Stroke Hemoragik

Definisi dan Informasi Umum

Stroke merupakan kondisi neurologis yang menimbulkan suatu defisit neurologis yang terfokus pada suatu bagian (fokal) secara mendadak.1 Apabila dibandingkan dengan seluruh penyakit neurologi yang terjadi pada orang dewasa, stroke menempati urutan pertama dalam hal frekuensi kejadian. Menurut penyebabnya, stroke dapat dikategorikan menjadi stroke iskemik (suplai darah tidak memadai) dan stroke hemoragik (perdarahan).1

Insidensi stroke hemoragik akibat perdarahan intraserebral (otak besar) meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Kejadian stroke hemoragik memiliki prevalensi tertinggi pada negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, seperti Afrika, Asia Tengah, dan Asia Tenggara.2

Sinonim: perdarahan intraserebral

Tanda dan Gejala

Pasien dengan stroke hemoragik dapat mengeluhkan gejala-gejala berupa nyeri kepala yang bersifat akut, mual muntah, depresi, kejang, defisit neurologis fokal, dan penurunan kesadaran. Defisit neurologis fokal yang dapat terjadi antara lain kelemahan sebelah tubuh tiba-tiba, gangguan penglihatan, dan gangguan berbicara.3

Muntah merupakan suatu gejala yang lebih sering terjadi pada pasien dengan stroke hemoragik dibandingkan dengan stroke iskemik. Gejala lain yang juga kerap ditemukan pada kasus stroke hemoragik adalah hipertensi reaktif akut, terutama pada kasus perdarahan sedang dan berat.1

Etiologi dan Patogenesis

Stroke hemoragik dapat terjadi apabila terdapat perdarahan di dalam otak (disebut perdarahan intraserebral) atau perdarahan pada ruang subaraknoid.1 Perdarahan intraserebral dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, antara lain hipertensi kronik, gangguan pembekuan darah (coagulopathy), malformasi pembuluh darah otak, dan trauma kepala. Kondisi-kondisi tersebut dapat menyebabkan ruptur pembuluh darah.5

Hipertensi yang berlangsung kronik dapat merusak dinding pembuluh darah melalui penambahan jumlah sel otot polos dan nekrosis. Sebagai ganti sel-sel nekrosis (mati) tersebut, dinding pembuluh darah akan diisi kolagen yang bersifat kaku. Hal ini menyebabkan pembuluh darah rentan untuk mengalami kerusakan. Arteriola pada individu dengan hipertensi kronik juga dapat membentuk aneurisma Charcot-Bouchard. Dinding aneurisma ini bersifat lemah dan tipis sehingga rentan untuk mengalami ruptur apabila diberi tekanan.3

Patofisiologi

Defisit neurologis pada stroke hemoragik akibat perdarahan intraserebral dapat berlangsung secara progresif dalam kurun waktu menit hingga jam.1

Pada empat jam pertama setelah terjadinya perdarahan intraserebral, sel neuron dan sel glia akan mengalami disrupsi akibat iskemia. Pada saat yang sama, fungsi mitokondria juga akan mengalami gangguan sehingga akan memengaruhi metabolisme sel. Sementara itu, dalam waktu empat jam hingga tujuh hari setelah kejadian, sawar darah otak akan mengalami gangguan sehingga akan terjadi edema dan apoptosis.4

Diagnosis

Riwayat dan pemeriksaan fisik

Kecurigaan terhadap stroke hemoragik dapat dilakukan dengan melihat gejala klinisnya. Perbedaan antara stroke hemoragik dengan stroke iskemik yang paling utama adalah stroke hemoragik umumnya menimbulkan gejala berupa sakit kepala dan muntah, serta berprogresi dengan cepat menuju koma.1 Namun, penegakan diagnosis tetap dilakukan dengan melihat hasil radiologi.7

Membedakan diagnosis stroke iskemik dan stroke hemoragik juga dapat dilakukan menggunakan Siriraj Stroke Score.8 Nilai >1 mengindikasikan bahwa stroke yang dialami pasien adalah stroke iskemik, sementara nilai <–1 mengindikasikan stroke hemoragik. Meskipun sederhana dan mudah, penggunaan Siriraj Stroke Skore dinilai kurang akurat.9

stroke hemoragik
Gambar 1. Algoritma Siriraj Stroke Score. Sumber:8

Anamnesis juga dibutuhkan untuk mengetahui riwayat penggunaan obat antikoagulan dan antiplatelet, obat-obatan antihipertensi, agen stimulan termasuk pil diet, serta obat-obat yang mekanisme kerjanya serupa dengan sistem saraf simpatis. Selain itu, diperlukan juga informasi mengenai kondisi pasien yang menjadi faktor risiko stroke dan riwayat trauma.7

Penilaian terhadap status neurologis pasien dapat dilakukan dengan menggunakan Skala Koma Glasgow (SKG) dan National Institutes of Heart Stroke Scale (NIHSS). SKG menilai respon visual, verbal, dan motorik setelah pasien diberi stimulus. Semakin rendah nilai SKG, maka pasien memiliki kondisi yang lebih parah. Serupa dengan SKG, NIHSS juga menilai respons visual, verbal, dan motorik pasien. Namun, nilai NIHSS yang tinggi menandakan bahwa pasien memiliki gejala yang lebih berat dan berisiko untuk mengalami komplikasi.7

