Sel Dendritik sebagai Vaksin Covid-19

Berbeda dengan vaksin yang telah beredar, bagaimana cara kerja vaksin Covid-19 berbasis sel dendritik?

vaksin sel dendritik

Perkembangan vaksin Covid-19 tengah mendapatkan perhatian besar dari masyarakat Indonesia. Sampai saat ini, sudah ada lima jenis vaksin Covid-19 yang resmi beredar, yaitu Sinovac, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, dan Pfizer. Di antara perkembangan tersebut, inovasi vaksin berbasis sel dendritik pun ikut mendapat sorotan. Vaksin Nusantara, nama dagang vaksin sel dendritik di Indonesia, memiliki cara kerja yang berbeda dengan vaksin lainnya. Meskipun begitu, perbedaan inilah yang menjadi daya tarik di mata para ahli dan masyarakat.

Sel dendritik merupakan sel imun bawaan yang dapat memicu imunitas adaptif dengan menampilkan antigen kepada sel T. Dalam menampilkan antigen, sel dendritik menggunakan Major Histocompatibility Complex (MHC), yang dibantu dengan molekul kostimulatori CD80-CD86. Selanjutnya, terbentuklah sel imunitas adaptif yang akan berdiferensiasi menjadi sel sitotoksik sehingga dapat melawan infeksi.

Ide untuk menggunakan sel dendritik sebagai imunoterapi didasarkan pada tujuannya untuk menghasilkan sel imun adaptif yang spesifik terhadap antigen. Vaksin berbasis sel dendritik diketahui aman dan dapat mengaktivasi sel T CD4 dan CD8. Tingginya potensi terapi vaksin ini dipengaruhi oleh kemampuan sel dendritik yang dapat menghasilkan sitokin dan kemokin, serta dapat bermigrasi ke jaringan limfoid dan nonlimfoid. Meskipun awalnya dikembangkan untuk penderita kanker sebagai imunoterapi, sel dendritik juga dianggap memiliki potensi melawan SARS-CoV-2.

Pada kanker, proses pembuatan imunoterapi dengan sel dendritik diawali dengan mengambil sel ini atau monosit dari darah tepi pasien. Sel dendritik tersebut akan diberikan antigen spesifik sehingga mengalami pematangan, sedangkan monosit harus melalui diferensiasi menjadi sel dendritik kemudian dipaparkan terhadap antigen. Sel dendritik matur akan menampilkan antigen pada MHC dan meningkatkan produksi sitokin. Setelah itu, sel dendritik akan disuntikkan kembali kepada pasien.

Mengingat cara produksinya yang menggunakan darah per individu, vaksin berbasis sel dendritik ini bersifat autolog atau individual. Sifat tersebut membuat vaksin ini lebih mudah menyesuaikan dengan kondisi tubuh pasien sehingga dikatakan lebih aman bagi pasien lanjut usia dan dengan komorbid. Meskipun demikian, sifat tersebut membuat vaksin sel dendritik tidak dapat diproduksi dalam jumlah besar. Produksi vaksin ini juga terbilang membutuhkan biaya yang tidak murah. Oleh karena itu, beberapa ahli berpendapat bahwa vaksin ini kurang cocok digunakan untuk menangani pandemi Covid-19.

Hingga saat ini, terdapat dua uji klinis yang menggunakan vaksin berbasis sel dendritik untuk melawan Covid-19. Salah satunya adalah Vaksin Nusantara yang diteliti oleh Aivita Biomedical, Inc dari Amerika Serikat dan diestimasikan akan selesai pada tahun 2023. Uji klinis kedua dilakukan di China menggunakan vektor lentiviral untuk memodifikasi sinyal kostimulatori sel dendritik dan meningkatkan efikasi vaksin. Namun, uji ini diperkirakan baru akan selesai pada tahun 2024. Karena itulah, vaksin sel dendritik belum banyak digunakan dalam penanganan Covid-19.

Vaksin berbasis sel dendritik merupakan salah satu inovasi yang dikembangkan untuk menangani pandemi Covid-19. Perannya yang cukup sukses sebagai imunoterapi kanker membuat sel dendritik diharapkan bisa menjadi pilihan sebagai vaksin Covid-19, terutama pada kelompok masyarakat lanjut usia dan dengan komorbid. Meskipun demikian, perlu dipertimbangkan bahwa vaksin ini tidak dapat diproduksi secara massal dan membutuhkan biaya besar.

Referensi

  1. Van Willigen WW, Bloemendal M, Gerritsen WR, Schreibelt G, de Vries IJM, Bol KF. Dendritic cell cancer therapy: vaccinating the right patient at the right time. Front Immunol. 2018 Oct 01; : DOI: 10.3389/fimmu.2018.02265.
  2. Galati D, Zanotta S, Capitelli L, Bocchino M. A bird’s eye view on the role of dendritic cells in SARS-CoV-2 infection: perspectives for immune-based vaccines. Allergy. 2021;00:1-11. DOI: 10.1111/all.15004.
  3. Phase I-II trial of dendritic cell vaccine to prevent Covid-19 in adults. USA; Clinicaltrials.gov: 2020 May 13 [Updated 2021 Aug 24; Cited 2021 Sep 20]. Available from: https://clinicaltrials.gov/ct2/show/NCT04386252.
  4. Immunity and safety of Covid-19 synthetic minigene vaccine. USA: Clinicaltrials.gov; 2020 Feb 19 [Updated 2020 Mar 19; Cited 2021 Sep 20]. Available from: https://clinicaltrials.gov/ct2/show/NCT04276896.
  5. Milone MC, O’Doherty U. Clinical use of lentiviral vectors. Leukemia. 2018;32:1529-41. DOI: 10.1038/s41375-018-0106-0.

Penulis: Nada Irza Salsabila
Editor: Izzati Diyanah

Share your thoughts

Yuk berlangganan SKMA!

Anda akan memperoleh berita dan artikel terkini mengenai isu, perkembangan, dan tips-tips seputar kedokteran dan kesehatan.

Klik link berikut untuk berlangganan SKMA digital!

http://linktr.ee/medaesculapius