Perlukah Takut Kenaikkan Kadar Limfosit setelah Vaksin?

Beredar hoaks bahwa vaksin Covid-19 dapat meningkatkan kadar limfosit yang dapat mengancam jiwa, benarkah demikian?

Sudah satu tahun lebih sejak Covid-19 menjadi pandemi, selama itu pula banyak bermunculan hoaks mengenai Covid-19, baik mengenai penyakit Covid-19 itu sendiri, pengobatan Covid-19, dan yang terbaru, tentang vaksin Covid-19. Untuk meluruskan berbagai disinformasi, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika berupaya untuk menyorot beberapa hoaks yang tersebar. Salah satu contoh hoaks yang diangkat di  website Kominfo (kominfo.go.id) adalah mengenai beredarnya unggahan yang menyatakan vaksin Covid-19 dapat meningkatkan kadar limfosit. Kenaikan kadar limfosit ini, yang dalam dunia medis disebut limfositosis, dinilai dapat mengancam jiwa. 

Sebelum membahas terkait limfositosis, kita perlu memahami terlebih dahulu terkait vaksinasi. Vaksin bukanlah suatu hal baru. Vaksinasi sudah digunakan secara luas sebagai salah satu cara pencegahan penyakit menular dengan memperkuat kekebalan tubuh terhadap penyakit tertentu, seperti penyakit polio, tuberkulosis, hepatitis B, campak, dan lain-lain. 

Beberapa vaksin sangat memengaruhi kehidupan manusia, seperti vaksin cacar. Sebelum vaksin cacar ditemukan, 3 dari 10 pasien cacar akan meninggal. Namun, setelah vaksin ditemukan pada 1796, perlahan-lahan jumlah pasien cacar dan yang meninggal akibat cacar terus berkurang. Peran vaksinasi dalam menurunkan kasus cacar sangatlah efektif hingga akhirnya WHO (Organisasi Kesehatan Dunia)  mengumumkan bahwa dunia sudah terbebas dari cacar pada tahun 1980.

Lantas, bagaimana vaksin mampu mencegah terjadinya penyakit menular? Vaksin bekerja dengan cara mengenalkan tubuh orang yang sehat dan belum pernah terpapar kuman tertentu dengan antigen. Antigen adalah suatu komponen dari kuman penyebab penyakit tertentu yang spesifik terhadap kuman tersebut. Reaksi yang ditimbulkan oleh tubuh setelah vaksinasi adalah peningkatan jumlah limfosit, yaitu salah satu sel yang berperan dalam kekebalan tubuh, khususnya limfosit B. Limfosit B akan berubah menjadi sel plasma yang berfungsi untuk memproduksi antibodi. Antibodi ini yang akan membantu tubuh melawan kuman penyebab penyakit dengan cara menetralkan virus, mencegah bakteri berikatan terhadap permukaan tubuh, merusak dinding bakteri sehingga bakteri mati, atau melalui cara-cara lain. 

Oleh karena itu, peningkatan limfosit setelah pemberian vaksin covid-19 merupakan reaksi yang wajar agar vaksin dapat membantu tubuh melawan virus covid-19. Dosis vaksin Covid-19 sendiri telah diukur agar tidak menimbulkan lonjakan limfosit yang terlalu tinggi yang masih dalam batas wajar sehingga kabar bahwa vaksin memicu kenaikan limfosit hingga mencapai taraf yang dapat membahayakan nyawa adalah informasi yang salah.

Referensi:

  1. Centers for Disease Control and Prevention. Smallpox: history of smallpox. 2020: Cdc.go; Atlanta. Available from: https://www.cdc.gov/smallpox/history/history.html
  2. Ginglen JG, Doyle MQ. Immunization. [Updated 2021 Feb 16]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459331/

Penulis: Nur Zakiah Syahsah
Editor: Alexander Rafael Satyadharma

Share your thoughts