Pencitraan

Pemeriksaan radiologi dibutuhkan untuk membedakan stroke iskemik dan stroke hemoragik. Metode CT Scan lebih disarankan untuk dilakukan pada kasus stroke hemoragik akibat perdarahan intraserebral.5,6 Pada hasil CT Scan, perdarahan tampak sebagai suatu area rusak berdensitas tinggi (hyperdense). Hasil tersebut juga dapat memperlihatkan ukuran dan lokasi area yang rusak tersebut sehingga membantu dokter dalam menentukan cara penanganan.6

stroke hemoragikGambar 2. Hasil CT Scan yang menunjukkan adanya perdarahan intraserebral. Sumber:10

Metode Magnetic Resonance Imaging (MRI) diindikasikan pada stroke hemoragik yang disebabkan oleh malformasi pembuluh darah dan tumor.6

Tata Laksana

Prinsip penanganan pasien dalam kasus stroke pada umumnya adalah pelayanan suportif. Pasien disarankan untuk menjaga tekanan darah sistoliknya dalam kisaran 140 mmHg. Apabila pasien memiliki tekanan darah sistolik >220 mmHg, pasien dapat diberikan infus berisi agen obat antihipertensi.5

Pembedahan diindikasikan pada pasien dengan kondisi-kondisi tertentu, terutama pada pasien dengan kondisi yang memburuk dan/atau perdarahan yang terjadi di sekitar serebelum (otak kecil). Kraniektomi (pembedahan tengkorak) dapat dilakukan pada pasien koma, perdarahan yang besar sehingga menggeser garis tengah otak (midline shift), serta tekanan intrakranial yang meningkat.5

Pencegahan terhadap stroke hemoragik dilakukan dengan menghindari faktor risiko yang bersifat modifiable, seperti menjaga tekanan darah dalam batas normal, tidak merokok, dan mengurangi konsumsi alkohol.3

Komplikasi dan Prognosis

Pasien dengan perdarahan intraserebral umumnya dapat pulih dalam beberapa minggu setelah dilakukan penanganan. Namun, frekuensi terjadinya komplikasi setelah kejadian stroke tetap tinggi.7 Berbagai komplikasi tersebut menyebabkan tingginya angka kematian pada stroke hemoragik.6

Komplikasi umumnya terlihat setelah 7 hari opname. Komplikasi neurologis yang dapat terjadi antara lain peningkatan tekanan intrakranial, perdarahan meluas, perdarahan dalam ventrikel otak, dan kejang. Komplikasi lainnya dapat berupa gagal ginjal akut, kejadian kardiovaskular, depresi, kesulitan menelan, peningkatan tekanan darah, perdarahan saluran pencernaan, malnutrisi, kekurangan natrium darah, edema paru, dan tromboembolisme.7

Reviewer: Filbert Liwang, S.Ked. (Maret 2020)

Referensi

  1. Ropper AH, Samuels MA, Klein JP, Prasad S. Adams and Victor’s principles of neurology. 11th ed. New York: McGraw-Hill; 2019. p. 798–873.
  2. An SJ, Kim TJ, Yoon BW. Epidemiology, risk factors, and clinical features of intracerebral hemorrhage: an update. J Stroke. 2017;19(1):3–10.
  3. Gross BA, Jankowitz BT, Friedlander RM. Cerebral intraparenchymal hemorrhage: a review. JAMA. 2019 Apr 2;321(13):1295–1303
  4. Schlunk F, Greenberg SM. The pathophysiology of intracerebral hemorrhage formation and expansion. Transl Stroke Res. 2015;6(4):257–63.
  5. Alerhand S, Lay C. Spontaneous intracerebral hemorrhage. Emerg Med Clin North Am. 2017 Nov;35(4):825–45
  6. Macdonald RL, Schweizer TA. Spontaneous subarachnoid haemorrhage. Lancet. 2017 Feb 11;389(10069):655–666
  7. Hemphill JC 3rd, Greenberg SM, Anderson CS, Becker K, Bendok BR, Cushman M, et al. Guidelines for the management of spontaneous intracerebral hemorrhage: a guideline for healthcare professionals from the American Heart Association/American Stroke Association. Stroke. 2015 Jul;46(7):2032–60.
  8. Poungvarin N, Viriyavejakul A, Komontri C. Siriraj Stroke Score and validation study to distinguish supratentorial intracerebral haemorrhage from infarction. BMJ. 1991;302(6792):1565–1567. doi:10.1136/bmj.302.6792.1565
  9. Hui AC, Wu B, Tang AS, Kay R. Lack of clinical utility of the Siriraj Stroke Score. Intern Med J. 2002 Jul;32(7):311-4.
  10. Osborn AG, Hedlund GL, Salzman KL. Osborn’s brain imaging, pathology, and anatomy. 2nd ed. Philadelphia: Elsevier; 2018. p. 117–37.
  11. Connolly ES Jr, Rabinstein AA, Carhuapoma JR, Derdeyn CP, Dion J, Higashida RT, et al. Guidelines for the management of aneurysmal subarachnoid hemorrhage: a guideline for healthcare professionals from the American Heart Association/American Stroke Association. Stroke. 2012 Jun;43(6):1711–37

Share your thoughts