Sukses Jalani Hobi di Tengah Kesibukan

Hobi menjadi tempat pelarian yang menarik di sela rutinitas harian

Berprofesi sebagai seorang dokter tidaklah mudah. Proses pendidikan yang panjang ditambah kesibukan yang cukup melelahkan sering kali mengundang perasaan jenuh. Salah satu cara untuk mengatasi situasi tersebut adalah dengan tetap melakukan hobi yang disenangi. Hal itulah yang tetap dilakukan oleh dr. Dwi Lestari Pramesti, SpA hingga kini. Dokter yang akrab disapa Mesty itu masih aktif menikmati hobinya di tengah rutinitas yang dijalani. Tak disangka, Mesty menggeluti sejumlah hobi yang bisa dibilang bertolak belakang dengan kesehariannya sebagai klinisi, yaitu menyelam, modelling, dan bermain musik.

Kegemaran bermusik Mesty sudah dipupuk sejak usia belia. Sejak usia empat tahun, Mesty sudah mulai senang menyentuh tuts piano. Seiring bertambahnya usia, Mesty mulai menguasai jenis alat musik lainnya, seperti flute, biola, dan harpa. Kecintaan Mesty pada musik berbuah manis ketika musisi kondang, Addie MS, mengundangnya untuk bergabung dengan Twilite Orchestra saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Menjadi bagian dari kelompok orkestra bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan. “Dreams do come true,” ungkap Mesty. Bahkan, saat masih mengenyam pendidikan di Fakultas Kedokteran, ia kembali mendapatkan kesempatan bermain harpa bersama Twilite Orchestra sebagai solois. Tak berhenti di situ, Mesty juga berhasil meraih gelar Merit dari Association Board of Royal School of Music (ABRSM). Ia juga pernah tampil memainkan harpa dalam konser amal yang diadakan oleh Indonesia Classical Music Foundation.

Meskipun telah berhasil menorehkan segudang prestasi dalam bermusik, Mesty menyadari bahwa performanya terus menurun. Tanggung jawab dan kesibukan yang kian bertambah berhasil menyita waktu Mesty dalam melatih kemampuan bermusiknya. Akibatnya, Mesty sering kali tak mampu memberikan performa terbaik pada beberapa penampilannya. Walaupun mungkin penonton tak menyadarinya, Mesty kerap merasa tidak puas dengan performanya. “Jika kamu tidak berlatih satu hari hanya dirimu yang tahu, jika kamu tidak berlatih tiga hari, rekan-rekan musisi akan tahu, namun jika kamu tidak berlatih seminggu maka publik akan tahu,” jelas Mesty. Hal tersebut membuat Mesty sadar bahwa sulit baginya untuk memiliki cukup waktu dalam meningkatkan kemampuan bermusik sekaligus menjadi seorang musisi profesional. Oleh karena itu, ia pun memutuskan untuk menjadikan musik sebatas hobi saja.

Mesty mengakui bahwa hobi yang dijalaninya kini membawa sejumlah nilai positif dalam hidupnya. Ia mendapatkan pelajaran untuk mampu menentukan komitmen. Selain itu, hobi juga menjadi salah satu cara bagi Mesty untuk “kabur” sesaat dari realita. Cukup 30 menit bermain musik setiap harinya, Mesty bisa mendapatkan energi lebih untuk kembali bekerja dan menjalani rutinitas hariannya. Berkat hobinya pula, Mesty lebih dikenal oleh banyak orang. Terbukti dari pengalaman Mesty hadir di sejumlah majalah sebagai model dan mengisi acara di sejumlah stasiun televisi nasional. Pencapaian tersebut dipandang Mesty sebagai sebuah keuntungan bagi kariernya sebagai seorang dokter. Jumlah pengikut Mesty yang cukup banyak di sosial media menjadi wadah edukasi tersendiri bagi masyarakat mengenai isu kesehatan. Menurutnya, edukasi masyarakat yang baik mampu mencegah terjadinya sejumlah masalah kesehatan. Meskipun demikian, ada kalanya Mesty merasa kesibukannya menguras terlalu banyak energi sehingga ia merasa lelah untuk melakukan kegemarannya. Mesty percaya bahwa perasaan lelah merupakan suatu hal yang sangat wajar. Selain itu, Mesty juga berpesan bahwa penting untuk jujur dan mengonfirmasi perasaan diri sendiri.

 

Penulis:
Chastine Harlim
Ryan Andika
Gabrielle Adani

Share your thoughts

Yuk berlangganan SKMA!

Anda akan memperoleh berita dan artikel terkini mengenai isu, perkembangan, dan tips-tips seputar kedokteran dan kesehatan.

Klik link berikut untuk berlangganan SKMA digital!

http://linktr.ee/medaesculapius