Rhinitis Alergi

Definisi dan Informasi Umum

Rhinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas yang dimediasi sistem imun (reaksi alergi) setelah mengalami pajanan dengan sebuah alergen (pemicu alergi, dapat berupa debu, serbuk sari, atau yang lainnya). Penyakit ini ditandai dengan adanya ingus yang keluar dari hidung (rinore), bersin-bersin, serta rasa gatal dan hidung tersumbat. Penyakit ini umumnya disertai dengan adanya konjungtivitis alergi (mata merah).1-3 

Rhinitis alergi dikelompokkan menurut durasi dan keparahan dengan ketentuan sebagai berikut: 1-3 

  • Durasi:
    • Intermiten: apabila gejala menetap selama <4 hari dalam seminggu, selama <4 minggu
    • Persisten: apabila gejala menetap selama setidaknya 4 hari dalam seminggu, selama setidaknya 4 minggu
  • Keparahan
    • Sedang-berat, apabila terdapat salah satu dari gejala berikut:
      • Gangguan tidur
      • Gangguan dalam aktivitas sehari-hari, aktivitas rekreasi, atau olahraga
      • Gangguan dalam bekerja ataupun sekolah
      • Gejala yang terasa memberatkan
    • Ringan, apabila tidak terdapat gejala seperti di atas

Penyakit ini merupakan penyakit peradangan saluran napas atas kronik yang sangat sering dijumpai, memiliki prevalensi mencapai 40% dari populasi umum. Gejalanya pun memberikan dampak buruk bagi kualitas hidup pasiennya, baik berupa gangguan aktivitas sehari-hari seperti belajar, bekerja, maupun gangguan tidur, hingga masalah biaya medis.1 Indonesia sendiri belum memiliki data epidemiologi secara nasional mengenai prevalensi rhinitis alergi.

sinonim: RA

Tanda dan Gejala

  • Karakteristik khas dari penyakit ini antara lain berupa gejala hidung yang umumnya muncul di pagi hari ataupun malam hari, berupa: 1-3
    • Bersin berulang
    • Hidung tersumbat
    • Hidung berair
    • Hidung gatal

Di samping itu, dapat ditemukan gejala lain, seperti:

  • Gejala mata: mata merah, berair, dan gatal
  • Gejala lain: tenggorok gatal, batuk, gangguan tidur, dan gangguan konsentrasi

Etiologi dan Patogenesis

Rhinitis alergi terjadi akibat adanya respons imun terhadap alergen inhalan yang dimediasi oleh IgE sehingga menyebabkan inflamasi oleh sel Th2. Perjalanan penyakitnya dibedakan menjadi reaksi awal dan reaksi lanjut: 1

  • Respon awal:
    • Berlangsung dalam hitungan menit setelah pajanan terhadap alergen, di mana sel darah putih pada mukosa hidung (sel mast) teraktivasi oleh alergen, sehingga melepaskan protein yang memicu reaksi alergi (melalui proses degranulasi), seperti histamin (utama), leukotrien, dan prostaglandin
  • Respon lanjutan:
    • Berlangsung 4—6 jam setelah respons awal, di mana protein yang dihasilkan sel mast mengaktifkan sel darah putih eosinofil, limfosit T, dan basofil. Sel darah putih ini masuk ke dalam mukosa hidung sehingga menyebabkan penyumbatan hidung

Pada rhinitis alergi yang berlangsung lama, timbul reaksi hiperresponsivitas yang tidak dimediasi oleh IgE. Mukosa hidung pun menjadi hiperreaktif terhadap stimulus yang normal (seperti asap rokok dan udara dingin) akibat adanya sebukan eosinofil dan hilangnya mukosa hidung. 1

