Stroke: Cegah Sebelum Terlambat

Kenali cara efektif untuk mengurangi angka kematian akibat stroke

mengurangi angka kematian stroke

Stroke merupakan penyakit tidak menular (PTM) yang disebabkan oleh kurangnya asupan oksigen ke otak akibat tersumbat atau pecahnya pembuluh darah di otak. Penyakit ini umumnya terjadi secara mendadak dan ditandai dengan gejala berupa kelumpuhan pada seluruh atau sebagian anggota tubuh, bicara tidak lancar atau tidak jelas (pelo), gangguan penglihatan, dan lain-lain. Gejala-gejala tersebut dapat muncul karena stroke menimbulkan gangguan fungsi saraf.

Secara global, stroke masih menjadi salah satu tantangan besar di bidang kesehatan.

Menurut laporan WHO, penyakit ini menempati posisi tiga besar dalam daftar penyebab kematian terbanyak di dunia. Dengan prevalensi mortalitas yang cukup tinggi, yakni sebesar sebelas persen, stroke juga bertanggung jawab atas kematian lebih dari enam juta orang di dunia pada tahun 2019 dan menempati urutan ketiga penyebab kecacatan tertinggi di dunia. Sayangnya, tren kejadiannya tak pernah menurun. Prevalensi stroke di negara dengan pendapatan per kapita menengah ke bawah bahkan telah meningkat lebih dari dua kali lipat selama empat dekade terakhir.

Hal selaras juga turut disaksikan di Indonesia. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) RI melaporkan adanya peningkatan prevalensi penyakit stroke dari 3,9 persen per mil pada tahun 2013 menjadi 10,9 persen pada tahun 2018. Prevalensi tertinggi diamati di Provinsi Kalimantan Timur, yakni sebesar 14,7 persen per mil. Data tersebut juga memperlihatkan bahwa lebih dari lima puluh persen pengidap stroke masih berada dalam rentang usia produktif, yakni 15—64 tahun. Hal tersebut berimbas pada penurunan populasi produktif negara. Belum lagi, menilik manifestasi klinis yang seringkali dialami, besar kemungkinan pengidap stroke akan sulit kembali bekerja seperti biasa. 

Selain menurunkan produktivitas, biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk terapi stroke juga tidak sedikit. Menurut BPJS Kesehatan, biaya pelayanan kesehatan untuk pengidap stroke telah menghabiskan 1,43 triliun rupiah pada tahun 2016 dan meningkat hingga 2,56 triliun rupiah pada tahun 2018. Dengan besarnya biaya yang digelontorkan, Kemenkes RI pun kian menggencarkan upaya promotif dan preventif untuk mengatasi stroke.

Pengontrolan faktor risiko stroke, yaitu hipertensi, hiperlidemia, dan gaya hidup yang tidak sehat, terbukti efektif dalam mengurangi angka kematian. Oleh karena itu, upaya pertama yang dilakukan Kemenkes RI adalah upaya promotif berupa kampanye mengenai perilaku gaya hidup sehat yang dirangkum dalam akronim CERDIK, yakni (1) Cek kesehatan secara berkala, (2) Enyahkan asap rokok. (3) Rajin beraktivitas fisik, (4) Diet sehat dengan kalori seimbang, (5) Istirahat cukup, dan (5) Kelola stres. 

Di samping itu, Kemenkes RI juga melakukan upaya preventif dengan meningkatkan edukasi masyarakat terkait stroke dan mendorong masyarakat agar selalu waspada dengan gejala-gejala stroke. Kemenkes juga menganjurkan pemeriksaan tekanan darah dan kolesterol rutin, minimal satu kali dalam setahun di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat atau sebulan sekali jika memiliki faktor risiko PTM seperti adanya penyakit keturunan di keluarga. Upaya lainnya adalah aspek kuratif dengan cara memperkuat fasilitas dan pelayanan kesehatan di Indonesia serta rehabilitatif untuk mencegah terjadinya serangan ulang. 

Penting diingat bahwa stroke adalah penyakit progresif yang dapat terjadi secara tiba-tiba kepada siapa saja dengan dampak jangka panjang yang sangat merugikan. Mengingat begitu besarnya waktu dan  biaya yang diperlukan untuk penanganan stroke, pencegahan adalah pilihan paling utama yang sebaiknya terus digencarkan oleh pemerintah, petugas kesehatan, maupun khalayak umum

Referensi:

  1. Johnson W, Onuma O, Owolabi M, Sachdev S. Stroke: A global response is needed [Internet]. Vol. 94, Bulletin of the World Health Organization. World Health Organization; 2016 [cited 2021 Feb 21]. p. 634A-635A. Available from: http://www.who.int/bulletin/volumes/94/9/16-181636/en/
  2. The top 10 causes of death [Internet]. [cited 2021 Feb 21]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/the-top-10-causes-of-death
  3. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset kesehatan dasar riskesdas 2013 [Internet]. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2013. Available from: http://labdata.litbang.kemkes.go.id/images/download/laporan/RKD/2013/Laporan_riskesdas_2013_final.pdf
  4. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Laporan_Nasional_RKD2018_FINAL.pdf [Internet]. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2018. p. 198. Available from: http://labdata.litbang.kemkes.go.id/images/download/laporan/RKD/2018/Laporan_Nasional_RKD2018_FINAL.pdf
  5. Hari Stroke Sedunia 2019: Otak Sehat, SDM Unggul – Direktorat P2PTM [Internet]. [cited 2021 Feb 21]. Available from: http://www.p2ptm.kemkes.go.id/artikel-sehat/hari-stroke-sedunia-2019-otak-sehat-sdm-unggul

Penulis: Raisa Amany
Editor: Izzati Diyanah

Share your thoughts