Mengenal Tata Laksana Batu Ginjal Staghorn di Era PCNL

batu ginjal staghorn PCNL JUMP 2021

Mengusung tema komprehensif “Enhancing Surgery in Urology”, JUMP 2021 kembali hadir dengan sesi pemaparan narasumber-narasumber di bidang urologi yang terkemuka—baik nasional maupun internasional. Salah satu bahasan dalam tema endourologi yang diangkat pada hari Minggu (30/5) adalah “All About PCNL”. Kuliah materi dan operasi semi-live ini dibawakan oleh Dr. Mahesh R. Desai, MBBS, MS, FRCSEd, FRCSEng, FACS dari Mulihibhai Patel Urological Hospital, India dan dr. Ponco Birowo, Sp.U(K), PhD dari Departemen Urologi FKUI-RSCM.

Mahesh membagikan ilmu dan perkembangan baru mengenai batu ginjal staghorn dan PCNL dalam bentuk kuliah yang bertajuk “Multitract PCNL for Complex Renal Calculi: Is It Still Safe & Effective?”. Mahesh memulai pemaparannya dengan informasi bahwa saat ini belum ada konsensus yang menyatakan definisi batu staghorn dengan jelas. Selain itu, klasifikasi ukuran staghorn calculus yang selama ini yang digunakan—utuh dan parsial—juga tidak memiliki kriteria volume yang khusus. Lebih lanjut, hal yang lebih penting dibandingkan beban batu itu sendiri adalah “staghorn morphometry”, yaitu ditsribusi beban batu staghorn yang dipetakan secara volumetrik di duktus kolektivus.

Selama ini, pasien dengan batu ginjal staghorn — yang dianggap sebagai batu ginjal kompleks—kerap ditata laksana dengan multiple tract PCNL. Padahal, menurut Mahesh, tidak semua pasien dengan jenis batu ginjal tersebut memerlukannya. Untuk staghorn dengan beban batu yang sangat besar, multiple tract PCNL memanglah pilihan yang tepat dan aman. Namun, PCNL jenis tersebut memiliki risiko komplikasi perdarahan yang lebih besar dibandingkan single tract PCNL.

Mahesh menunjukkan bahwa terdapat spektrum tata laksana yang berbeda untuk tingkat kompleksitas batu ginjal yang berbeda di ‘era PCNL’. Klasfikasi klinis baru tersebut ditunjukkan oleh gambar di bawah ini.

Staging dalam PCNL - JUMP 2021
Staging dalam prosedur PCNL

Selanjutnya, Mahesh menjelaskan pentingnya staging dalam melakukan prosedur PCNL. Dengan prosedur PCNL yang bertahap, risiko perdarahan dan absorpsi cairan akan menurun. Selain itu, staging bermanfaat untuk memastikan status bebas batu ginjal karena melakukan observasi mengenai nefroskopi kembali. Namun, sisi kontra dari staging adalah masa rawat inap yang diperpanjang dan peningkatan biaya.

“Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk menurunkan jumlah tract dan stage PCNL dengan memastikan pasien mendapatkan tingkat bebas batu ginjal tertinggi yang bisa ia dapatkan,” pungkas Mahesh. Sesi pun dilanjutkan dengan operasi semi-live yang bertajuk “Semi-Live Surgery: Tips & Tricks in Multitract PCNL”.

Kemudian, Ponco turut membahas PCNL dari segi posisi dengan judul materi “USG Guided Supine PCNL vs Other PCNLs” dan menunjukkan operasi melalui kuliah semi-live dengan tema “Semi-Live Surgery: USG Guided Supine PCNL”. Selanjutnya, diskusi mengenai pertanyaan yang diajukan oleh peserta untuk kedua narasumber di kolom komentar dimoderatori oleh dr. Widi Atmoko, Sp.U.

Selain sesi yang membahas PCNL, fokus pembahasan topik endourologi juga terbagi dalam dua sesi lainnya.  Dengan judul besar “All About RIRS”, dr. Nur Rasyid, Sp.U(K), PhD menjelaskan mengenai kemajuan penggunaan laser pada operasi RIRS dan menyuguhkan sesi operasi semi-live RIRS. Sesi ini juga dihadiri oleh Takaaki Inoue, MD, PhD turut memaparkan teknik mini E-CIRS menggunakan puncture doppler ultrasound untuk batu staghorn yang dilanjutkan denagn operasi semi-live mini E-CIRS. Diskusi mengenai RIRS dengan kedua narasumber dipandu oleh dr. Ponco Birowo, Sp.U(K), PhD.

Tak kalah seru, sesi endourologi selanjutnya mengulas mengenai ELMED Medical System Co. Avicenna Roboflex (fURS Robot) & Multimed EM Electromagnetic ESWL Device with X-Ray Fluoroscopy. Sesi ini juga turut membahas lokalisasi ultrasound secara otomatis sepenuhnya. Pemaparan mengenai perangkat-perangkat yang menunjang proses dalam endourologi ini disampaikan oleh Emre Salabas, MD, Prof. Dr. Onder Kara, dan Prof. Kemal Sanica, MD, PhD yang berasal dari Turki.

Selain bahasan-bahasan menarik mengenai endourologi, androurologi juga turut dipaparkan pada hari tersebut. Mengangkat topik “Barrier and Challenges for Erectile Dysfunction”, Prof. dr. Akmal Taher, Sp.U(K), PhD menjelaskan mengenai halangan-halangan yang dijumpai pasien dalam mengobati disfungsi ereksi dan apa yang perlu urolog ketahui. Sesi ini dilanjutkan dengan kuliah dari dr. Ponco Birowo, Sp.U(K), PhD mengenai tata laksana dan persiapan terapi yang perlu dilakukan untuk mengatasi disfungsi ereksi.

Penulis: Gabrielle Adani
Editor: Albertus Raditya Danendra

Share your thoughts