Diagnosis

Diagnosis OMA dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.1-3 

  • Anamnesis:
    • Ditemukan gejala khas rhinitis alergi, yaitu serangan bersin berulang. Dapat disertai dengan gejala lainnya, seperti:
      • keluar ingus yang encer dan banyak (rhinorrhea)
      • hidung tersumbat
      • hidung dan mata gatal
      • mata banyak mengeluarkan air mata
    • Pada anak-anak, terkadang keluhan yang timbul tidaklah lengkap. Terkadang keluhan utama atau satu-satunya hal yang dikeluhkan pasien adalah keluhan hidung tersumbat.
  • Pemeriksaan fisik
    • Dapat dilakukan rinoskopi, pada rinoskopi anterior:
      • Tampak mukosa (lapisan permukaan) hidung basah, edema (bengkak), berwarna pucat atau livid (berwarna kebiruan) disertai banyak sekret encer
      • Mukosa hidung bagian bawah dapat terlihat hipertrofi apabila rhinitis persisten
    • Tanda spesifik lainnya yang dapat terlihat pada anak antara lain:
      • Allergic shiner: bayangan gelap di daerah bawah mata yang terjadi karena obstruksi hidung yang menyebabkan stasis vena sekunder
      • Allergic salute: tampak anak menggosok-gosok hidung dengan punggung tangan karena gatal
      • Allergic crease: timbul garis melintang pada bagian 1/3 bawah punggung hidung
    • Dapat dilakukan juga pemeriksaan untuk mencari alergen penyebab, yakni dengan:
      • Skin end-point titration (SET): untuk mencari alergen inhalan. Dilakukan dengan menyuntikkan alergen pada berbagai konsentrasi dengan tingkat kepekatan bertingkat
      • Challenge test (diet eliminasi dan provokasi): baku emas untuk alergi makanan. Makanan yang dicurigai akan diberikan pada pasien setelah berpantang selama lima hari dan kemudian diamati reaksinya. Hal ini dikarenakan alergen ingestan akan lenyap secara tuntas dari tubuh dalam jangka waktu lima hari
    • Pemeriksaan penunjang, dapat dilakukan:
      • Pemeriksaan darah tepi: hitung eosinofil dapat meningkat pada rhinitis alergi, namun bersifat kurang spesifik karena dapat meningkat pada penyakit lainnya seperti infeksi parasit dan keganasan.
      • Pemeriksaan IgE spesifik dengan RAST/ELISA: sangat bermakna untuk mendiagnosis rhinitis alergi, namun harus berkorelasi dengan gejala klinis
      • Pemeriksaan eosinofil sekret hidung: ditemukannya eosinofil sebanyak >30%/lapang pandang besar memiliki spesifisitas sangat tinggi untuk mendiagnosis rhinitis alergi


Gambar 1. Gejala khas rhinitis alergi pada pasien anak. Allergic crease (kiri), allergic salute (tengah), dan allergic shiner (kanan).4

Tata Laksana

Penanganan utama rhinitis alergi adalah menemukan (identifikasi) alergen dan menghindari alergen yang memicu rhinitis alergi. Jika alergen tidak mungkin dihindari (e.g. debu dari karpet di kantor) maka langkah utama yang bisa dilakukan adalah mengontrol paparan alergen seminimal mungkin. Contoh langkah pencegahan yang dapat dilakukan seperti:

  • Meminta pasien mencatat aktivitas yang dilakukan dan derajat keparahan hidung tersumbat / berair (dalam semacam diary) – untuk membantu pasien mengenali alergen
  • Mencuci sprei dengan air hangat (suhu 55-60oC) dan menjemur bantal-guling. Hindari memakai kasur yang menggunakan kapuk karena cenderung menjadi tempat tungau debu rumah
  • Menyimpan barang dalam kotak tertutup untuk mencegah akumulasi debu
  • Menghindari penggunaan karpet dan memelihara hewan
  • Jika memungkinkan, gunakan vaccuum cleaner dengan HEPA Filter untuk membersihkan rumah dari debu (usahakan bukan pasien yang membersihkan, jika terpaksa gunakan masker untuk mencegah kontak dengan alergen)

