU.

Berangkat dari permasalahan tersebut, Perkumpulan Pengendali Infeksi Indonesia (PERDALIN) Pusat mengadakan webinar bertajuk “Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di ICU”. Seminar yang diselenggarakan pada tanggal 18 September 2021 ini disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube PERDALIN. Dalam seminar ini, PERDALIN menghadirkan beberapa narasumber. Narasumber pertama adalah dr Pratiwi Andayani, SpA(K). Pratiwi membawakan materi berjudul “Masalah Terkait Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di ICU”.

“Infeksi nosokomial di ICU ini bersifat multifaktor, banyak faktor yang memengaruhi,” ujar Pratiwi. Faktor pertama adalah tingkat mobilitas yang cukup tinggi di lingkungan ICU. Perawat, dokter, teknisi kesehatan, petugas kebersihan, maupun petugas lainnya berlalu lalang demi memastikan pengawasan dan perawatan maksimal untuk pasien. Hal ini tentu memudahkan patogen untuk berpindah dan menyebar di lingkungan ICU.

Keadaan pasien di ICU juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi terjadinya infeksi nosokomial. Pasien dengan kondisi penyakit yang berat dengan berbagai komorbid lebih rentan terinfeksi patogen. Patogen yang umumnya tidak membahayakan dapat menjadi ancaman bagi mereka. Selain itu, pasien di ICU juga sering mendapat tindakan-tindakan invasif seperti pemasangan kateter urine, kateter vena sentral, dan intubasi. Prosedur-prosedur tersebut kian mempermudah patogen untuk masuk ke dalam tubuh pasien. Kondisi ini diperburuk dengan fakta bahwa telah banyak patogen resisten obat yang ada di rumah sakit. Jika pasien terinfeksi patogen yang resisten obat, upaya pengobatan tentu akan menjadi semakin sulit dilakukan.

Oleh karena itu, infeksi nosokomial di ICU adalah masalah serius yang tidak boleh disepelekan. Faktanya, infeksi nosokomial sebenarnya bisa dicegah dengan hal-hal yang sering dilewatkan oleh para tenaga medis yang bertugas di ICU. “Penurunan kepatuhan terhadap hand hygiene dan praktik pencegahan infeksi ternyata sering terjadi di ICU, karena petugas kesehatan terbawa dengan suasana yang sibuk di ICU,” terang Pratiwi. Beban kerja yang berat dan tekanan tinggi di ICU juga bisa membuat tenaga medis kelelahan dan melupakan hal-hal kecil nan krusial untuk pencegahan infeksi.

“Meskipun sibuk, petugas kesehatan tidak boleh melupakan hal hal dasar seperti mencuci tangan serta menjaga kebersihan saat tindakan,” pesan Pratiwi. Selain itu, sistem manajerial di rumah sakit juga harus mengatur mobilitas di ICU dengan efisien untuk mengurangi peluang transmisi patogen. Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama dari seluruh elemen di rumah sakit untuk dapat mencegah dan mengendalikan infeksi nosokomial, terutama di ICU. taris

Penulis: Taris Zahratul Afifah
Editor: Gabrielle Adani

Share your thoughts

Yuk berlangganan SKMA!

Anda akan memperoleh berita dan artikel terkini mengenai isu, perkembangan, dan tips-tips seputar kedokteran dan kesehatan.

Klik link berikut untuk berlangganan SKMA digital!

http://linktr.ee/medaesculapius