Rheumatoid Arthritis

Definisi

Rheumatoid Arthritis (RA) merupakan penyakit autoimun yang ditandai dengan inflamasi pada sendi. Penyakit ini banyak menyerang pasien pada umur 50 tahun.

Gejala Klinis

Gejala utama:

  • Nyeri sendi, disertai kaku dan bengkak
  • Deformitas sendi
  • Erosi tulang

Gejala lain:

  • kesulitan berjalan
  • demam
  • mobilitas menurun
  • berat badan menurun

Gejala nyeri terjadi simetris pada kedua tangan dan/atau kaki. Umumnya muncul secara berjenjang dengan permulaan rasa sakit yang tidak disadari oleh pasien. Pada tahap awal penyakit, tidak ada gejala spesifik yang membedakan RA dengan arthritis lainnya.

Etiologi & Patogenesis

Faktor genetik, lingkungan, dan modifikasi pasca translasi (posttranslation modification) polipeptida berperan penyebab RA. Penyebab utama dari penyakit ini umumnya berasal dari kelainan pada sistem HLA (Human Leukocyte Antigen), tepatnya HLA-DRB1. Perubahan alel gen tersebut menyebabkan perubahan sekuens asam amino yang diekspresikan.

Terdapat berbagai jenis genotip HLA yang menyebabkan RA. Beberapa diantaranya dapat menjadi agresif dan erosif dengan tingkat mortalitas yang lebih tinggi. Selain itu, perubahan epigenetik juga memiliki peranan dalam patogenesis RA.

Patofisiologi

RA berkaitan kuat dengan keberadaan autoantibodi yang menyerang persendian. Penyakit biasanya diawali dengan pembentukan kompleks imun ACPA (Autoantibodies against Citrullinated Peptides) yang berikatan dengan faktor reumatoid (RF). Ikatan ini memulai berbagai aktivasi komplemen dan berbagai rangkaian sistem imun. Dengan ini akan menyebabkan inflamasi dan respon yang destruktif.

Pembengkakan dan inflamasi dari sendi merupakan manifestasi klinis dari serangkaian aktivasi imun pada pasien RA. Hal ini ditandai dengan infiltrasi leukosit pada kompartemen sinovial sendi. Sel imun pada ruang sinovial mendapat sinyal adanya inflamasi sehingga terjadi regulasi matriks disertai katabolisme kondrosit sendi dan osteoklastogenesis sinovial. Hal ini memicu kerusakan sendi.

 

Patofisiologi Rheumatoid Arthritis

Gambar 1. Patofisiologi Rheumatoid Arthritis

Jaringan kartilago mengalami kerusakan karena adanya oleh efek katabolik yang menyebabkan jaringan tersebut mengalami degradasi. Proses ini membuat ruang sendi terlihat mengecil pada pemeriksaan radiografi. Pada pasien kronik, erosi akan berlanjut sampai tulang keras.

Diagnosis

Pasien RA merasakan sakit dan kekakuan pada lebih dari satu sendi. Berikut ciri-ciri yang umum dijumpai:

  • Terjadi pada sendi lengan dan/atau jari-jari
  • Nyeri dirasakan lebih sakit pada pagi hari
  • Bengkak akibat peradangan
  • Gejala sistemik, yaitu kelelahan dan berat badan menurun

Pemeriksaan lanjutan yang diperlukan untuk mendukung diagnosis dari RA adalah:

  • Pemeriksaan serologi
    • Anti-Citrullinated Protein Antibody (ACPA)
    • Faktor Rheumatoid (RF)
    • Pemeriksaan radiografi, untuk melihat perubahan erosif dan penyempitan ruang sinovial

Berikut kriteria diagnosis RA menurut American College of Rheumatology and European League Against Rheumatism:

KRITERIA

SKOR
1.    Target populasi

·         Setidaknya memiliki 1 sendi dengan sinovitis

·         Sinovitis yang belum dapat dijelaskan penyebabnya

 

 

2.    Banyaknya sendi

·         1 sendi besar

·         2 – 10 sendi besar

·         1 – 3 sendi kecil (beserta/tidak sendi besar)

·         4 – 10 sendi kecil (beserta/tidak sendi besar)

·         > 10 sendi (setidaknya 1 sendi kecil)

 

0

1

2

3

5

3.    Test serologi

·         RF dan ACPA negatif

·         RF dan ACPA positif rendah

·         RF dan ACPA positif tinggi

 

0

2

3

4.    Reaktan fase akut

·         CRP dan ESR normal

·         Abnormal CRP atau ESR normal

 

0

1

5.    Durasi terjadinya gejala

·         < 6 minggu

·         ≥ 6 minggu

0

1

RP = Rheumatoid Factor; ACPA = Anti-Citrullinated Protein Antibody CRP = C-rective Protein; ESR = Erythrocyte Sedimentation Rate.