Tata laksana lain yang dapat diberikan adalah sebagai berikut: 1

  • Cuci Hidung (irigasi salin nasal)
    • Cuci hidung dilakukan memakai cairan infus (berupa NaCl 0,9% atau Ringer Laktat) dan alat suntik (tanpa memakai jarumnya) 5 mL. Cuci hidung bertujuan untuk membersihkan rongga hidung dan mengurangi rasa tersumbat pada hidung, dilakukan 1-2x/hari. Link bagaimana melakukan cuci hidung dapat dilihat melalui pranala berikut: https://www.youtube.com/watch?v=FXwAM7DYAkI
  • Obat-obatan
    • Jika diperlukan dokter akan memberikan pasien obat yang sesuai berdasarkan klasifikasi diagnosis rhinitis alergi, dengan masa pemberian obat selama 2—4 minggu. Setelah itu, dilakukan evaluasi ulang untuk melihat respons pasien. Apabila terdapat perbaikan, obat diteruskan lagi selama satu bulan
    • Obat yang direkomendasikan antara lain:
      • Antihistamin oral (Loratadin, Cetirizine)
      • Kortikosteroid intranasal jika diperlukan (Fluticasone)
    • Imunoterapi
      • Umumnya baru dipertimbangkan apabila tidak terdapat perbaikan setelah dilakukannya farmakoterapi dan penghindaran alergen. Dapat diberikan secara subkutan atau sublingual dengan berbagai pertimbangan khusus. Penggunaannya pun selama 3—5 tahun untuk memeprtahankan efektivitas jangka panjang

Penting untuk pasien memeriksakan kemungkinan asma, karena asma dan rhinitis alergi saling berhubungan satu sama lain dan dapat saling memicu. 80% pasien asma memiliki rhinitis alergi,6

Komplikasi dan prognosis

Secara umum, rhinitis alergi memiliki prognosis: 1

  • Quo ad vitam: dubia ad bonam. Rhinitis alergi tidak mengancam nyawa, namun jika reaksi alergi menyebabkan reaksi seluruh tubuh (reaksi sistemik – dikenal sebagai anafilaksis) maka dapat mengancam nyawa.7
  • Quo ad functionam: dubia ad bonam. Rhinitis alergi dapat mengganggu aktivitas, tergantung derajat keparahan. Jika rhinitis cukup berat maka kemampuan pasien dalam beraktivitas dapat terganggu, terutama kemampuan pasien mencium bau (menghidu) yang dapat menurun akibat hidung tersumbat.
  • Quo ad sanactionam: dubia ad bonam. Rhinitis alergi dapat terkontrol jika pasien mampu mengidentifikasi alergen dan menghindarinya atau mengontrol paparan alergen. Jika tidak, maka alergi dapat muncul kembali.

Komplikasi rhinitis alergi yang paling sering, antara lain:

Referensi

  1. Brozek JL, Bousquet J, Agache Ioana, Agarwal A, Bachert C, Bosnic-Anticevich S. Allergic rhinitis and its impact on asthma (ARIA). J allergy clin immunol. 2016; 140(4).
  2. Irawati N, Kasakeyan E, Rusmono N. Rinitis alergi. In: Buku ajar ilmu kesehatan telinga, hidung, tenggorok, kepala, dan leher. 6th ed. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2012.
  3. Akhouri S, House SA. Allergic rhinitis. Treasure Island: StatPearls Publishing; 2019. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470332/
  4. Allergic rhinitis clinical update [Internet]. Australia: Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy; 2017. Available from: https://www.allergy.org.au/hp/papers/allergic-rhinitis-clinical-update
  5. Chaubal T. Geographic tongue. Am J Med. 2017 Dec; 130(12)
  1. Egan, M., Bunyavanich, S. Allergic rhinitis: the “Ghost Diagnosis” in patients with asthma. asthma res and pract 1, 8 (2015). https://doi.org/10.1186/s40733-015-0008-0
  2. Kim M, Ahn Y, Yoo Y, et al. Clinical Manifestations and Risk Factors of Anaphylaxis in Pollen-Food Allergy Syndrome. Yonsei Med J. 2019;60(10):960–968. doi:10.3349/ymj.2019.60.10.960

Share your thoughts