Potret Bunga Pancarona

Akan ada waktu yang tepat bagi kuncup untuk mekar dan memamerkan warnanya

bunga mekar impian

Langit kelabu menyelimuti hamparan laut luas di pinggiran Jakarta. Tak terasa, sudah hampir tiba waktu bagi mentari untuk terbenam. Namun, alih-alih menunjukkan cahayanya yang bertajuk oranye-keemasan, wujudnya justru tak mengintip sedikit pun di balik awan kelabu yang tebal. Bermodal pesanan air kelapa, Asti telah menghabiskan waktu selama satu jam di warung pinggir pantai sembari memandangi langit dan terlarut dalam pikirannya yang kalut. Selang waktu berlalu, di tengah pantai itu muncul seseorang dengan kamera yang terkalung di lehernya, berderap menuju warung tempat Asti termenung.

Hadirlah Tio, sosok familiar yang tak pernah Asti temui lagi sejak duduk di bangku SMA. Ia adalah seorang pemuda yang gemar menggeluti fotografi. Hobinya tersebut membawanya ke pantai ini untuk memandang matahari terbenam. Sayangnya, ia tertipu prediksi cuaca di hari itu. Kehadiran Tio di warung itu tidak mendorong Asti untuk berbasa-basi, mereka berdua hanya terdiam diiringi debur ombak.

Namun, hati Tio perlahan miris mendengar beribu helaan napas Asti sejak duduk di sampingnya,. Beberapa menit kemudian, ia memecah keheningan dan menawarkan Asti untuk mencurahkan kegundahannya. Mengingat kedua insan tersebut memiliki jalan hidup yang amat berbeda, Asti berpikir bahwa ia tidak akan lagi berpeluang untuk bersinggungan dengan Tio. Maka hari itu, dibanding hanya berusaha berkomunikasi dengan langit dan debur ombak, Asti memutuskan untuk menceritakan segalanya kepada Tio.

Di tengah usahanya dalam meniti karir, Asti merasa terjebak dalam perjalanan waktu yang berlalu begitu cepat. Semua orang seakan sedang berlari, saling mendahului, dan berkembang pesat. Rasanya seakan Asti adalah satu-satunya orang yang tidak dapat melakukan apapun dan hanya berjalan di tempat. Maksud hati, Asti ingin sekali mendobrak dinding yang menjadi sekat antara ketidakmampuan dan impiannya. Namun realitanya, ia terus terbentur dan terbentur, hingga tersadar betapa bodoh dan tidak mampunya ia dalam meraih apa yang ia cita-citakan.

Senja di pantai itu hanyalah secuplik memori bagi Asti. Esoknya, ia kembali terlarut dalam rutinitasnya yang jemu. Suatu hari, datang sebuah surat untuk Asti dari Tio, berisikan foto-foto bunga dalam beragam warna—sebagian berada dalam kondisi mekar dan sebagian masih berwujud kuncup. Di balik foto setangkai kuncup bunga di tengah kebun yang luas, tampak tulisan tangan Tio.

Aku ingin menunjukkanmu potret pancarona dari bunga-bunga yang pernah kutemui. Meskipun mereka tampak berani menunjukkan warnanya, aku juga ingin menunjukkanmu potret mereka saat masih berupa kuncup yang tak tahu pasti akan mekar atau tidak. Melalui potret ini, aku ingin menyampaikan; Ketika Tuhan memutuskan bahwa saat itu adalah waktu bagi mereka untuk mekar dan menunjukkan ragam warna kelopaknya kepada dunia, maka saat itulah waktu yang tepat bagi mereka.

Begitupun bagimu.

Akan ada waktu yang tepat bagimu untuk memenuhi segala ambisi dan harapanmu. Akan ada waktu yang tepat bagimu untuk percaya pada dirimu sendiri dan menunjukkan kepada dunia segala hal yang mampu kamu lakukan. Akan datang waktu yang tepat bagimu untuk menyadari bahwa kamu telah bekerja keras dan merasakan kenikmatan hasilnya.

Aku pun tak sabar melihatmu mekar dan menampilkan warna yang kau punya. Aku siap untuk mengatakan pada semua orang yang melihatmu bahwa kau sudah berkembang sejauh itu. Namun, aku akan merasa sedih jika kamu memutuskan untuk menyerah, sebab aku tahu kamu bisa, Tuhan pun tahu kamu bisa, dan kamu pun juga harus tahu bahwa kamu bisa melewati segala rintangan ini. Akan ada jalan panjang penuh warna dan senyuman yang menantimu setelah melalui semua ini.

Mata Asti berkaca-kaca melihat potret tersebut. Bunga itu mengingatkannya bahwa masih banyak hal indah dalam hidup ini. Tulisan Tio seolah berkata padanya bahwa masih ada seseorang di luar sana yang mendukungmu, sama-sama bertahan hidup, dan selalu siap menunggumu hingga waktu yang tepat datang menghampirimu.

Penulis: Rahmi Salsabila dan Benedictus Ansell Susanto
Editor: Ariestiana Ayu Ananda Latifa

Share your thoughts

Yuk berlangganan SKMA!

Anda akan memperoleh berita dan artikel terkini mengenai isu, perkembangan, dan tips-tips seputar kedokteran dan kesehatan.

Klik link berikut untuk berlangganan SKMA digital!

http://linktr.ee/medaesculapius