Pertusis

Definisi

Pertusis, atau batuk rejan, adalah penyakit infeksi saluran napas akut yang paling sering disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis atau juga oleh Bordetella parapertussis dan Bordetella holmesii. Batuk rejan dapat menyerang seluruh usia, namun lebih sering ditemukan pada anak-anak. Penyakit ini terutama berbahaya pada bayi yang belum mendapatkan vaksin pertussis.

Sinonim: batuk rejan, whooping cough, batuk seratus hari

Pertussis atau batuk rejan

Batuk rejan. (https://www.franciscanhealth.org)

Gejala Klinis

Terdapat empat fase klinis klasik pertusis:

  • Fase inkubasi, berlangsung selama 7—10 hari tanpa disertai gejala.
  • Fase katarhal, berlangsung selama 1—2 minggu. Pada fase ini, jumlah bakteri mencapai puncak sehingga paling berisiko terjadi penularan selama fase ini. Gejalanya:
    • Rhinorrhea (pikel)
    • Malaise (lemas)
    • Demam (ringan atau tidak sama sekali)
    • Bersin-bersin
    • Anoreksia (tidak nafsu makan)
  • Fase paroksismal, berlangsung selama 2—4 minggu. Gejalanya:
    • Batuk rejan (khas pada pertusis, berupa batuk berulang-ulang yang diikuti oleh suara melengking saat inspirasi)
    • Muntah
    • Leukositosis (peningkatan leukosit)
  • Fase penyembuhan, berlangsung selama 3—4 minggu atau bisa lebih lama. Pada tahap ini, hampir sudah tidak ditemukan adanya bakteri. Gejalanya:
    • Batuk yang sudah berkurang frekuensi dan keparahannya
    • Dapat terjadi komplikasi sekunder (pneumonia, kejang, ensefalopati, dll.)

Perlu diketahui bahwa gejala klinik klasik di atas tidak selalu terlihat pada pasien dengan kekebalan parsial atau orang dewasa.

Etiologi & Patogenesis

Batuk rejan disebabkan oleh Bordetella, suatu bakteri kokobasil gram negatif aerobik. Bordetella pertussis merupakan bakteri utama penyebab batuk rejan. Bakteri Bordetella lain juga dapat menyebabkan pertusis, yaitu B. parapertussis dan B. holmesii. B. pertussis merupakan penyakit manusia yang tidak memiliki reservoir lingkungan atau hewan.

Infeksi dimulai dengan paparan terhadap droplet dari orang yang terinfeksi B. pertussis. Bakteri ini memiliki preferensi mukosa epitel respiratorius dan berkoloni di sana sehingga menyebabkan inflamasi dan imobilisasi silia.[3] B. pertussis memiliki banyak faktor virulensi yang menyebabkan terjadinya penyakit. Bakteri melekat dengan sel epitel menggunakan protein-protein adhesin, contohnya pertaktin dan filamentous hemagglutinin. B. pertussis juga menghasilkan banyak toksin yang berperan dalam melawan imunitas tubuh, antara lain toksin pertusis, toksin hemolisin, sitotoksin trakeal, dan lipopolisakarida (LPS).

Patofisiologi

Bordetella pertussis menghasilkan toksin pertusis yang menyebabkan leukositosis dengan limfositosis. Saat ini, belum ditemukan toksin yang khusus menyebabkan terjadinya batuk rejan pada pertusis.i Bakteri juga menginvasi makrofag alveolar sehingga menyebabkan gangguan klirens sekresi paru.

Diagnosis

Berdasarkan gejalanya, pertusis dapat dicurigai pada pasien dengan gejala klinis berikut:

  • Batuk lama (≥ 2 minggu)
  • Episode batuk mendadak
  • Muntah setelah batuk
  • Suara inspirasi melengking
  • Apnea dengan atau tanpa sianosis pada bayi

Selanjutnya, dapat dilakukan pemeriksaan lab untuk memastikan diagnosis pertusis.

Pengumpulan Spesimen

Spesimen diambil dari aspirat nasofaring. Apusan/swab nasofaring sebaiknya tidak digunakan karena tidak dapat mengambil epitel bersilia dengan jumlah cukup. Jika hendak dikultur, spesimen diinokulasi ke media isolasi (misalnya agar Regan-Lowe) atau pada medium transpor (misalnya medium transpor Regan-Lowe) dan segera dibawa ke laboratorium.

