Metered Dose Inhaler, Sarana untuk Meredakan Asma

Cukup tekan, hirup perlahan, tahan napas, lega…

Asma merupakan salah satu penyakit yang dapat menyerang anak-anak maupun orang dewasa. Pada tahun 2018, Kementerian Kesehatan RI melaporkan bahwa sekitar 2,4% penduduk Indonesia menderita asma. Gejala asma muncul karena ada peradangan dan penyempitan pada saluran napas yang ditandai dengan kombinasi batuk, mengi, sesak napas, serta sesak dada. Pemberian terapi awal dapat dilakukan untuk mencegah keparahan asma yang diderita. Terapi inhalasi dapat dijadikan salah satu metode untuk membuka jalan napas serta mengontrol gejala asma sehingga penderita asma dapat kembali bernapas dengan baik dan menjalani kehidupan yang normal dan aktif.

Metered dose inhaler (MDI) merupakan salah satu alat sering digunakan pada terapi inhalasi. Perangkat ini memiliki tabung bertekanan yang berisi obat, surfaktan dengan atau tanpa pelarut, serta propelan cair. Propelan pada MDI berguna untuk mencairkan obat yang awalnya berbentuk gas pada tekanan atmosfer, menjadi cair apabila ditekan. Selain itu, terdapat ruang kosong berisi udara yang akan keluar bersama cairan suspensi dalam bentuk aerosol (udara yang membawa droplet) yang akan berada pada bagian atas saat inhaler digunakan. Alat ini juga dilengkapi corong serta tutup pelindung. MDI memanfaatkan energi propelan terkompresi untuk menghasilkan aerosol yang berisi obat yang digunakan untuk mengatasi asma. Obat ini terkandung dalam aerosol bertekanan dan dicampur dengan propelan yang membantu untuk mendorong obat keluar dari inhaler ke mulut dan paru-paru. 

Metered dose inhaler dapat digunakan baik secara langsung, atau melalui perangkat tambahan kepada pasien, seperti spacer. Perangkat tambahan ini bertujuan menahan aerosol untuk menghilangkan masalah dengan sinkronisasi pelepasan dan penghirupan dosis yang benar dan memberikan kemungkinan untuk menghirup satu dosis dalam beberapa napas. Penggunaan MDI dengan spacer aman dan efektif sebagai terapi awal anak dengan asma, karena dapat menghilangkan kesalahan dari penggunaan MDI tanpa spacer.

Metered dose inhaler memiliki berbagai keuntungan, salah satunya dosis obat yang dikeluarkan saat disemprot sudah dirancang dengan tepat. Alat ini pun relatif berukuran kecil dan ringan, seukuran genggaman tangan sehingga mudah untuk dibawa dan dimasukkan ke saku. Harga perangkat ini juga cukup terjangkau. Selain itu, MDI juga cukup praktis dalam pengaplikasiannya. Cukup dengan melepaskan tutup dan memegang MDI dengan tegak, dikocok terlebih dahulu, kemudian pengguna berada dalam posisi berdiri atau duduk tegak dengan kepala sedikit dimiringkan ke belakang, lalu masukan bagian mouthpiece MDI ke dalam mulut. Setelah itu, inhaler ditekan dengan cepat untuk mengeluarkan obat yang akan dihirup pengguna. Partikel obat yang berukuran besar mengendap di mulut, faring, dan laring, sedangkan partikel yang lebih kecil dapat masuk kedalam saluran napas bawah. Pengguna menarik napas perlahan selama 3-5 detik, lalu menahan napas selama 10 detik untuk memungkinkan obat masuk jauh ke dalam paru-paru. Kemudian buang napas perlahan. Tunggu 1 menit kemudian untuk mengambil isapan kedua. 

Di sisi lain, penggunaan MDI membutuhkan aktuasi yang benar serta koordinasi yang tepat saat menghirup dan menekan inhaler sehingga alat ini sulit digunakan pada beberapa kelompok, seperti anak kecil, lansia, atau cacat mental. Ukurannya yang juga kecil membuat inhaler menjadi lebih mudah hilang dan sulit ditemukan saat dibutuhkan pada keadaan genting. Prinsip kerjanya yang butuh aliran inspirasi sebagai media penggerak obat dirasa kurang ideal digunakan saat gejala asma memburuk. Kekurangan lainnya adalah propelan yang digunakan pada MDI, yaitu hidrofluoroalkana (HFA), dapat menyebabkan efek rumah kaca.

Referensi:

  1. Haaije de Boer A, Thalberg K. Inhaled Medicines. 1st ed. Academic Press; 2021. Chapter 4, Metered dose inhalers (MDIs); p. 65-97. Available from: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/B9780128149744000018 
  2. Lorensia A, Suryadinata RV. Panduan lengkap penggunaan macam-macam alat inhaler pada gangguan pernapasan. 1st ed. Surabaya: M-Brothers Indonesia; 2018. Available from: http://repository.ubaya.ac.id/33825/7/INHALER_BUKU_Amelia%26Rivan_2018%20.pdf
  3. Asmare T, Belayneh A, Dessie B. Practice on metered dose inhaler techniques and its associated factors among asthmatic patients at Debre Markos Comprehensive Specialized Hospital, East Gojjam, Ethiopia: a prospective study. ScientificWorldJournal. 2021 Aug 11. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8376452/

Share your thoughts

Yuk berlangganan SKMA!

Anda akan memperoleh berita dan artikel terkini mengenai isu, perkembangan, dan tips-tips seputar kedokteran dan kesehatan.

Klik link berikut untuk berlangganan SKMA digital!

http://linktr.ee/medaesculapius