Pasien didiagnosis memiliki RA apabila mendapatkan skor lebih dari 6. Untuk skor di bawah 6 tidak diklasifikasikan sebagai RA namun membutuhkan pemeriksaan lagi ke depannya.

Manifestasi Rheumatoid Arthritis

Gambar 2. Deformitas Rheumatoid Arthritis

Tata Laksana

Pasien RA umumnya menggunakan obat golongan DMARD (Disease-Modifying Antirheumatic Drug) yang memiliki target pada jaringan inflamasi dan bekerja spesifik untuk mengurangi laju kerusakan struktur sinovial.

Dosis obat golongan DMARD untuk pasien RA:

DMARD (Disease-Modifying Antirheumatic Drug)

 
Metotreksat 25 mg/minggu Dosis awal 10–25 mg selama 4-8 minggu; folat 10mg/minggu
Sulfasalazine 3 g/hari Dosis awal 1–3 g per hari, selama 4-8 minggu
Leflunomide 20 mg/hari Memiliki efek samping pada gastrointestinal
Hidroksiklorokuin 400 mg/hari

Untuk arthritis ringan atau sebagai terapi kombinasi

 

Pengobatan RA juga seringkali diiringi dengan glukokortikoid dosis rendah, yakni <7,5 mg/hari. Kombinasi DMARD dan glukokortikoid memberikan proteksi struktural yang lebih baik daripada penggunaan DMARD saja.

Komplikasi

Rheumatoid arthritis sering kali berkaitan dengan penyakit kardiovaskular, di antaranya adalah infark miokard, kelainan serebrovaskular, dan gagal jantung. RA juga sering disebabkan oleh penggunaan glukokortikoid atau OAINS (Obat Anti Inflamasi Non-Steroid). Kompleks imun yang bersirkulasi juga menyebabkan plak atheromatosa menjadi tidak stabil. Kadar lipid juga dapat berkaitan dengan kondisi inflamasi tersebut. Kadar HDL dan LDL pada serum juga meningkat karena terapi yang dilakukan.

Inflamasi yang terjadi pada RA juga memberikan efek pada organ berikut:

  1. Otak (kelelahan dan menurunnya fungsi kognitif)
  2. Hati (meningkatnya respon fase akut dan anemia penyakit kronis)
  3. Paru-paru (inflamasi dan fibrosis)
  4. Kelenjar eksokrin (sindrom Sjögren sekunder)
  5. Otot (sarcopenia)
  6. Tulang (osteoporosis)

Referensi

  1. Van der Woude D, Van Der Helm-van Mil AHM. Update on the epidemiology, risk factors, and disease outcomes of rheumatoid arthritis. Best Practice & Research Clinical Rheumatology. 2018. 1-12. https://doi.org/10.1016/j.berh.2018.10.005
  2. Smolen JS, Aletaha D, McInnes JB. Rheumatoid arhritis. Lancet. 2016; 388(1), 2023-2038.
  3. McInnes IB, Schett G. The pathogenesis of rheumatoid arthritis. New England Journal of Medicine. 2011;365(23),2205–2219.
  4. Wasserman AM. Diagnosis and management of rheumatoid arthritis. American Family Physician. 2011 Dec 01;84(11):1245-1252.
  5. Smith HR. Rheumatoid Arhritis [internet]. MedScape. 2018 July 17. [updated: 2020 Feb 7; cited 2020 Feb 15]. Available from: https://emedicine.medscape.com/article/331715-overview

Share your thoughts

Yuk berlangganan SKMA!

Anda akan memperoleh berita dan artikel terkini mengenai isu, perkembangan, dan tips-tips seputar kedokteran dan kesehatan.

Klik link berikut untuk berlangganan SKMA digital!

http://linktr.ee/medaesculapius