Sang “Jembatan” antara Dokter dan Analis Laboratorium

Nuri Dyah Indrasari

Perjalanan dan pengabdian seorang dokter patologi klinik

Pemeriksaan laboratorium adalah frasa yang pertama kali muncul di benak seseorang ketika mendengar “patologi klinik”. Tidak dapat dimungkiri hal tersebut merupakan fokus utama seorang dokter patologi klinik, seperti yang dilakukan oleh dr. Nuri Dyah Indrasari, Sp.PK(K), staf pengajar Departemen Patologi Klinik FKUI sekaligus staf medis RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM). Meskipun demikian, dalam proses pengabdiannya di daerah terdepan dan terlanda bencana, perannya sebagai dokter patologi klinik tidak terbatas pada analisis laboratorium.

Persiapan yang Matang

Keputusan Nuri untuk menempuh pendidikan dokter spesialis muncul setelah menyelesaikan program PTT (pegawai tidak tetap) di Kalimantan Selatan. Ia mendapatkan amanah untuk membawahi empat belas kecamatan karena fasilitas yang terbatas. Sebagai seorang dokter umum pada waktu itu, wanita kelahiran tahun 1970 ini merasakan bahwa ilmu yang didapatkan masih  belum cukup.

Mempertimbangkan kondisi keluarga, pengalaman dari para senior, dan kesempatan beasiswa yang ada, wanita yang kini berusia 52 tahun tersebut kemudian memutuskan untuk menekuni spesialisasi patologi klinik (PK). Awalnya, Nuri merasa sedikit bimbang. “Ketika saya kuliah S1 dahulu, praktik patologi klinik adalah salah satu praktik yang paling menyeramkan. Tetapi ternyata dunia patologi klinik pada saat kuliah berbeda dengan saat kerja (sebagai dokter PK). Ilmu yang didalami lebih luas,” ujarnya.

Memasuki masa program pendidikan dokter spesialis (PPDS) PK, ketua laboratorium terpadu RSCM ini mengungkapkan bahwa banyak ilmu yang harus ia kejar akibat kesibukan dan keterbatasan informasi selama menjalani PTT. Ketertinggalan ilmu tersebut Nuri kejar dengan mengikuti berbagai kursus, mulai dari data proccessing, bahasa Inggris, hingga berbagai aspek penelitian laboratorium. Setelah selesai menjalani PPDS selama lima tahun, ia pun mulai membaktikan diri sesuai dengan kebutuhan Kementerian Kesehatan RI yang telah memberikan beasiswa.

Masa Pengabdian

Pengabdian Nuri dimulai di Kabupaten Natuna, Provinsi Riau. Akibat keterbatasan kemampuan analis laboratorium, pemeriksaan darah seperti hemostasis tidak dapat dilakukan. Pelaksanaan operasi juga menjadi ragu untuk dikerjakan oleh dokter. Tantangan lain yang harus dihadapi adalah banyak penyakit rujukan yang berisiko tinggi karena pasien harus diterbangkan terlebih dahulu ke Jakarta. Selain itu, transfusi darah merupakan salah satu kesulitan utama karena jumlah penduduk yang sedikit dan belum terdata dengan baik.

Situasi saat itu tentu tidaklah tanpa harapan. Nuri berinisiatif untuk merevitalisasi laboratorium dengan peralatan serta reagen yang sebelumnya terbengkalai. Bersama dengan pemimpin daerah setempat, Nuri juga menginisiasi pendataan status kesehatan dan golongan darah warga untuk membentuk sistem donor darah. Buah dari sistem ini adalah stok darah yang membantu operasi maupun kebutuhan transfusi darah untuk beberapa penyakit, salah satunya thalasemia. Dengan kemampuan yang didapatkan selama pendidikannya, ia juga mampu melaksanakan pemeriksaan-pemeriksaan penunjang untuk melakukan berbagai tindakan medis dan menegakkan diagnosis.

Setelah pengabdian di Natuna selesai, Nuri berpindah ke Aceh Singkil. Tsunami yang belum lama melanda daerah tersebut mengakibatkan rusaknya berbagai fasilitas kesehatan sehingga Nuri pun harus bertugas di tempat-tempat darurat. Di sana, ia mulai mendirikan fasilitas Medical Check Up (MCU) untuk para pekerja sawit. Sebelumnya, para pekerja sawit harus menempuh perjalanan selama 8 jam hanya untuk melakukan MCU di Medan. Peran dalam pemeriksaan laboratorium pun tetap Nuri jalani bersama para analis. “Tugas seorang dokter patologi klinik adalah untuk menjadi jembatan antara aspek klinis dari dokter dengan analis di laboratorium. Tidak jarang analis merasa bingung karena dokter maunya banyak. Di sinilah peran saya untuk memberikan pemahaman ke analis serta menginterpretasi hasil pemeriksaan itu ke dokter maupun bidan,” ucapnya.

Meski masa pendidikannya selesai, Nuri masih memiliki semangat tinggi dan merasa perlu untuk senantiasa belajar. Pemeriksaan sperma dan infertilitas yang lebih berada dalam ranah biologi tetap ia gali. Hal ini Nuri lakukan demi membantu bidan dalam menjelaskan permasalahan terkait sulitnya memiliki anak yang dialami oleh keluarga-keluarga di sekitar fasilitas kesehatan tempatnya bekerja.

Seusai menjalankan pengabdiannya, dokter kelahiran Sragen ini mendaftarkan diri ke RSCM sebagai staf. Pengalaman selama mengabdi menyadarkan Nuri akan urgensi dokter spesialis patologi klinik. Kendati termasuk spesialis minor, ilmu dan keahlian seorang dokter patologi klinik dibutuhkan untuk berbagai kepentingan, termasuk menopang kerja para dokter spesialis mayor. Kegiatan mengajar yang telah Nuri lakukan sejak masa-masa praktiknya juga merupakan salah satu aktivitas yang ia nikmati . Hal inilah yang membuat kesibukannya mengajar di FKUI tidak menjadi beban.

Pesan untuk Para Calon Dokter

Nuri berharap calon-calon dokter masa depan, baik yang akan menggeluti profesi yang serupa dengannya atau fokus di bidang lain  selalu belajar dan tidak puas dalam mencari ilmu. Persiapkan secara matang spesialis apa yang akan diambil tidak hanya menilai ketertarikan sebuat topik spesialisasi hanyadari praktikum atau diskusi singkat yang  dijalani selama kuliah. Terakhir,  mahasiswa perlu selalu siap menggantikan posisi kepemimpinan para senior. Ia juga tidak lupa mengingatkan para alumni untuk kembali bersekolah ataupun mengajar di FKUI.

 

Penulis: Yosafat Sebastian Prayogo
Editor: Izzati Diyanah

Share your thoughts