Cekatan Hadapi Gagal Jantung Akut

Furosemid kerap disebut sebagai landasan penanganan gagal jantung akut. Namun, apakah furosemid dapat menyelesaikan segalanya?

penanganan gagal jantung furosemid

Gagal jantung adalah sindrom klinis kompleks yang didasari oleh ketidakmampuan jantung untuk memompa darah secara adekuat ke seluruh tubuh akibat gangguan struktural maupun fungsional pada jantung. Jika gagal jantung timbul atau memberat secara cepat, keadaan ini disebut gagal jantung akut. Angka kesintasan pasien gagal jantung hanya sekitar 50—55% dalam 5 tahun sehingga tergolong mematikan.

Pada prinsipnya, tata laksana gagal jantung akut tergantung pada profil hemodinamik pasien, yaitu ada/tidak ada kongesti (basah/kering) dan ada/tidak ada hipoperfusi jaringan (dingin/hangat). Berdasarkan status kongesti dan perfusi ini, pasien dibagi menjadi empat profil hemodinamik yaitu basah-hangat, basah-dingin, kering-hangat, dan kering-dingin.

Profil hemodinamik gagal jantung akut yang paling sering dijumpai adalah basah-hangat. Pada pasien ini, perlu diperhatikan apakah klinis pasien didominasi oleh hipertensi atau kongesti. Jika klinis didominasi oleh hipertensi, pemberian vasodilator intravena (IV), seperti nitrogliserin, diutamakan. Nitrogliserin dapat diberikan sebanyak 10—20 µg/menit dan dititrasi tiap 10—20 menit hingga 200 µg/menit. Sementara pada klinis dominan kongesti, utamakan pemberian loop-diuretic IV, yaitu furosemid 20—40 mg secara bolus atau 1—2 kali dosis oral jika sebelumnya pernah menerima furosemid oral.

Penanganan dilanjutkan dengan mengevaluasi urine output (UO) pasien setelah 6 jam. Jika UO mencapai 100—150 ml/jam, dosis furosemid dilanjutkan setiap 12 jam hingga dekongesti sempurna. Dosis dinaikkan dua kali lipat jika UO belum mencapai 100 ml/jam, kemudian evaluasi ulang setelah 6 jam.  Kombinasi furosemid dengan diuretik lain dapat dipertimbangkan saat respons belum optimal pada pemberian dosis maksimum. Pada klinis dominan kongesti, nitrogliserin IV dapat diberikan dengan dosis minimal untuk membantu menurunkan preload & afterload sehingga mempercepat perbaikan gejala.

Tata laksana pasien dengan profil basah-dingin cukup menantang mengingat tingkat mortalitasnya paling tinggi. Jika tekanan darah sistolik (TDS) pasien lebih dari 90 mmHg, pemberian nitrogliserin IV dan furosemid IV sudah cukup dengan mempertimbangkan inotrop pada kasus refrakter. Jika TDS kurang dari 90 mmHg, koreksi hiporperfusi didahulukan dengan pemberian inotrop IV (dobutamin 2—20 µg/kgBB/menit). Diuretik dapat diberikan setelah perbaikan perfusi. Jika pasien belum membaik, pertimbangkan pemberian norepinefrin sebanyak 0,2—1 µg/kgBB/menit untuk meningkatkan tekanan darah dan perfusi organ vital.

Pasien gagal jantung akut dengan profil kering-dingin membutuhkan pendekatan yang berbeda. Pada pasien dengan hipovolemia dan hipoperfusi ini, lakukan fluid challenge dengan cara memberikan cairan kristaloid 250—500 ml dalam waktu 15 menit. Jika hipoperfusi belum terkoreksi, dapat diberikan inotrop. Terakhir, pasien dengan profil kering-hangat pada dasarnya hanya membutuhkan pengaturan dosis terapi oral sebelumnya, misalnya meningkatkan dosis diuretik.

Gagal jantung akut membutuhkan penanganan yang akut juga. Tidak semua pasien gagal jantung akut memerlukan obat diuretik maupun inotrop. Mortalitas gagal jantung akut niscaya dapat ditekan dengan memberikan terapi yang tepat pada profil hemodinamik pasien tepat. 

Referensi

  1. Manurung D, Muhadi. Gagal jantung akut. In: Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, K. MS, Setiyohadi B, Syam AF, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 6th ed. Jakarta Pusat: InternaPublishing; 2014. p. 1136–47.
  2. Mamas MA, Sperrin M, Watson MC, Coutts A, Wilde K, Burton C, et al. Do patients have worse outcomes in heart failure than in cancer? A primarycare-based cohort study with 10-year follow-up in Scotland. Eur J Heart Fail. 2017 Sep;19(9):1095–104. Available from: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1002/ejhf.822.
  3. McDonagh TA, Metra M, Adamo M, Gardner RS, Baumbach A, Böhm M, et al. 2021 ESC Guidelines for the diagnosis and treatment of acute and chronic heartfailure. Eur Heart J. 2021 Aug;
  4. Hersunarti N, Siswanto BB, Erwinanto, Nauli SE, Lubis AC, Wiryawan N, et al. Pedoman tatalaksana gagal jantung. 2nd ed. Siswanto BB, editor. Jakarta: Kelompok Kerja Gagal Jantung dan Kardiometabolik Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia; 2020.

Penulis: Hendra Gusmawan
Editor: Kareen Tayuwijaya

Share your thoughts