Kultur

Kultur dianggap sebagai baku emas karena merupakan satu-satunya metode identifikasi yang 100% spesifik. Kultur sebaiknya diperoleh dalam 2 minggu pertama batuk karena setelah itu, sensitivitas berkurang dan risiko negatif palsu meningkat.

PCR

PCR merupakan tes cepat yang sangat sensitif, namun spesifisitasnya bervariasi. Hasil PCR cukup akurat hingga minggu ke-4 batuk. Setelahnya, jumlah DNA bakteri di nasofaring akan menurun sehingga berisiko negatif palsu.

 

Tata Laksana

Bagi anak-anak berusia ≥ 6 bulan dapat dirawat jalan dengan perawatan penunjang. Anak yang perlu dirawat di rumah sakit yaitu: berusia < 6 bulan, pneumonia, kejang, dehidrasi, gizi buruk, henti napas lama, atau sianosis (kebiruan) setelah batuk.

Antibiotik

Berikan eritromisin oral (12,5 mg/kgBB/kali, 4 kali sehari) selama 10 hari atau makrolid lainnya. Tujuan pemberian antibiotik ialah menurunkan periode infeksius, tetapi tidak memperpendek durasi sakit.

Oksigen

Oksigen diberikan pada anak yang pernah mengalami sianosis, henti napas, atau batuk paroksismal berat. Sebaiknya gunakan nasal prongs; jangan menggunakan kateter nasofaringeal atau kateter nasal karena dapat memicu batuk. Lubang hidung dipastikan bersih dari mukus agar aliran oksigen tidak terhambat. Terapi dilakukan hingga gejala yang disebutkan di atas mereda.

Tata Laksana Jalan Napas

Selama terjadi batuk paroksismal, letakkan anak dengan posisi kepala lebih rendah dalam posisi telungkup atau miring. Hal ini bertujuan mencegah aspirasi muntahan dan membantu pengeluaran sekret.

Apabila anak mengalami episode sianosis, hisap lendir dari hidung dan tenggorokan dengan hati-hati. Segera bersihkan jalan napas & berikan bantuan napas manual atau pompa ventilasi apabila anak mengalami apneu.

Komplikasi

Pneumonia

Pneumonia merupakan komplikasi pertusis paling umum yang disebabkan oleh infeksi bakteri sekunder atau aspirasi muntahan. Pada anak, dapat dicurigai terjadi pneumonia jika terdapat takipneu di antara episode batuk, demam, dan terjadi distres pernapasan yang cepat.

Kejang

Kejang dapat disebabkan anoksia akibat apneu, episode sianotik, atau ensefalopati akibat pelepasan toksin.

Gizi Kurang

Karena berkurangnya asupan makan dan sering muntah, anak dengan pertusis seringkali mengalami gizi kurang. Untuk mencegahnya, berikan asupan makanan adekuat.

Perdarahan dan Hernia

Sering terjadi perdarahan subkonjungtiva dan epistaksis (mimisan) pada pasien pertusis. Hernia umbilikalis atau hernia inguinalis juga dapat terjadi akibat episode batuk yang sangat kuat.

Referensi

1.Cherry JD, Heininger U. Pertussis and other Bordetella infections. In: Cherry JD, Harrison GJ, Kaplan SL, Steinbach WJ, Hotez PJ, eds. Feigin and Cherry’s textbook of pediatric infectious diseases. 8th ed. Philadelphia: Elsevier Inc; 2019. p. 1159-60

2. Murray PR, Rosenthal KS, Pfaller MA. Medical microbiology. 7th ed. PA: Saunders; 2013. p. 306-7

3. Nguyen VTN, Simon L. Pertussis: The Whooping Cough. Prim Care. 2018 Sep;45(3):423-431

4. Gopal DP, Barber J, Toeg D. Pertussis (whooping cough). BMJ. 2019 Feb 22;364:l401

5. Centers for Disease Control and Prevention. Pertussis (Whooping cough) [Internet]. 2019 18 Nov [accessed 2020 Feb 3]. Available on: https://www.cdc.gov/pertussis/clinical/diagnostic-testing/diagnosis-confirmation.html

6. World Health Organization. Pelayanan kesehatan anak di rumah sakit: pedoman bagi rumah sakit rujukan tingkat pertama di kabupaten/kota. Jakarta: World Health Organization Indonesia; 2009. p. 111-3.

Share your thoughts