Sigap Menghadapi Serangan Asma pada Anak

Anak bengek, ibu panik; dokter jangan ikut panik! Mari intip kembali penanganan asma eksaserbasi akut pada anak.

serangan asma pada anak

Asma eksaserbasi akut, atau yang dikenal sebagai serangan asma, merupakan episode perburukan gejala-gejala asma yang terjadi secara progresif dan cepat. Serangan asma adalah kegawatdaruratan yang perlu segera ditangani.  Gejala-gejala asma yang dimaksud termasuk sensasi tertekan pada bagian dada, sesak napas, mengi, dan batuk. Terjadinya serangan asma merupakan penanda bahwa terapi kontrol asma pada pasien belum adekuat.

Langkah awal yang perlu dilakukan dalam tata laksana adalah menilai derajat serangan asma. Serangan asma dapat dibedakan menjadi serangan ringan-sedang, serangan berat, dan serangan dengan ancaman henti napas. Kriteria yang digunakan untuk menentukan derajat keparahan dari serangan asma ditentukan berdasarkan tanda dan gejala pada pasien.

Pasien dengan serangan asma ringan-sedang masih dapat berbicara dalam bentuk kalimat, tidak terlihat gelisah, lebih nyaman untuk berada dalam posisi duduk daripada posisi berbaring, retraksi terlihat minimal, dan volume ekspirasi puncak (VEP) >50% nilai prediksi. Sementara itu, pada pasien dengan asma serangan berat hanya mampu berbicara kata per kata, tampak gelisah, duduk bertopang lengannya, retraksi terlihat jelas, dan VEP <50% nilai prediksi. Terakhir, gejala pada pasien dengan serangan asma dengan ancaman henti napas mencakup gejala serangan asma berat ditambah dengan tampilan mengantuk, letargi, dan suara napas yang tidak terdengar.

            Apabila pasien mengalami serangan derajat ringan-sedang, berikan terapi awal. Jika saturasi oksigen pasien kurang dari 94%, dilakukan pemberian oksigen sebanyak 1—2 liter per menit. Setelah itu, berikan obat agonis β2 kerja pendek (SABA) dengan nebuliser atau metered dose inhaler (MDI). Nebulisasi dapat diulang hingga 3 kali setiap 20 menit. Pemilihan MDI disarankan pada pasien anak yang dapat berkoordinasi menggunakan MDI dengan baik, sedangkan nebuliser dapat digunakan pada pasien yang belum dapat menggunakan MDI dengan baik karena pasien cukup bernapas seperti biasa melalui nebuliser tanpa membutuhkan koordinasi yang agak rumit.

Obat-obatan golongan SABA yang dapat digunakan pada asma eksaserbasi akut adalah salbutamol, prokaterol, dan terbutalin. Obat diberikan dengan dosis paling rendah dan frekuensi paling kecil. Untuk nebulisasi ketiga, dapat dipertimbangkan pemberian kombinasi antara SABA dan ipratropium bromida (antagonis muskarinik kerja pendek). Saat terjadi serangan, dapat diberikan steroid sistemik seperti prednisolon sebanyak 1—2 mg/kgBB/hari dengan dosis maksimal 40 mg per oral.

Berbeda dengan pasien yang mengalami serangan asma berat, pasien harus dirawat di ruang rawat inap dan segera diberikan oksigen 2—4 liter per menit. Nebulisasi SABA dan ipratropium bromida juga dilaksanakan. Pasien juga diberikan prednisolon dengan dosis 1—2 mg/kgBB/hari dan sebaiknya diberikan secara parenteral. Apabila pasien memiliki kontraindikasi terhadap pemberian steroid secara intravena, obat dapat diberikan melalui inhalasi dosis tinggi. Jika pada pasien terdapat ancaman henti napas, pasien segera dirawat di ruang rawat intensif (ICU).

Serangan asma pada anak merupakan kondisi gawat darurat yang memerlukan penanganan segera. Morbiditas dan mortalitas akibat asma sangat dapat dicegah dengan tata laksana yang tepat dan cepat agar tidak terjadi hipoksemia berkepanjangan dan fungsi paru-paru pasien kembali pulih.

Referensi:

  1. Supriyatno B, Kartasasmita CB, Setyanto DB, Yani FF, Nataprawira HM, Setiawati L, et al. Pedoman Nasional Asma Anak. 2nd Jakarta: UKK Respirologi IDAI; 2016.

Penulis: Alessandrina Janisha Parinding
Editor: Kareen Tayuwijaya

Share your thoughts